KOTA MUNGKID
(SUARABARU.ID) –
Sebanyak 200 pekerja dari berbagai sektor, perwakilan dari 21 Kecamatan, se- Kabupaten Magelang, mengikuti
sosialisasi Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, hari ini (Sabtu, 11 Juli 26). Acara yang digagas anggota Komisi IX DPR RI, Vita Ervina, tersebut dilaksanakan di Cafe Galan Living, Deyangan, Mertoyudan.
Pesertanya ada pedagang sayur, penebang kayu, Gojek, kuli bangunan, juga pengemudi sektor wisata. Di wilayah Kabupaten Magelang banyak objek wisata yang dilengkapi mobil jip dan VW. Pernah ada mobil di sebuah objek wisata yang mengalami kecelakaan. Dari kejadian tersebut muncul pemikiran pentingnya pekerja dilindungi BPJS Ketenagakerjaan.
Peserta sosialisasi hari ini langsung didaftarkan sebagai anggota BPJS Ketenagakerjaan oleh Vita Ervina. Mereka ditanggung biaya pendaftarannya sebesar Rp 8.400/orang. Adapun iuran bulanannya Rp 8.400/orang ditanggung peserta.
Vita Ervina, anggota Komisi IX DPR RI, dalam kesempatan tersebut mengingatkan bahwa
semua pekerjaan punya risiko kerja. Maka ketika bekerja harus tahu hak- haknya. Satu hari kerja pun harus ada perlindungan. Maka dia ingin peserta punya perlindungan diri.
Terkait hal itu para peserta gratis mendaftar BPJS Ketenagakerjaan Rp 8.400/orang ditanggung Vita. Kebetulan kali ini sedang ada diskon dari pihak BPJS. Biasanya Rp 16.800/orang. Iuran tiap bulan Rp 8.400/orang,
sampai Desember. Selanjutnya
menunggu peraturan pemerintah. Normalnya Rp 16.800/orang/bulan.
Menurut Vita, kenapa perlu menyadari pentingnya perlindungan diri sendiri. Karena risiko tidak ada yang tahu,
umur juga tidak ada yang tahu. Dia mengisahkan pernah ada pekerja bangunan yang tertimpa tembok dan meninggal dunia.
“Kalau terjadi seperti itu siapa yang menanggung. Jadi kalau di sini ada yang bekerja sebagai tukang bangunan, harus tahu hak-haknya,” katanya, mengingatkan.
Maka, dia mengingatkan
pentingnya ada BPJS. Kalau ada BPJS ada manfaatnya, atas risiko kerja. Dia tambahkan, siapa pun perlu perlindungan diri. Seperti ojek online di jalan. Ditandaskan bahwa dia ingin mendorong agar semua pekerja ikut BPJS Ketenagakerjaan.

“Untuk jaminan risiko kematian dan juga risiko kecelakaan,” imbuhnya.
Toh iuran bulannya lebih murah dari harga sebungkus rokok. Di sisi lain, kalau mengalami risiko pekerjaan bukan hanya diri pribadi yang dirugikan. Tapi juga pihak keluarga.
Dia berharap, setelah mengikuti acara tersebut peserta dapat memahami manfaat BPJS Ketenagakerjaan. “Saya ingin
menyampaikan bahwa yang ikut acara hari ini punya KTP semuanya. Semuanya akan saya daftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Pulang dari sini sudah aktif BPJS Ketenagakerjaannya,” katanya yang disambut gembira peserta.
Pemerintah Hadir
Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Magelang, Verry Khristoforus Boekan, dalam acara tersebut mengatakan bahwa pekerjaan non-formal itu kerjanya 24 jam. Seperti petani, tukang ojek, pedagang, itu kerjanya 24 jam. “Kalau tidak bekerja maka asap dapur tidak ngebul,” guraunya.
Lantas, apa manfaat ikut BPJS Ketenagakerjaan, menurut dia, supaya jika ada risiko kerja,
Pemerintah sudah hadir melindungi. Diakui, semua orang
tidak berharap risiko akan terjadi. “Tapi seandainya risiko itu terjadi, Pemerintah sudah hadir melindungi Bapak Ibu,” katanya.
Dia kisahkan, pernah ada petani di wilayah Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, mengalami kecelakaan kerja, saat mengoperasikan traktor di sawah. Kebetulan petani tersebut anggota BPJS. Maka, langsung dilayani di rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan.
“Kaki petani itu patah tersangkut traktor. Bayangkan kalau dia tidak ikut BPJS Ketenagakerjaan, siapa yang mau bayar biaya perawatannya di rumah sakit,” katanya.
Dia juga menceritakan, pernah terjadi risiko kerja. Korbannya dirawat selama 5,5 tahun. Biayanya sampai Rp 7,5 miliar. “Tapi karena orang tersebut ikut BPJS Ketenagakerjaan, dia dilindungi. Dibayar semuanya oleh BPJS Ketenagakerjaan,” jelasnya.
Padahal iurannya Rp 16.800/ bulan. Sekarang iurannya didiskon oleh pemerintah, Rp 8.400/orang/bulan. Bagi anggota yang sakit, gajinya juga dibayar Pemerintah.
Eko Priyono













