blank
Doa dan Pelepasan Kerbau Kirab oleh Wakil Bupati Ibnu Hajar bersama Bupati Jepara Wiriarso Utomo. Foto: Septi.

JEPARA (SUARABARU.ID) — Pagi sedikit gerimis mewarnai langit Tempat Pelelangan Ikan TPI Ujung Batu Jepara. Dimana disepanjang jalan telah berjejer para warga menunggu Kirab Kerbau yang dilaksanakan pada Jumat pagi 27 Maret 2026.

Acara dibuka dengan sambutan dari Bupati Jepara Witiarso Utomo. Tampak seekor Kerbau Bule besar di depan Pasar TPI tidak jauh dari sana. “Terimakasih telah ikut merayakan Pesta Tradisi Lomban, dan kali ini kerbaunya agak berbeda ya, ini kerbau bule,” ujar Mas Wiwit sapaan akrab Bupati Jepara di Tengah pidatonya.

blank
Bupati Jepara Witiarso Utomo saat sambutan. Foto: Septi.

Rangkaian acara selanjutnya yaitu pelepasan kerbau untuk dikirab yang dilaksananakan oleh Wakil Bupati Jepara M. Ibnu Hajar. Gus Hajar, sapaan akrab Wakil Bupati tampak memberikan doa dan melepas kerbau menuju ke Rumah Pemotongan Hewan RPH Rusunawa di daerah Jobokuto.

Kirab Kerbau sudah berlangsung setiap tahunnya sejak tahun 1920 saat Petinggi Ujung Batu H. Sidiq dan di tahun ini terlaksana hidmat dengan diantarkan seluruh jajaran Pemda dan Masyarakat Jepara.

Musik pengiring Kirab Kerbau 2026. Foto: Septi.

Suara musik tradisional Carang Pakang riuh berpadu mengantarkan kirab dengan rute TPI Jepara menuju Jembatan Cinta lalu ke arah sepanjang Jl Cik Lanang menuju ke Rumah Pemotongan Hewan RPH Rusunawa, Jobokuto, Jepara yang kurang lebih sejauh 1 kilometer.

Sementara sepanjang jalan, anak-anak tampak antusias melihat kerbau seberat 350 kg yang dihias unik beserta pengiringnya, orang dewasa mengabadikan momen dengan ponsel mereka. Alunan musik tradisional juga menambah semarak suasana kirab.

blank
Kirab Kerbau dari TPI Ujung Batu Jepara. Foto: Septi.

Kirab kerbau bukan sekadar tontonan, tetapi juga sarat makna simbolis. Dalam tradisi masyarakat Jepara, kerbau melambangkan kekuatan dan kesejahteraan, sekaligus menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur atas hasil laut dan bumi. Prosesi ini juga menjadi wujud kebersamaan warga dalam menjaga warisan budaya leluhur.

“Kirab ini bukan sekadar arak-arakan, tetapi juga simbol keterbukaan, bahwa kerbau yang akan dilarung adalah utuh, bukan hanya kepalanya. Ini sekaligus menjawab pemahaman yang berkembang di masyarakat serta menjaga nilai-nilai kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun,” terang Witiarso Utomo saat sesi wawancara.

Setelah terakhir digelar pada tahun 2019, Kirab Kerbau Pesta Lomban akhirnya kembali dilaksanakan pada tahun 2026. Hal ini menunjukkan bahwa semangat masyarakat Jepara dalam melestarikan budaya tidak pernah padam.

Pesta Lomban sendiri merupakan tradisi tahunan yang digelar sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, dengan berbagai rangkaian acara seperti larungan kepala kerbau ke laut, hiburan rakyat, hingga Festival Kupat Lepet yang akan dilaksanakan esok hari.

Dengan kemeriahan Kirab Kerbau ini, Kabupaten Jepara kembali menunjukkan kekayaan budaya lokal yang tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Septiana W.