blank
Seminar nasional tentang lingkungan digelar Program Pasca Sarjana (PPs) Unsiq Jateng di Wonosobo di Kampus I Kalibeber Mojotengah. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Direktur Program Pasca Sarjana (PPs) Universitas Sains Alquran (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo Dr H Ngarifin Shidiq, MPdI menegaskan pentingnya keterlibatan ulama secara aktif untuk menjaga kelestarian bumi.

“Kesadaran ekologis warga juga harus terus dibangun sejak dini. Ajaran Islam secara tegas melarang perusakan alam. Krisis ekologi timbul akibat keserakahan manusia dalam mengelola sumber daya,” katanya.

Dia mengatakan hal itu di sela-sela acara Seminar Nasional “Agama di Tengah Krisis Lingkungan : Peran Institusi Keagamaan di Indonesia” yang digelar di PPs Unsiq Jateng di Kampus I Kalibeber Mojotengah Wonosobo, Kamis (23/7/2026).

Seminar tersebut menghadirkan pembicara Mark Woodward, Farid Gaban (penulis buku Reset Indonesia), Zainal Abidin Baqir (dosen CRCS UGM Yogyakarta) dan Lutfan Muntaqo (dosen PPs Unsiq Jateng di Wonosobo).

Menurut Arifin, kerusakan alam itu akibat dari perilaku manusia sendiri. Peran tokoh agama dalam mengawal kelestarian alam sekitar sangat penting. Isu kerusakan alam saat ini sudah menjadi persoalan universal bagi seluruh dunia.

“Akademisi kampus perlu mengambil tindakan nyata secepatnya. Karena manusia sering menyalahgunakan wewenang demi keuntungan sesaat.
Padahal dalam konteks agama, kita juga yang berkewajiban untuk membenahinya,” tegas dia.

Selanjutnya, Arifin menambahkan catatan khusus terkait izin pengelolaan tambang ormas keagamaan. Kebijakan penambangan tersebut dinilai mempunyai dua dampak yang saling bertolak belakang.

“Sisi positif muncul jika pengelola menerapkan aturan perlindungan alam yang amat ketat. Namun, kegiatan penambangan menjadi haram jika merusak ekosistem dan lingkungan sekitar,” katanya.

Akademisi yang juga Rois Syuri’ah PCNU Wonosobo itu, mengutip kaidah fiqih dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih. penting sebagai pedoman utama seluruh umat. Artinya, menolak kerusakan harus selalu didahulukan daripada mengambil sebuah manfaat.

“Kita tidak boleh hanya berorientasi mengejar manfaat ekonomi semata. Maka sangat sayangkan sikap beberapa pihak yang mengabaikan dampak buruk bagi warga,” tutur dia.

Bahkan, lanjut Arifin, para ulama se-Jawa Tengah sebenarnya sudah berkomitmen sejak lama. Forum Bahtsul Masail di Wonosobo tahun 2007 silam telah memutuskan fatwa penting. Para ulama dan organisasi keagamaan harus punya kepedulian terhadap kondisi lingkungan dan alam yang semakin rusak.

Konsep Ekotelogi

blank
Seminar nasional tentang lingkungan digelar Program Pasca Sarjana (PPs) Unsiq Jateng di Wonosobo di Kampus I Kalibeber Mojotengah. Foto : SB/Muharno Zarka

“Para ulama menetapkan keputusan resmi bahwa hukum perusakan lingkungan adalah haram. Krisis lingkungan ini menjadi momentum berharga untuk dibahas bersama. Para ulama dan akademisi perlu kembali memimpin gerakan penyelamatan bumi, ” tandas dia.

Apalagi, saat ini, seperti bisa dilihat bersama kondisi lingkungan yang sudah rusak sangat membutuhkan aksi nyata penanganan penyelamatan kerusakan alam. Jika tidak ada upaya penyelamatan, bukan tidak mungkin kondisi alam semakin rusak parah.

Sementara itu, aktifis lingkungan Farid Gaban menyampaikan konsep ekonomi hijau di Indonesia berfokus pada keragaman hayati (biodiversity) sebagai modal utama pembangunan, menolak mitos bahwa pertumbuhan ekonomi harus merusak alam, serta mendorong kemandirian lokal yang berkelanjutan.

“Keragaman hayati sebagai kekayaan terbesar di Indonesia seperti hutan dan alam Indonesia perlu terus dijaga dan dilestarikan. Bukan sekadar lumbung kayu atau bahan tambang (seperti nikel dan emas), melainkan ekosistem kaya mikroorganisme, flora dan fauna yang nilainya jauh lebih besar harus dirawat,” gagasnya.

Farid secara tegas menentang kebijakan hilirisasi ugal-ugalan, proyek skala besar seperti food estate, dan undang-undang yang memudahkan investasi asing masuk dengan mengorbankan perlindungan lingkungan.

“Caranya ada gerakan ekonomi berbasis lokal dan pengetahuan. Mendorong model ekonomi kerakyatan yang memberdayakan petani serta produsen skala kecil di desa tanpa bergantung pada utang luar negeri atau korporasi raksasa,” ungkap dia.

Dosen SRCS UGM Yogyakarta, Zainal Abidin Baqir menyatakan di tengah berbagai upaya penyelamatan lingkungan dari berbagai kalangan, pendekatan berbasis nilai-nilai spiritual dan keagamaan mulai mendapat perhatian.

“Salah satu pendekatan tersebut adalah ekoteologi, yaitu integrasi antara kesadaran ekologis dan nilai-nilai keagamaan. Bahwa masalah pelestarian lingkungan merupakan pesan yang sudah tegas disampaikan dalam risalah keagamaan,” cetus dia.

Perlu ada penekan, kata Zainal, perihal pentingnya memandang alam bukan sekadar sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi, tetapi sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat.

Dikatakan, ekoteologi diartikan sebagai konsep yang membahas inter-relasi antara pandangan teologis-filosofis dalam ajaran agama dengan alam, khususnya lingkungan.

“Nilai-nilai cinta dan kepedulian terhadap lingkungan dan pelestarian alam perlu terus disuarakan ke publik. Kaum agamawan harus aktif melakukan kampanye penyelamatan alam merupakan bagian dari tanggungjawab bersama,” lontarnya.

Muharno Zarka