blank
Pengelola Candi Joglo Semar Purwodadi, Muhadi, saat memperkenalkan Gamelan Bali yang nantinya akan menjadi simbol akulturasi budaya Jawa-Bali di tempat wisata tersebut. Foto: Tya Widya.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Ada yang baru di sektor pariwisata Kabupaten Grobogan. Destinasi wisata mandiri, Candi Joglo Semar Purwodadi, kini berinovasi tak sekadar sebagai tempat wisata biasa.

Dalam rangka mempersiapkan pariwisata berkelanjutan pada 2027 mendatang, Candi Joglo Semar Purwodadi terus melakukan pembenahan infrastruktur dan peningkatan kualitas daya tarik wisatawan.

Upaya tersebut merupakan bagian dari persiapan Candi Joglo Semar mendukung program pariwisata berkelanjutan. Langkah nyata ini diharapkan mampu membawa dampak ekonomi yang masif bagi daerah.

BACA JUGA : Audisi PB Djarum 2026 Digelar di Tiga Kota, Kevin Sanjaya Ungkap Kisah Inspiratifnya

Melalui pengembangan yang terintegrasi, destinasi ini berkomitmen memperkuat ekonomi lokal. Ujung dari program jangka panjang ini adalah untuk turut mendukung meningkatkan PAD Kabupaten Grobogan.

Belum lama ini, Candi Joglo Semar Purwodadi mendapatkan bantuan kebudayaan yang bernilai tinggi. Mereka menerima bantuan satu set alat musik tradisional dari pulau Dewata.

“Kami mendapatkan apresiasi bantuan dari Pemprov Bali, yang mana berupa gamelan Bali satu set,” ujar Muhadi, pengelola Candi Joglo Semar Purwodadi, Kamis (4/6/2026).

Muhadi menyebutkan, bantuan ini menjadi bukti nyata adanya hubungan erat antar pariwisata daerah dalam melestarikan kebudayaan Nusantara.

Kehadiran alat musik tradisional ini dipercaya akan memberikan warna baru bagi lanskap wisata daerah .Muhadi berharap fasilitas baru ini bisa dioptimalkan oleh warga sekitar objek wisata Candi Joglo.

Di samping itu, komunitas seni budaya kini memiliki sarana baru yang sangat representatif untuk berekspresi secara rutin.

“Semoga gamelan ini nanti mampu menjadi daya tarik sekaligus alat untuk berkesenian masyarakat sekitar kita, mengenal alat musik gamelan Bali, sekaligus memainkannya untuk sajian pariwisata dan pelestarian budaya,” kata Muhadi.

Bantuan gamelan tersebut, kata Muhadi, berawal dari memberikan masukan strategis kepada pemerintah daerah. Mereka mendorong adanya jalur diplomasi antar-pemerintah daerah yang konkret.

“Ya, kita kemarin sudah sedikit memberikan informasi ke Pemkab Grobogan untuk langkah-langkah G2G (Government to Government), kerja sama untuk Government to Government,” tutur Muhadi.

Diplomasi kebudayaan ini sengaja diinisiasi untuk memicu respons dari pemangku kebijakan.

Muhadi mengakui bahwa mengetuk pintu birokrasi membutuhkan strategi komunikasi yang kreatif.

Menurut dia, bantuan dari luar daerah terbukti efektif menjadi pemantik perhatian bagi pemerintah daerah.

“Mungkin ini salah satu cara kami untuk menggugah perhatian dari Pemkab Kabupaten Grobogan ya, dan juga Jawa Tengah khususnya,” tambah Muhadi.

BACA JUGA : Atdikbud KBRI Kuala Lumpur Sambut Mahasiswa KKN Internasional USM

Kerja sama lintas provinsi ini diharapkan menjadi model baru pengembangan destinasi wisata berbasis kebudayaan di daerah seluruh Nusantara.

Menurutnya, dukungan dari pemerintah pusat dan daerah akan mempermudah banyak aspek esensial.

Jika relasi formal antar-pemerintah sudah terjalin, iklim toleransi akan tumbuh kuat. Efek domino positifnya tentu mengarah pada pertumbuhan sektor ekonomi kreatif masyarakat di sekitar candi Joglo.

“Di saat nanti ada hubungan kerja sama G2G dengan pemerintah pusat, maka bawah pun akan lebih mudah untuk menjalin toleransi maupun peningkatan pariwisata di daerah kita,” jelas Muhadi.

Konsep persatuan dalam perbedaan inilah yang menjadi pondasi kuat dari Candi Joglo Semar.

Harmoni Unik

Secara khusus, tempat wisata ini memang mengusung harmoni budaya tradisional yang unik. Perpaduan antara nafas budaya Jawa dan keindahan Bali menjadi magnet utama bagi para pelancong. Keunikan akulturasi ini jarang ditemukan di tempat lain di wilayah Jawa Tengah.

“Khususnya yang bernuansa Jawa-Bali yang ada di sini. Mungkin di daerah lain pun juga akan sama dengan kultur yang berbeda,” kata Muhadi.

Keberagaman konsep ini dinilai sangat potensial untuk terus diduplikasi pada beberapa wilayah potensial lain di masa depan.

Untuk operasional pengajaran gamelan Bali, pihak pengelola tidak mau setengah-setengah. Mereka berencana menggandeng institusi pendidikan tinggi seni terkemuka di Jawa Tengah.

Muhadi menegaskan, surat resmi segera dikirimkan agar mendapat asistensi dari para akademisi dan pakar seni musik.

“Kami berupaya bersurat ke ISI Surakarta atau NNES Semarang ya,” ungkap Muhadi, mengenai rencana kerja samanya.

Melalui kolaborasi dengan kampus seni tersebut, standardisasi kualitas sajian pertunjukan bagi para wisatawan akan tetap terjaga dengan baik.

BACA JUGA : Pemprov Jateng Perbaiki Jalan di Lokasi-Lokasi Ini pada 2026. Cek Dimana Saja

Muhadi berharap, para dosen dan mahasiswa bertalenta akan dihadirkan langsung ke Grobogan. Mereka bertugas melatih anak-anak muda yang tinggal di sekitar lingkungan candi Joglo.

Langkah ini merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan regenerasi pelaku seni pariwisata daerah.

“Kita nanti bisa datangkan dosen dari sana untuk memberikan pelajaran pada anak-anak di sekitar lingkungan Candi Joglo,” jelas Muhadi.

Program edukasi budaya ini terbuka lebar bagi seluruh lapisan masyarakat yang memiliki ketertarikan pada seni musik tradisional Nusantara.

Selain akademisi, respons hangat juga datang dari komunitas keagamaan dan budaya daerah.

Pihak Pura yang ada di Kabupaten Grobogan menyambut baik hadirnya gamelan Bali tersebut. Bahkan, mereka menawarkan diri secara sukarela untuk ikut meramaikan aktivitas seni di Candi Joglo.

“Saat ini yang kedua, kita juga sudah tembusi anggota Pura yang ada di Kabupaten Grobogan. Mereka juga antusias untuk ikut kerja sama,” kata Muhadi.

Sinergi inklusif ini membuktikan bahwa Candi Joglo Semar sukses menjadi ruang peleburan sosial yang sangat damai bagi semua warga.

Anggota komunitas dari Pura tersebut, kata Muhadi, diklaim siap menjadi mentor bagi warga lainnya.

“Modal dasar seni Bali yang mereka miliki akan didedikasikan untuk menghidupkan suasana destinasi. Aktivitas bermain musik bersama ini diproyeksikan menjadi agenda rutin mingguan di Candi Joglo,” kata Muhadi.

“Dan mereka juga menawarkan diri untuk ikut nggamel ya, atau bermain musik di sini karena pada dasarnya mereka punya basic dasar seni Bali,” imbuh Muhadi.

Kolaborasi alami ini menciptakan ekosistem pariwisata yang berbasis pada kekuatan komunitas daerah (community-based tourism).

Gaet Kaum Emak dan Anak Muda

Tidak hanya seni musik, seni tari Bali yang dinamis juga akan segera dihadirkan. Ibu-ibu di sekitar wilayah Grobogan menyambut gembira kesempatan emas berkesenian ini.

Candi Joglo Semar kini resmi menjadi wadah berekspresi baru yang selama ini sulit mereka dapatkan.

“Terus yang ketiga, mereka juga mau menari Bali di sini. Khususnya untuk ibu-ibu nih yang belum ada ruang ekspresi, mereka tiap hari Sabtu-Minggu mau menari Bali di Candi Joglo,” tutur Muhadi.

Dengan adanya inovasi ini, pentas reguler akhir pekan ini dipastikan akan mendongkrak angka kunjungan wisatawan.

Kehadiran para penari senior ini juga membawa misi edukasi yang sangat mulia. Sembari pentas, mereka akan menurunkan keahlian menari kepada anak-anak generasi muda.

Proses transfer ilmu budaya ini berjalan alami demi menjaga keberlanjutan tradisi Nusantara di Grobogan.

“Itu sekaligus memberi pelajaran kepada anak-anak generasi muda yang mau belajar di sini,” kata Muhadi.

BACA JUGA : Wakapolres Grobogan Antar Langsung Korban Kecelakaan ke Rumah Sakit

Pihaknya meyakini bahwa pembentukan karakter generasi muda yang mencintai kebudayaan bangsa harus dimulai sejak dini melalui ruang-ruang publik yang menyenangkan.

Harapan besar kini disandangkan pada eksistensi jangka panjang Yayasan Candi Joglo Semar.

Destinasi ini tidak sekadar mengejar keuntungan finansial semata, melainkan kemanfaatan sosial. Nilai-nilai luhur kebersamaan menjadi pondasi utama yang terus dijaga oleh pengelola.

“Ya, harapan saya saat pribadi, semoga Candi Joglo ini mampu berkontribusi buat generasi muda yang akan datang karena kita sudah mengawali di sini dengan nilai-nilai kemanfaatan,” pungkas Muhadi.

Melalui konsistensi ini, Candi Joglo Semar Purwodadi optimis mampu menembus target pariwisata berkelanjutan, baik wisatawan skala daerah,tingkat nasional hingga internasional.

TYA WIDYA