GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Bagi sebagian orang, menulis adalah pelarian. Bagi sebagian lainnya, menulis adalah cara bertahan untuk meluapkan semua yang ada di hati dan pikiran.
Itulah yang dirasakan Intan Haryanti, perempuan asal Kabupaten Grobogan yang menjadikan aktivitas menulis sebagai ruang untuk menumpahkan emosi, merekam pengalaman hidup, sekaligus mengisi waktu luang di tengah perannya sebagai ibu, pekerja, dan perempuan.
Intan Haryanti mulai menulis sejak 2015 itu akhirnya berbuah manis. Pada Januari 2026, Intan resmi meluncurkan buku perdananya yang berjudul “Untuk Kalian Anak-Anakku, Agar Kalian Tahu Ibu Pernah Bertarung”.
BACA JUGA : Polres Blora Gelar Operasi Keselamatan Candi 2026 Selama 14 Hari
Buku tersebut menjadi penanda perjalanan panjang proses kreatif yang ia jalani selama hampir satu dekade.
Tak banyak yang menyangka, di balik kesibukannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Grobogan, Intan mampu merampungkan sebuah karya memoar yang sarat makna. Seluruh tulisan yang sebelumnya lahir dari catatan pribadi dan refleksi hidup kini dirangkai menjadi satu buku utuh.

Saat ditemui, Intan menyampaikan bahwa buku tersebut bukan sekadar karya tulis, melainkan catatan perjalanan hidup yang ingin ia bagikan kepada banyak orang. Ia menyebut, naskah buku itu rampung menjelang akhir 2025 setelah melalui proses panjang menulis, merenung, dan berdamai dengan pengalaman masa lalu.
“Saya mulai menulis sejak 2015. Biasanya menulis saat punya waktu luang, apalagi saya termasuk orang yang suka begadang. Justru di momen-momen itu ide sering muncul. Tapi saya bersyukur, tetap bisa membagi waktu antara pekerjaan, anak-anak, dan menulis,” ujar Intan, Selasa (3/2/2026).
Dalam buku bergenre memoar tersebut, Intan menggunakan sudut pandang orang pertama, “saya”, untuk membawa pembaca menyelami kisah demi kisah yang ia alami selama sepuluh tahun terakhir.
BACA JUGA : Pastikan Posbankum Berjalan Optimal, Kemenkum Jateng Lakukan Pembinaan di Kecamatan Pemalang
Cerita disusun dari pengalaman nyata yang penuh emosi, hingga akhirnya membentuk sebuah narasi utuh tentang perjuangan hidup.
Beragam perasaan hadir dalam buku ini. Ada tawa, bahagia, tangis, luka, senyum, hingga keteguhan hati. Seluruhnya dirangkai dengan jujur dan apa adanya. Salah satu tema kuat yang diangkat Intan adalah tentang realitas sistem patriarki yang masih dihadapi banyak perempuan.
“Bagaimana perempuan sering diharapkan setelah menikah hanya di rumah, mengurus suami dan anak, itu saya tuliskan. Sistem patriarki inilah yang justru membuat saya merasa perlu menuliskan pengalaman hidup saya lebih dalam,” ungkapnya.
Meski memuat kisah personal, Intan menegaskan bahwa buku ini bukan untuk membuka aib. Ia ingin pengalamannya menjadi cermin dan penguat bagi siapa pun yang tengah berada dalam situasi sulit.
“Saya tidak bermaksud membongkar aib. Saya hanya ingin berbagi pengalaman agar bisa menginspirasi. Mungkin tidak memberi solusi langsung, tapi bisa menjadi jawaban bagaimana menyikapi masalah tanpa meluapkan emosi berlebihan, memilih lingkungan pertemanan yang sehat, dan belajar memaafkan diri sendiri,” tambah alumnus S2 Magister Hukum Universitas Sultan Agung Semarang tersebut.
Sebagai ibu dari tiga anak, Intan juga mengaku mendapat energi baru menjabat tugas baru sebagai Kasubag Perencanaan dan Keuangan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Grobogan. Lingkungan kerja yang dekat dengan buku justru semakin memupuk semangatnya dalam dunia literasi.
Dalam pekerjaannya ini, Intan mengaku setiap hari selalu membaca Undang Undang dan Peraturan terkait bidang yang menjadi tugasnya.
BACA JUGA : Resmikan Padel 99 Court, Wali Kota Pekalongan Dorong Pengembangan Olahraga dan Prestasi
“Selain itu, bertugas di Dinarpusda ini saya melihat buku sangat banyak. Saya suka membaca. Saya sering mencatat isinya dari yang saya baca, nama penulis dan penerbitnya. Dari situlah saya merasa semakin termotivasi, baik untuk menulis maupun menjalani kehidupan,” tuturnya.
Buku memoar “Untuk Kalian Anak-Anakku, Agar Kalian Tahu Ibu Pernah Bertarung” diterbitkan oleh Dio Media. Intan berharap, kelak buku ini dapat menjadi pesan mendalam bagi anak-anaknya ketika mereka dewasa, sekaligus menjadi pengingat bahwa ibunya pernah berjuang melewati berbagai fase kehidupan.
Lebih dari itu, kisah perjalanan hidup Intan Haryanti diharapkan mampu memberi semangat dan inspirasi bagi banyak orang, terutama mereka yang tengah berjuang menghadapi kenyataan hidup yang tidak selalu mudah.
TYA WIDYA













