SEMARANG (SUARABARU.ID) – Dari ruang kerjanya di Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, Senin (30/3/2026), Dr. Muh Khamdan menyapa sepuluh peserta Pelatihan Dasar (Latsar) Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Pertanian melalui layar virtual. Meski berlangsung secara daring, suasana kelas terasa hidup dengan diskusi reflektif tentang nilai dasar ASN BerAKHLAK yang menjadi fondasi birokrasi modern Indonesia.
Sebagai widyaiswara Kementerian Hukum, Khamdan membuka sesi dengan mengingatkan pentingnya rujukan etik dalam kehidupan berbangsa. Ia menyoroti TAP MPR Nomor 6 Tahun 2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa sebagai pijakan moral bagi ASN dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pelayanan publik.
Dalam penjelasannya, Khamdan menekankan bahwa etika politik pemerintahan tidak hanya berhenti pada norma formal, tetapi harus terwujud dalam sikap nyata. ASN, menurutnya, dituntut memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat, serta keberanian moral untuk mundur apabila tidak lagi mampu memenuhi amanah publik.
“Pelayanan publik bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi panggilan etis. Ketika integritas terganggu, maka kepercayaan publik ikut runtuh,” ujar Khamdan dalam paparannya yang disimak serius oleh peserta.
Untuk memperdalam pemahaman, metode pembelajaran dikemas melalui penelusuran kasus berbasis benchmarking virtual. Peserta diminta menggali praktik terbaik (best practices) dari sejumlah institusi pada session sebelumnya, sekaligus merefleksikan nilai budaya organisasi dan kearifan lokal yang relevan untuk membangun budaya kerja harmonis.
Tiga lokus utama menjadi objek pembelajaran, yakni PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Petrokimia Gresik sebagai anak usaha PT Pupuk Indonesia, serta praktik internal di lingkungan Kementerian Pertanian. Ketiganya dipilih oleh para peserta yang terbagi dalam tiga kelompok, karena dinilai berhasil mengintegrasikan nilai profesionalisme, pelayanan, dan inovasi.
Elisa Hidayati Romadhoni, ASN muda Kementerian Pertanian asal Bojonegoro, Jawa Timur, memaparkan hasil kajian kelompoknya terkait transformasi layanan di PT KAI. Ia menilai keberhasilan KAI terletak pada kemampuannya menempatkan pelanggan sebagai pusat layanan, didukung oleh sistem digital yang transparan dan akuntabel.
“Pelayanan KAI menunjukkan bahwa penghargaan terhadap pelanggan dapat diwujudkan melalui inovasi digital yang memudahkan akses, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik,” ungkap Elisa, yang sebelumnya juga memiliki pengalaman magang di sektor pelayanan publik dan aktif menjadi pelanggan KAI.
Sementara itu, Rachmat Setio, peserta asal Sijunjung, Sumatera Barat, menyoroti praktik kolaboratif di PT Petrokimia Gresik melalui Program Makmur. Program ini dinilai mampu mengintegrasikan berbagai aspek pertanian, mulai dari akses permodalan, penyediaan pupuk non-subsidi, hingga jaminan pasar bagi petani.
Menurut Rachmat, pendekatan ekosistem dalam Program Makmur menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antar pihak dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus kesejahteraan petani. “Ini bukan hanya soal produksi, tetapi bagaimana membangun sistem yang berkelanjutan,” katanya.
Khamdan menutup sesi dengan menegaskan bahwa benchmarking virtual bukan sekadar metode belajar, melainkan strategi efektif untuk menginternalisasi nilai BerAKHLAK. Terlebih, sebagian peserta memiliki pengalaman langsung di lokus tersebut, sehingga proses refleksi menjadi lebih kontekstual.
Melalui pembelajaran ini, para ASN muda diharapkan tidak hanya memahami nilai secara konseptual, tetapi mampu mengimplementasikannya dalam praktik kerja sehari-hari. Di tengah tantangan sektor pertanian dan dinamika ekonomi kawasan, ASN BerAKHLAK menjadi kunci dalam menghadirkan pelayanan publik yang berintegritas, adaptif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Hadepe













