Oleh: Hasan Aoni Aziz
“๐๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ฆ๐ฅ๐ข,
๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ณ๐ข๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด-๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด…” [๐๐ช๐๐จ๐ ๐๐๐ฎ๐ค ๐ผ๐ง๐๐๐๐ฃ๐ฉ๐ค].
Sepenggal puisi Presiden BEM UGM Tiyo Ardianto itu menguasi narasi videografi tentang profil remaja ini pada 2019.
Kudus suatu pagi di pertengahan 2019. Anak remaja usia 16 tahun itu baru saja menyelesaikan videografinya. Sebuah kurikulum vitae yang tak biasa. Bukan dalam bentuk teks, melainkan film cekak yang dibuat bersama tiga sahabatnya di sekolah alam Omah Dongeng Marwah menjelang lulus.
Sekolah yang membuat remaja ini menemukan kembali bakat kecilnya sebagai penyair.
Dunia itu kelak memanggilnya dalam “Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI” tahun 2019 sebagai peserta termuda. Ia seusia cucu penyair tua Sutardji Calzoum Bachri, Gus Mus, dan Zawawi Imron. Tiga kakek yang ia ciumi tangannya di acara itu.
Di tengah berjejalnya penyair dari dalam dan manca negara di ruang Majesty Hotel Griptha, Kudus: Indonesia, Malaysia, Brunei, Vietnam, dan Singapura, ia bertemu penyair deklamator nan garang Sosiawan Leak.
Penyair asal Solo ini memeragakan drama yang khas dalam membaca puisi. Saat menyaksikan pertunjukannya, jelaga protes dalam diri anak muda ini menguar. Ia ingin mengekspresikan kritik melalui puisi seperti Leak melakukannya. Meski akhirnya Rendra yang menjadi gaya yang dipilihnya kemudian.
Di lomba baca puisi Rendra yang diselenggaran Penerbit Erlangga pada 2021. Ken Zuraida, istri almarhum WS Rendra, yang menjadi salah satu jurinya, menemukan kembali “Burung Merak” muda itu pada diri Tiyo. Oleh empat juri ia dinobatkan sebagai juara pertama menyisihkan 4.150 peserta lain dari seluruh Indonesia.
Sampai “Burung Merak” muda itu terbang ke Jogja menjadi mahasiswa Filsafat UGM, ia masih mencintai puisi dan membaca sajak-sajak protes dan cintanya kepada trilogi ibu: ibu kandung, ibu yang kelak menjadi isteri imajinasinya, dan ibu pertiwi, di berbagai kesempatan.
Meneruskan tradisi seniornya, Jumari HS, penyair buruh yang meninggal karena kanker, ia menerbitkan buku puisi karya anak-anak muda se-Jateng dalam antologi “Boeng”. Puisi-puisi yang dipetik dari kemah sastra yang diinisiasinya.
Bersama puluhan penyair remaja yang menulis di antologi itu, ia tampil memeragakan orkestra kata di enam kota: di Kudus, tempat kelahirannya, Jepara, Pati, Semarang, Kendal, dan Jogja.
Di panggung itu ia membacakan puisi, menjadi seperti Leak sekaligus Rendra muda yang garang. Penyair muda yang kelak menjadi presiden mahasiswa di bangku tempat ia menimba ilmu, lalu menantang presiden RI Prabowo dengan mengatakan “Presiden Bodoh”.
Ia mengatakan itu dalam surat yang ditujukan untuk Unicef, badan pendidikan di bawah PBB. Memohon Unicef menyampaikan pesan ke presiden RI agar anggaran pendidikan yang dialihkan untuk makan gratis anak-anak sekolah dikembalikan untuk beasiswa. Agar tidak lahir kebodohan baru, karena kesempatan mengembangkan ilmu dan riset menjadi semakin langka.
Mewakili kebanyakan rakyat yang pengap dengan kemiskinan negeri ini, melalui surat itu ia mengubah puisi menjadi prosa. Satir yang tak lagi terdengar indah di telinga para pejabat.
Lalu ia viral di mana-mana. Diburu pers untuk dimintai pendapatnya, diburu anak-anak muda yang mengaguminya untuk bicara, dan diintai peneror yang mengirim fitnah ke HP ibunya. Risiko berat sebagai penyair garang yang harus dia terima.
Ibunya hanya seorang penjual nasi di warung makan saudaranya. Bapaknya seorang kenek bangunan. Mereka was-was dengan nasib anaknya sejak teror itu. “Tenang, Mak. Bismillah. Tuhan akan melindungi Tiyo. Mohon doa Mak dan Bapak, nggih,” katanya menenangkan hati orang tuanya.
Ketiadaan ekonomi orang tua yang hanya bisa membekali doa dan bukan uang ketika di semester awal ia pergi ke Australia. Sebulan di sana dalam program pengenalan budaya yang ditawarkan senior alumninya yang menjadi guru Bahasa Indonesia di sana.
Bagaimana bisa terbang ke negeri kanguru tanpa beasiswa? Tabungan yang hanya sedikit dari hasil karyanya, ia tuntaskan untuk membeli tiket PP, membayar paspor, visa, sampai tak tersisa lagi untuk hidup di sana. Batik-batik khas Kudus yang memenuhi kopernya menyelamatkan dompetnya sejak diborong guru-guru di sana dalam sebuah ekspo budaya Indonesia.
Banyak kisah sedih selama di Australia karena keterbatasan uangnya. Tetapi, ia tidak menceritakan itu ke orang tuanya supaya mereka tidak menangis. Sementara mereka tak bisa membantu apa-apa kecuali doa.
Ia lebih memilih menceritakan kisah negeri sejahtera Australia sekembali ke Indonesia kepada orang tua, sejawatnya di kampus, dan di sekolah-sekolah yang memanggilnya membaca puisi.
Impian negeri sejahtera itu mengendap kuat dalam ingatannya dan harus disampaikan ke pejabat-pejabat Indonesia.
Kesempatan itu ada setelah menjadi presiden BEM UGM, awal 2025. Sebagai presiden, ia setara presiden RI, meski tetap mahasiswa, rakyat yang berharap adil kepada presiden yang dicintainya.
Ia ekspresikan rasa cintanya melalui satir. Satir adalah larva dalam metamorfosa sastra, yang pelan-pelan mengubah puisi menjadi prosa. Sampai ia tak bisa lagi menahan diri untuk tidak menggunakan kata “bodoh” kepada presiden dibanding satir-satir yang dilontarkan sebelumnya.
Ia lalu muncul sebagai pembawa gada dalam perpolitikan Indonesia. Tongkat tumpul terbuat dari kayu yang menjadi senjata Hanoman dalam kisah Ramayana. Mengingatkan guru-gurunya saat anak muda ini meraih juara dalam lomba monolog Bahasa Jawa pada 2020, dengan ornamen gada di tangannya.
Gada itu kini tajam diasah olehnya menjadi kritik. Mewakili dosen, cendekiawan, ulama, guru besar, yang tak berani mengkritik setajam anak muda ini. Ketika akhirnya ia diserang karena kritik itu oleh orang-orang tak bernama, tak banyak yang membelanya seperti Rekror UII Jogja membelanya. Tak jua rektornya.
“Dalam negara demokrasi, kritik itu bukan dosa. Justru melanggar konstitusi kalau sampai dibungkam,” kata Fathul Wahid, Rekror UII itu, membelanya.
Ia hingga hari ini belum lulus. Sebentar lagi menyusun skripsi. Nilai IPK nya cum laude. Ia ranking 100 besar terbaik saat diterima sebagai mahasiswa UGM pada 2021.
Pergi dari sekolah Paket C ke kota yang dibangun dari kenangan. Mendarat di fakultas tempat orang-orang berfilsafat. Menjadi presiden BEM dan menantang presidennya kemudian.
Semoga akan lahir anak-anak muda lain di Indonesia. Selalu kritis pada keadaan, terserah mau lewat puisi atau prosa, yang penting tetap mencintai Indonesia.
Salam!













