
KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) – Budayawan yang domisilinya di sebelah utara Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Sucoro Setrodiharjo, hari ini (Rabu, 18/3/26) mengirimkan tulisan tentang kegelisahan hatinya.
“Borobudur dalam gerak jempol kita yang lebih cepat daripada detak jantung saat menyusuri linimasa, kita sering kali kehilangan kemampuan untuk hadir sepenuhnya. Borobudur, dengan ribuan panel reliefnya, sebenarnya adalah sebuah “buku besar” tentang kesadaran diri yang kini terancam tereduksi menjadi sekadar latar belakang estetik demi konten yang fana. Kesadaran diri dimulai ketika kita berhenti memandang Borobudur sebagai tumpukan andesit mati. Setiap tingkatan candi adalah metafora dari lapisan kesadaran manusia,” tulisnya.
Selanjutnya dia menyinggung tentang Kamadhatu. Kamadhatu adalah tingkat terendah dari tiga tingkatan kosmologi Buddha di Candi Borobudur, yang melambangkan alam dunia manusia yang masih terikat oleh nafsu, keinginan rendah, dan hukum sebab akibat (karma).
Menurut Sucoro, itu mewakili kondisi kita saat ini yang sering terikat pada validasi media sosial, konsumerisme, dan amarah. Relief di bagian bawah Candi Borobudur itu mengingatkan bahwa tanpa kesadaran, kita hanyalah budak dari keinginan kita sendiri.
Selebihnya dia ungkap
Rupadhatu (Dunia Bentuk). Menurutnya, tahapan dimana kita mulai mengenali diri, belajar menahan diri, namun masih terikat pada identitas dan ego.
Arupadhatu (Dunia Tanpa Bentuk), menurutnya puncak kesadaran. Ruang di mana narasi visual menghilang, menyisakan keheningan. Borobudur berbisik bahwa kebenaran sejati tidak ditemukan dalam riuhnya definisi, melainkan dalam kekosongan yang penuh makna.
Borobudur universalitas dalam keheningan, sambungnya,
membangun kesadaran diri melalui Borobudur. Berarti, jelasnya, belajar untuk mendengar di tengah kebisingan. “Meskipun berakar pada tradisi Buddha, pesan tentang penderitaan dan jalan keluar dari penderitaan adalah pengalaman universal manusia,” paparnya.
Disinggung pula, ketika seorang peziarah bersujud, seorang sejarawan meneliti, atau seorang wisatawan lokal duduk terdiam menatap matahari terbit, mereka sebenarnya sedang mencari hal yang sama: titik henti. “Di titik itulah, perbedaan keyakinan dan latar belakang melebur menjadi satu frekuensi kemanusiaan”.
Borobudur mengajarkan bahwa keberagaman bukanlah pemisah, melainkan spektrum warna yang membentuk satu cahaya putih kesadaran. Mengunjungi Borobudur dengan kesadaran penuh adalah sebuah laku spiritual. Itu bukan tentang seberapa banyak foto yang diambil, melainkan seberapa banyak beban pikiran yang ditanggalkan di setiap anak tangga.
Kesadaran diri yang ditawarkan oleh Borobudur adalah kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dia mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri. “Di tengah dunia yang menuntut kita untuk terus berlari, maukah kita sejenak berhenti dan mengenali siapa diri kita di balik topeng peran sosial yang kita pakai sehari-hari?,” ujarnya.
Melalui tulisannya, Sucoro, berpendapat, menjaga Borobudur bukan hanya tugas konservator untuk membersihkan lumut pada batu. “Tetapi tugas kita semua untuk menjaga “ruh” kebijaksanaannya agar tidak hilang ditelan arus informasi yang dangkal,” imbuhnya.
Menjadikan Borobudur sebagai sumber kesadaran diri, menurut dia, berarti menjadikannya kompas moral. Bahwa dalam setiap langkah hidup, keseimbangan antara ambisi duniawi dan ketenangan batin adalah kunci menuju kebahagiaan yang hakiki.
Pada akhirnya, menurut pria yang akrab dipanggil Mbah Coro itu, Borobudur adalah sebuah undangan terbuka. Undangan untuk pulang ke dalam diri, menemukan kedamaian di tengah keberagaman, dan menyadari bahwa di puncak tertinggi kesadaran, kita semua adalah satu. “Satu keyakinan percaya terhadap Tuhan,” tegasnya.
Eko Priyono













