Oleh : Natasya Dwi Febriani
Selama lebih dari dua dekade, Rofiq Prihanto mendedikasikan dirinya dalam dunia pendidikan sebagai guru Bahasa Prancis di MAN 1 Jepara. Dengan ketekunan dan dedikasinya, ia terus menjalankan peran sebagai pendidik sekaligus membagikan ilmu kepada generasi muda. Perjalanan Rofiq dalam dunia pendidikan juga tidak terlepas dari latar belakang keluarganya. Ia lahir dari pasangan yang sama-sama berprofesi sebagai guru, sehingga nilai-nilai pendidikan telah menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan keluarganya sejak kecil.
Rofiq Prihanto lahir dan tumbuh dalam keluarga yang sederhana dan penuh kehangatan. Ayahnya asli Jepara, sementara ibunya berasal dari Bantul, Yogyakarta. Sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara yang semuanya laki-laki, masa kecil Rofiq diisi dengan berbagai aktivitas sederhana yang menyenangkan seperti bermain layangan, mencari ikan dan jangkrik di sawah, serta bermain sepak bola bersama teman-temannya. Pengalaman masa kecil tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membentuk dirinya hingga kini.
Perjalanan pendidikan Rofiq Prihanto dimulai di SD Menganti. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Jepara dan kemudian SMA Negeri 1 Jepara. Ketertarikannya terhadap dunia bahasa membawanya untuk melanjutkan pendidikan tinggi pada program studi Pendidikan Bahasa Perancis di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tidak berhenti sampai di jenjang sarjana, Rofiq kemudian melanjutkan pendidikan magister pada program studi Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya pada tahun 2004, Rofiq mulai mengabdikan diri di dunia pendidikan dengan mengajar di MA Darul Hikmah Menganti. Pada awalnya, ia mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris dan menjalankan tugas tersebut hingga tahun 2012. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan kariernya sebagai seorang pendidik. Dari sana, Rofiq semakin mengenal dunia pendidikan dan memahami berbagai dinamika yang dihadapi seorang guru dalam mendampingi siswa.
Pada tahun 2005, MAN 1 Jepara yang pada saat itu masih dikenal sebagai MAN Bawu membuka kelas dengan jurusan Bahasa. Kesempatan tersebut mendorong Rofiq untuk mencoba melamar sebagai guru di madrasah tersebut. Ia kemudian diterima dan dipercaya untuk mengajar Bahasa Perancis. Sejak saat itu, Rofiq terus mengabdikan dirinya sebagai guru Bahasa Perancis di MAN 1 Jepara hingga sekarang. Perjalanan panjang tersebut menjadi bukti konsistensinya dalam menjalani profesi sebagai pendidik.
Keputusan Rofiq untuk memilih profesi guru didasari oleh kecintaannya terhadap komunikasi dan interaksi dengan siswa. Menurutnya, mengajar merupakan pengalaman yang mengasyikkan dan menyenangkan karena ia dapat berkomunikasi sekaligus berbagi ilmu dengan para siswa. Bagi Rofiq, guru bukan sekadar seseorang yang menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga seorang pendidik yang memiliki tugas untuk mendidik, membimbing, serta memberikan teladan kepada siswa dalam bersikap dan menjalani kehidupan.
Selama menjalani profesinya sebagai guru, Rofiq juga memiliki pengalaman yang tidak terlupakan. Salah satunya terjadi ketika pelaksanaan ujian nasional, saat seluruh siswa jurusan Bahasa memperoleh nilai Bahasa Prancis sekitar 2,2 hingga 2,6. Nilai tersebut membuat Rofiq merasa terkejut dan tertekan karena dianggap tidak memenuhi standar kelulusan.
Setelah ditelusuri, ternyata terjadi kesalahan dalam proses pemeriksaan. Pihak pemeriksa mengira bahwa bahasa asing yang diujikan di MAN 1 Jepara adalah Bahasa Arab sehingga menggunakan kunci jawaban Bahasa Arab. Setelah kesalahan tersebut diperbaiki dan jawaban diperiksa menggunakan kunci yang sesuai, seluruh siswa akhirnya dinyatakan lulus. Pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita berkesan dalam perjalanan Rofiq sebagai seorang guru.
Dedikasi Rofiq Prihanto dalam dunia pendidikan tidak hanya terlihat dari lamanya ia mengabdikan diri sebagai seorang guru, tetapi juga dari prinsip yang selalu ia pegang dalam mendidik siswa. Bagi Rofiq, siswa bukan sekadar penerima ilmu, melainkan partner atau teman dalam belajar. Ia meyakini bahwa seorang guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga terus belajar dari berbagai hal yang ditemuinya, termasuk dari para siswa.
Pandangan tersebut mencerminkan sosok Rofiq sebagai pendidik yang terbuka, komunikatif, dan mampu menempatkan dirinya sebagai seorang guru sekaligus pembelajar. Di luar dunia pendidikan, ia juga pernah meraih Juara I Bulutangkis tingkat Kabupaten dalam ajang antar-guru dalam rangka HAB Kementerian Agama Jepara pada tahun 2010.
Bagi Rofiq, menjadi guru berarti menjadi seorang pendidik yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik, membimbing, dan memberikan teladan dalam bersikap. Perjalanan panjangnya sebagai seorang guru menunjukkan bahwa pendidikan baginya bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian dan proses belajar yang terus berlangsung.
Ia berharap para siswa dapat tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan moral, serta senantiasa santun dalam berkata dan bergaul di tengah arus modernisasi, keterbukaan, dan budaya yang semakin berkembang. Pesan tersebut menjadi motivasi sekaligus refleksi dari prinsip yang ia pegang, bahwa seorang guru tidak hanya meninggalkan ilmu, tetapi juga berusaha menanamkan nilai dan keteladanan yang dapat menjadi bekal bagi siswanya dalam menjalani kehidupan.
Penulis Adalah Mahasiswa Prodi KPI Unisnu Jepara













