blank
Peserta Kelas Pelajar Mengukir Angkatan 7 bersama para instruktur. Foto: Septiana W

JEPARA (SUARABARU.ID) – Kelas Pelajar Mengukir angkatan ke – 7 yang diikuti 29 siswa SD dari berbagai sekolah di Jepara menarik perhatian Tim  Metro TV  yang tengah menggarap program acara  Melawan Lupa.  Selasa (16/12-2025) tim telah mengambil gambar anak-anak yang lagi asyik  belajar mengukir yang dipandu Suyoto S.Pd., Ali Afendi S.Sn, Sokhib, Rozikin Bo’im dan Sulistiyani di Galeri Jepara Wood Carving di Pantai Kartini Jepara. Hadir dan turut menyanyikan Mars Jepara, Kris Boedianto maestro musik  Jepara yang juga  pencipta aransemen lagu wajib masyarakat Jepara tersebut

Disamping itu juga dilakukan pengambilan gambar,  wawancara dengan Ketua Yayasan Peelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto yang menjadi narasumber program siaran Melawan Lupa Metro TV.

blank
Tim Program Melawan Lupa Metro TV sedang mengambil gambar di Galeri Jepara Wood Carving di Pantgai Kartini. Foto: Septiana W

Sementara 15 perajin ukir yang bergabung di Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini  Jepara juga akan memeragakan ketrampilannya mengukir di halaman belakang Pendopo Kabupaten Jepara, Rabu (17/12-2025) sore

blank
Instruktur Sokhib saat membimbing peserta. Foto: Septiana

Menurut informasi, program siaran ini akan menjadi bagian dari proposal yang diajukan untuk pengajuan seni ukir Jepara sebagai kekayaan budaya takbenda dunia ke Unesco bersama seni ukir dari Konjic Bosnia – Herzegovina. Juga berbagai kegiatan yang selama ini telah dilakukan oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara selama dua tahun terakhir ini.

blank
Sulistiyani, saat memberikan bimnbingan kepada peserta. Foto: Septiana

Tanggapan Guru

Nori Dwi Cahyo Saputri, pendamping dari SD Negeri 1 Krapyak menilai, melalui kegiatan Kelas Pelajar Mengukir ini  anak-anak tidak hanya melihat seni ukiran sebagai hiasan atau koleksi saja, tapi juga sebagai ekspresi diri dan kebanggaan daerah yang patut dijaga, dilestarikan oleh anak-anak juga bisa masuk kedalam nilai seni ukirnya

blank
Rozikin Bo’im saat memberikan bimbingan kepada peserta. Foto: Septiana

Pelatihan ini menurut Nori, adalah bentuk melestari kebudayaan yang ada di Jepara. “Saya ingin dengan adanya pelatihan mengukir ini bisa menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap budaya ukir khas Kota Jepara tercinta yang telah dikenal oleh dunia sebagai Kota Ukir,” pintanya.

blank
Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara. Foto: Septiana

Sementara Kusnadi, pendamping dari  SDN 2 Sukodono menilai, kegiatan seperti ini sangat bagus mengingat minat generasi muda Jepara yang  sudah berubah karena gaya hidup. “Setelah lulus anak butuh uang untuk kebutuhan sehari hari. Karena itu mereka bekerja yang instan tanpa ketrampilan. Sementara ukir perlu proses yang lama,” ujarnya

Menurut Kusnadi,  bagi sebagian besar generasi muda, seni ukir mungkin sudah tidak dianggap tidak relevan. “ Sebab untuk dapat menghasilkan karya dan layak untuk dijual butuh proses yang lama.  Padahal mainset generasi muda semua serba instant baik proses maupun hasilnya.

blank
Suyoto saat memberikan bimbingan kepada peserta kelas mengukir. Foto: Septiana

Kegiatan Kelas Pelajar Mengukir menurut Kusnadi juga sangat bagus untuk pelestarian kearifan lokal Jepara.  Juga merangsang minat generasi muda untuk semangat belajar mengukir serta diharapkan dapat mengangkat kembali kejayaan seni ukir Jepara dikancah nasional maupun internasional.

Septiana Wibowo