blank
Ilustrasi cabe. Foto: Dok/Pixabay

KUDUS (SUARABARU.ID) – Harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Kudus melonjak tajam menjelang Ramadan 2026. Kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas cabe rawit yang kini menembus Rp 90 ribu per kilogram.

Pantauan di Pasar Baru Kudus pada Senin (16/2/2026), harga cabe rawit naik bertahap selama sepekan terakhir. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp 50 ribu per kilogram, kini harganya hampir dua kali lipat.

Muslikah, salah seorang pedagang di Pasar Baru Kudus, mengatakan lonjakan harga cabe rawit banyak dikeluhkan pembeli. Menurutnya, konsumen terpaksa mengurangi jumlah pembelian karena harga yang terlalu tinggi.

“Pembeli banyak yang mengeluh. Biasanya beli setengah kilo, sekarang jadi seperempat kilo saja,” ujarnya.

Omzet Pedagang Tertekan

Kenaikan harga ini juga berdampak langsung pada omzet pedagang. Para pedagang eceran memilih tidak menyetok dalam jumlah besar karena khawatir barang tidak laku.

Muslikah menyebut, harga tinggi sudah terjadi di tingkat pedagang besar. Salah satu penyebabnya diduga karena faktor cuaca yang tidak menentu sehingga produksi cabe di tingkat petani menurun.

“Harga sudah tinggi dari pedagang besar. Katanya karena cuaca tidak menentu, hasil panen jadi tidak maksimal,” jelasnya.

Kondisi ini memicu kekhawatiran kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya menjelang bulan puasa, mengingat permintaan biasanya meningkat signifikan saat Ramadan.

Harga Minyakita Ikut Merangkak Naik

Selain cabe rawit, lonjakan harga juga terjadi pada minyak goreng merek Minyakita. Minyak goreng subsidi pemerintah tersebut kini dijual di tingkat eceran Rp 19 ribu per liter, padahal harga ketentuan yang ditetapkan sebesar Rp 15.700 per liter.

Udin, pedagang grosir Minyakita di Kudus, mengungkapkan bahwa di tingkat grosir harga sudah mencapai Rp 17.500 per botol isi satu liter.

“Kalau di grosir sudah Rp 17.500, jadi wajar kalau di eceran bisa sampai Rp 19 ribu per liter,” katanya.

Kenaikan harga cabe rawit dan Minyakita ini semakin menambah beban masyarakat jelang Ramadan. Warga berharap ada langkah stabilisasi harga dari pemerintah agar lonjakan tidak semakin tinggi saat permintaan pasar memuncak.

Ali Bustomi