
Fakultas Teologi tampil memukau dengan sayap Malaikat Agung dan burung Phoenix sebagai lambang pencerahan, sedangkan Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menghadirkan kostum “Darah Biru” yang merupakan simbol kekuatan inovasi dan kepemimpinan digital yang membanggakan.
Renaldi Satrio, mahasiswa baru Prodi Manajemen FEB, menjadi salah satu ikon parade dengan kostum hasil kolaborasi FEB dan FSM yang memerlukan waktu pengerjaan sekitar satu bulan. “Senang sekali, ini buah kerja keras bersama. Semoga melalui acara ini kami bisa memperkenalkan UKSW dan menjadi bagian dari Salatiga,” ungkapnya.
Puncak acara ditutup dengan gemuruh Barongsai Longshen, menghadirkan keagungan budaya Tionghoa yang menandai keberagaman di tengah kesatuan.
Tak hanya civitas academica, masyarakat Kota Salatiga pun menikmati malam penuh makna ini. Venti Kusumaning Tyas, warga Kalioso yang datang bersama suami dan anaknya, mengungkapkan kegembiraannya, “Sebagai masyarakat, saya senang sekali. Acara ini bukan hanya hiburan, tapi juga memperkenalkan budaya kepada mahasiswa baru dari berbagai daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Eko Irwanto tampak menikmati setiap penampilan di panggung utama. “Acara ini bagus sekali karena mempererat hubungan antara mahasiswa dan warga,” ujar warga Canden tersebut.
Panggung Cinta, Kreativitas, dan Persaudaraan
Sebagaimana disampaikan Koordinator Kegiatan Hanita Yulia, S.Pd., M.Pd., Night Festival bukan hanya ajang unjuk karya, tetapi juga wadah belajar dan membangun rasa memiliki terhadap almamater. “Night Festival mewadahi karya mahasiswa baru dalam bentuk kostum yang merepresentasikan 15 fakultas di UKSW. Melalui kolaborasi lintas fakultas, mereka belajar bekerja sama, berpikir kreatif, dan mencintai UKSW,” jelasnya.
Ia menambahkan, konsep tahun ini berbeda dari sebelumnya. Jika dulu parade berkeliling kota, kini konsepnya open house, di mana masyarakat diundang datang langsung ke UKSW untuk mengenal lebih dekat fakultas dan mahasiswa baru. “Harapan kami, masyarakat semakin mengenal UKSW dan mahasiswa baru merasa bangga menjadi bagian dari kampus ini. UKSW bukan hanya tempat belajar, tetapi rumah bagi keberagaman dan kreativitas,” pungkasnya.
Hadir Wakil Rektor Bidang Pengajaran, Akademik, dan Kemahasiswaan Profesor Ferdy Semuel Rondonuwu, Wakil Rektor Bidang Keuangan, Infrastruktur, dan Perencanaan Priyo Hari Adi, Ph.D., Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan Profesor Eko Sediyono, serta Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kealumnian, Profesor Yafet Yosafat Wilben Rissy, sejumlah pimpinan fakultas dan direktorat, Perwakilan Komandan Korem (Danrem) 073/Makutarama Mayor Inf. Sukamto, serta forkopimda Kota Salatiga.
Melalui Night Festival OMB 2025, UKSW bukan hanya meneguhkan diri sebagai kampus multikultural dan kreatif, tetapi juga mewujudkan nilai-nilai Asta Cita 8 memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan dan budaya, serta toleransi. Selain itu, juga menegaskan komitmen UKSW terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-4 pendidikan berkualitas, SDGs 11 kota dan komunitas berkelanjutan.
Ning S













