blank

blank

BACALAH kethaha sebagaimana Anda mengatakan nelangsa (baca: nelongso). Konteksnya tepat, yakni sejauh berita-berita yang berseliweran itu benar, ada sejumlah kementerian atau lembaga juga (?) katanya merasa tidak mampu menyerap habis anggarannya, lalu mengembalikannya ke kementerian keuangan.

Tidak bermaksud menuduh, sekedar menduga saja, di  antara pihak yang mengembalikan itu, awalnya dulu ketika mengajukan anggaran, kemungkinan besar terjangkit yang disebut sifat atau sikap kethaha. Apa itu?

Ingat cerita legenda penuh  mitos tentang Buta Ijo, yang ingn “melahap” gadis jelita Timun Emas anak mBok Srini yang randha itu? Si Buta Ijo inilah contoh dan gambaran khas tentang kethaha itu.  Orang kethaha dapat dilihat dari perilakunya yang kumudu oleh akeh, gairah ingin memperoleh apa saja dalam jumlah lebih banyak dari yang lain-lain.

Misalnya makan, orang kethaha tampil dengan mengambil banyak baik nasi maupun lauk-pauknya. Apakah semua itu akan dihabiskannya? Niat awalnya pasti begitu: Ambil banyak, dilahap semua. Namun dalam kenyataannya, apakah selalu dapat menghabiskannya? Tidak selalu, sangat boleh jadi hanya dimakan separuh, lalu sisa. Nahhhhh … kethaha itu namanya.

Dalam bingkai makna seperti itu, kethaha juga bermakna murka, kumudu nduweki, terangsang  untuk harus memiliki, dan perkara dipakai atau dimanfaatkan atau tidak,  itu lain perkara. Jangan heran ada pejabat lha kok memiliki sepeda ber-merk (baca: mahalllllll) sampai berjumlah lebih dari dua puluh biji. Dinggo sapa dan apa wae, kuwi? Menurut bausastra Jawi, murka itu juga berarti bodho, gendheng, lan melikan.

Jadi, wong-wong kethaha itu sebenarnya, maaf seribu maaf,  tergolong wong bodho, kurang cerdas dalam mengalkulasi kepentingan sosial dan politisnya.  Mengapa kamus Jawa menyebut begitu, yaitu bodho, gendheng lan melikan? Hanya karena dorongan kumudu-kudu, yakni harus punya, harus tampak kaya, harus tampil trendy, harus bergaya pejabat keren, dst. maka semua hal yang dianggap mendukung keharusan-keharusan itu, ditempuhlah tuku sepeda mahal rong lusin, jam tangan luaranggggggg banget duwe, ………. dan sebagainya.

Jangan lupa, wong kethaha tidak terbatas pada kepemilikan barang, tetapi juga terkait jabatan mbuh dinggo awake dhewe, atau pun dinggo anak, mantu, ipar, teman, pendukung, dan entah siapa lagi. Dan…….jangan lupa, semua Hasrat meluap itu terlaksana, keturutan, seperti seseorang yang mengambil nasi banyak-banyak, lauk pauk banyak-banyak tadi.

Nasib Buta Ijo

Kisah legendaris Buta Ijo menarik dan kontekstual sampai saat ini, karena ending-nya wong kethaha itu mengarah ke “bernafas dalam lumpur.” Hati-hatilah wong-wong kethaha, dan ingatlah wahai wong-wong kethaha betapa Buta Ijo ora klakon “melahap” si Timun Emas. Yang dialami ialah, tadi itu, bernafas dalam lumpur.

Mengapa sangat mungkin akan terjadi setragis Buta Ijo? Wong-wong kethaha itu berada dalam posisi sangat rentan karena gampang  bersinggungan dengan korupsi. Belanja berbagai barang mahal tidaklah mungkin terpenuhi dari gajinya, sebesar apa pun gajimu.

Karena mitra kerja pejabat tahu betapa Anda itu  tergolong wong kethaha, yahhh……… seribu cara Anda diiming-imingi tas, arloji, sepeda, moge, dan entah barang apa lagi. Siapa ngiming-imingi? Banyaklah, dari internal  sangat mungkin, sosok eksternal juga sangat mungkin.

Para pembaca setia, saya sangat berharap Anda tidak tergolong wong-wong kethaha, dan sekiranya ada teman atau kenalan sedang terjangkit kethaha, ceriterakanlah legenda Timun Emas Buta Ijo kepadanya. Hindarkan diri  kita  dari “bernafas dalam lumpur.”

Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan  budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng