blank
Ilustrasi. Foto: Humas

BLORA (SUARABARU.ID) – Serangan hama tikus kembali menjadi ancaman bagi sektor pertanian di Kabupaten Blora. Hingga pertengahan 2026, sedikitnya 68 hektare lahan tanaman pangan yang terdiri atas padi dan jagung dilaporkan terdampak serangan hama tersebut.

Meski menyerang sejumlah wilayah sentra pertanian, Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora memastikan kondisi masih terkendali.

Melalui upaya pengendalian secara terpadu dan serentak, penyebaran hama tikus berhasil ditekan sehingga tidak berkembang menjadi serangan yang lebih luas.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Peternakan DP4 Kabupaten Blora, Sukandar, mengatakan serangan tikus pada tanaman padi terjadi sejak Mei hingga Juli 2026 dengan luas lahan terdampak mencapai sekitar 40 hektare.

“Serangan hama tikus pada tanaman padi memang terjadi di beberapa wilayah sejak Mei hingga Juli 2026. Berdasarkan pendataan, luas lahan yang terdampak sekitar 40 hektare, namun kondisinya masih dapat dikendalikan sehingga tidak meluas,” kata Sukandar, Jumat (24/07/2026).

Selain tanaman padi, hama tikus juga menyerang lahan jagung. Sukandar menyebut, berdasarkan hasil pemantauan selama Mei hingga Juni 2026, sekitar 28 hektare tanaman jagung mengalami dampak akibat serangan hama tersebut.

Dengan demikian, total luas lahan pertanian di Kabupaten Blora yang terdampak serangan tikus mencapai sekitar 68 hektare, terdiri dari 40 hektare tanaman padi dan 28 hektare tanaman jagung.

“Serangan tikus tidak hanya terjadi pada padi, tetapi juga menyasar tanaman jagung. Karena itu, pengendalian harus terus diperkuat agar populasi hama tidak kembali meningkat dan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi petani,” ujar Sukandar.

Menurut Sukandar, keberhasilan menekan serangan tikus tidak lepas dari keterlibatan berbagai pihak, mulai dari petani, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), hingga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Pengendalian dilakukan melalui gerakan bersama dengan pola terpadu agar populasi tikus dapat dikendalikan sejak awal.

Sukandar menjelaskan, pola pengendalian yang dilakukan secara serempak menjadi faktor penting dalam menekan perkembangan hama. Jika pengendalian hanya dilakukan secara parsial, populasi tikus berpotensi kembali meningkat dan menyerang tanaman di wilayah lain.

“Pengendalian hama tikus bisa berjalan efektif karena dilakukan bersama-sama. Petani, POPT, dan PPL bergerak secara serentak dengan menerapkan pengendalian terpadu, sehingga dampak serangan dapat diminimalkan,” ungkap Sukandar.

Meski kondisi saat ini masih terkendali, DP4 Kabupaten Blora mengingatkan petani agar tetap waspada, terutama menghadapi musim tanam berikutnya. Pengendalian sejak dini dinilai penting untuk mencegah ledakan populasi tikus yang dapat mengancam produktivitas pertanian.

DP4 Kabupaten Blora berharap koordinasi antara pemerintah daerah, petani, POPT, dan PPL terus diperkuat. Sinergi tersebut menjadi kunci menjaga produktivitas tanaman pangan sekaligus mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Blora.

“Kami terus mengimbau petani agar tidak lengah dan tetap melakukan pengendalian secara terpadu, serentak, serta berkelanjutan. Langkah ini penting agar populasi tikus dapat ditekan dan tidak mengganggu hasil produksi pada musim tanam berikutnya,” pungkas Sukandar.

El Nyunanto