blank
Ilustrasi. Foto: Pinterest

blankOleh Naila Shifalah Putri

FENOMENA krisis identitas di awal usia 20-an telah menjadi topik pembicaraan yang ramai di media sosial, seperti Twitter (sekarang X), Instagram, dan TikTok. Generasi muda sering membagikan pengalaman mereka tentang ketidakpastian diri, eksplorasi seksualitas, karier, dan nilai-nilai hidup, yang sering disebut sebagai “quarter-life crisis”.

Postingan viral tentang “lost in my 20s” atau tantangan eksplorasi identitas mencerminkan keresahan sosial yang dipicu oleh aksesibilitas informasi digital dan tekanan sosial. Fenomena ini tidak hanya individu, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas, di mana media sosial mempercepat proses pencarian identitas.

Dalam esai opini ini, saya akan mengkaji fenomena ini melalui lensa Teori Identitas Komunikasi (Communication Theory of Identity atau CTI) yang dikembangkan oleh Michael Hecht, sebagaimana diuraikan dalam buku Theories of Human Communication karya Stephen W. Littlejohn. Teori ini menawarkan kerangka kerja untuk memahami bagaimana identitas dibentuk dan dinegosiasikan melalui komunikasi, sehingga relevan untuk menganalisis dampak media sosial terhadap krisis identitas generasi muda.

Fenomena Krisis Identitas

Krisis identitas di awal 20-an merujuk pada periode transisi saat individu menghadapi pertanyaan mendalam tentang siapa diri mereka sebenarnya. Menurut psikolog Erik Erikson, tahap ini adalah bagian dari “identity vs. role confusion“, di mana remaja akhir hingga dewasa muda berjuang untuk membentuk identitas yang koheren.

Pada era digital saat ini, fenomena ini diperburuk oleh media sosial yang mengekspos individu pada berbagai narasi identitas dari influencer yang sukses hingga kampanye kesetaraan gender dan LGBTQ+.

Hashtag seperti #IdentityCrisis atau #FindingMyself sering digunakan, dengan konten yang beragam dari meme lucu hingga cerita pribadi yang emosional. Namun, ini juga menimbulkan tekanan, karena perbandingan sosial (social comparison) dapat memicu perasaan tidak adekuat. Data dari survei Pew Research Center (2023) menunjukkan bahwa 60% remaja dan dewasa muda merasa cemas tentang masa depan mereka, dengan media sosial sebagai pemicu utama.

Fenomena ini bukan sekadar masalah pribadi, melainkan refleksi dari perubahan sosial. Globalisasi dan teknologi telah memperluas pilihan identitas, tetapi juga menciptakan fragmentasi. Di Indonesia, misalnya, diskusi di media sosial tentang identitas etnis, agama, dan gender sering viral, seperti kasus influencer yang mengungkap orientasi seksualnya. Ini menunjukkan bahwa krisis identitas bukan lagi isu pribadi, tetapi sosial yang memengaruhi dinamika komunitas.

Teori Identitas Komunikasi

Teori Identitas Komunikasi (CTI) oleh Michael Hecht, sebagaimana dipaparkan Littlejohn dalam bukunya, menyatakan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang statis atau inheren, melainkan proses komunikasi yang dinamis. Hecht mendefinisikan identitas sebagai “bagaimana kita memahami dan mengekspresikan diri kita melalui interaksi dengan orang lain”. Teori ini menekankan bahwa identitas dibentuk melalui komunikasi, baik verbal maupun nonverbal, dan melibatkan empat lapisan (layers) utama:

  1. Lapisan Pribadi (Personal Layer): Ini adalah identitas internal, seperti nilai-nilai, keyakinan, dan pengalaman pribadi yang tidak selalu diekspresikan secara terbuka.
  2. Lapisan Enacted (Enacted Layer): Bagaimana identitas diekspresikan melalui perilaku dan komunikasi sehari-hari, seperti pilihan kata atau gaya berpakaian.
  3. Lapisan Relasional (Relational Layer): Identitas yang terbentuk melalui hubungan interpersonal, seperti bagaimana seseorang didefinisikan oleh keluarga atau teman.
  4. Lapisan Komunal (Communal Layer): Identitas yang terkait dengan kelompok sosial lebih luas, seperti etnis, budaya, atau komunitas online.

Selain itu, CTI memperkenalkan konsep “identity gaps” (kesenjangan identitas), di mana ada ketidakcocokan antara lapisan-lapisan ini, yang dapat menyebabkan konflik internal. Proses negosiasi identitas (identity negotiation) terjadi melalui komunikasi, di mana individu menyesuaikan identitas mereka berdasarkan umpan balik dari orang lain. Teori ini bersifat konstruktif, menekankan bahwa identitas dibangun secara sosial melalui dialog, bukan ditentukan secara biologis.

Kesenjangan

Melalui CTI, krisis identitas di awal 20-an dapat dipahami sebagai hasil dari kesenjangan antara lapisan identitas yang diperburuk oleh komunikasi digital. Di media sosial, individu sering mengekspresikan lapisan enacted melalui postingan, seperti foto atau status yang menunjukkan eksplorasi identitas. Namun, ini dapat menciptakan identity gaps ketika umpan balik dari followers, seperti komentar negatif atau perbandingan dengan influencer yang bertentangan dengan lapisan pribadi.

Misalnya, seorang pemuda yang memposting tentang keraguan kariernya mungkin menerima komentar yang menekankan ekspektasi sosial, sehingga memperlebar kesenjangan antara identitas pribadi (keinginan eksplorasi) dan komunal (norma masyarakat).

Platform seperti TikTok memungkinkan pembentukan komunitas virtual berdasarkan lapisan komunal, seperti grup LGBTQ+ atau aktivis lingkungan, yang membantu individu menemukan identitas yang sesuai. Namun, ini juga berisiko, karena algoritma yang mempromosikan konten ekstrem dapat memperkuat stereotip, memicu krisis lebih dalam.

Dalam konteks Indonesia, di mana budaya kolektivis kuat, lapisan relasional sering bertentangan dengan eksplorasi pribadi, seperti dalam kasus remaja yang ingin keluar dari norma gender tradisional. CTI menjelaskan bahwa komunikasi online dapat menjadi alat untuk menjembatani gaps ini, tetapi juga sumber konflik jika tidak dikelola dengan baik.

Opini saya adalah bahwa fenomena ini menunjukkan kekuatan komunikasi dalam membentuk identitas, tetapi juga tanggung jawab media sosial untuk memfasilitasi dialog yang sehat. Jika tidak, krisis identitas dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental, seperti depresi atau isolasi sosial.

Naila Shifalah Putri, Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Dian Nuswantoro