blank
Anna Kusumarita (kedua dari kiri), saat memaparkan materi pada diskusi publik, yang digelar Kejari Sragen bersama Solusi Indonesia, di MPP Sragen, Selasa (2/12/2025). Foto: dok/ist

SRAGEN (SUARABARU.ID)– Direktur Bisnis Dana, Jasa, dan UMKM Bank Jateng, Anna Kusumarita mengatakan, pihaknya berkomitmen menyambut lahirnya calon-calon pengusaha baru, agar perekonomian di daerah makin berkembang pesat.

Hal itu seperti yang disampaikannya, dalam acara Diskusi Publik ‘Inspirasi Sukses dari Local Hero Sragen’, yang digelar Kejaksaan Negeri Sragen bersama Solusi Indonesia, di MPP Sragen, Selasa (2/12/2025).

Menurut Anna, Gen Z seperti halnya mahasiswa, bisa memanfaatkan program permodalan Bank Jateng. Syaratnya, sudah memiliki usaha. Seperti halnya banyak mahasiswa yang mengajukan permodalan tanpa agunan, seperti usaha warung makan di lingkungan kampus, fotocopy, fashion dan lain sebagainya.

BACA JUGA: Wagub Jateng Minta Percepatan Pengadaan Barang dan Jasa Sejak Awal Tahun

”Kami bekerja sama dengan kampus. Mahasiswa yang punya usaha ada program permodalan. Ada yang Rp 10 juta, Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Kami support itu, agar naik kelas menjadi pengusaha sukses,” terang dia.

Disampaikan juga, ada program lain berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR), dengan permodalan di bawah Rp 100 juta. Permodalan itu tanpa agunan, namun tentunya memiliki usaha. Sementara bunga hanya 6-6,5 persen, karena sudah disubsidi pemerintah pusat.

”Kendala modal bisa diselesaikan, tanpa agunan. Ini program dari Presiden Prabowo, agar perekonomian di daerah berkembang pesat,” ungkap dia.

BACA JUGA: Ketep Pass Mulai Berbenah Diri, Jelang Musim Liburan Nataru

Bahkan Bank Jateng meminta Gen Z untuk tidak khawatir, bagi mereka yang belum memiliki usaha, tetapi memiliki cita-cita ingin menjadi pengusaha dan membuka lapangan kerja.

”Kalau memang belum pernah punya usaha, pengin belajar, kami punya program peningkatan literasi keuangan dan skill mikro bisnis. Mereka kami latih untuk mengawali mikro bisnis awal. Saat ini sudah ada puluhan ribu yang tergabung dan tumbuh,” tuturnya.

Selain Anna, pembicara lainnya Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah, Zulkifli Gayo, dan pengusaha muda Sragen, Joko Pramono.

BACA JUGA: Je-Creator Perumda Jepara: Bangun Fondasi Ekonomi Kreatif Berbasis Digital di Sekolah

Sebelum itu, pada sesi pertama juga digelar diskusi publik dengan tema ‘KUHAP Baru dan Tantangan Pemberantasan Korupsi’, dengan narasumber Ketua Komisi Kejaksaan RI, Pujiyono Suwadi dan Kajari Sragen, Jerniaty

Sebagai pembicara kedua, Zulkifli Gayo menerangkan, anak muda atau Gen Z, harus mempunyai daya saing, agar ke depan bisa menjadi orang sukses. Stigma Gen Z menjadi salah satu menyumbang angka pengangguran di Jateng, menjadi pekerjaan rumah bersama-sama.

”Mumpung masih ada waktu. Beraktivitaslah lebih banyak. Mereka yang berhasil, karena menyibukkan diri untuk meningkatkan kualitasnya,” terang dia.

BACA JUGA: Pemblokiran Barcode Solar Subsidi Dikeluhkan Anggota Organda Khusus Pelabuhan Tanjung Emas Semarang

Dia menambahkan, ada lima program Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi, untuk pengembangan kapasitas Gen Z. Mulai dari pendidikan dan vokasi, berupa Kartu Zelineal atau Taruna Karya Mandiri.

Selain itu ada juga, ekonomi dan kewirausahaan muda. Di antaranya, 1 RT 1 UMKM, pelatihan 1.000 konten kreator desa wisata, pelibatan Gen Z dalam program lingkungan, hingga penguatan bahasa asing dan literasi digital global.

Sementara itu, pengusaha muda Sragen, Joko Pramono, menceritakan awal mula dia merintis usahanya. Diawali sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menjual snack, lalu menjual tahu granat, Warung Teko Warmindo dan Penyetan, hingga Top Chicken.

BACA JUGA: NU, Politik Lingkungan, dan Advokasi Petani Sumberrejo, Jepara

”Tahun 2015 saya resign. Ada uang Rp 3 juta, lalu saya nekat berjualan PKL-an,” akunya kepada peserta diskusi yang berasal dari Gen Z, mulai siswa SMA, mahasiswa, karang taruna, kepala desa, perbankan, hingga BUMD.

Setelah berkali-kali gagal, akhirnya Joko banting stir ke bisnis properti, dengan bendera Betaland. Kini dia melebarkan sayap, dengan membuka Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Bahasa Korea.

”Saya memulai usaha tanpa modal, hanya Rp 3 juta saja. Sampai saat ini, Alhamdulillah, asetnya miliaran rupiah. Dulu tidak punya apa-apa, buat makan saja susah. Sekarang tinggal pilih,” kenang dia.

Riyan