blank
Peserta workshop LSSFF 2025 yang memenangi Lomba Ide Cerita mendapatkan bantuan dana produksi senilai Rp50 juta. foto : dok. Budpar Kota Semarang

SEMARANG (SUARABARU.ID) —  Kegiatan Workshop dan Mini Lab Lawang Sewu Short Film Festival (LSSFF) 2025 ditutup Sabtu malam 25 Oktober 2025, setelah selama tiga hari di Hotel Kotta Semarang.

Asisten Administrasi Umum, Wing Wiyarso Poespojoedho, secara resmi menutup kegiatan tersebut bersama dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari.

Mewakili Wali Kota Semarang, Wing mengatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, melainkan perjalanan kreativitas bagi para sineas muda. Ia menyebut, dari ruang belajar inilah ide-ide segar akan tumbuh dan berkembang menuju layar yang lebih luas di masa depan.

“Kita telah menyaksikan bagaimana ide, ketika dibimbing dengan ilmu dan semangat kolaborasi, bisa tumbuh menjadi cerita yang kuat,” katanya.

Dirinya juga menyampaikan apresiasi kepada para peserta dan pemenang Lomba Ide Cerita, yang mendapatkan bantuan produksi senilai Rp 50 juta.

Ia menekankan bahwa dukungan tersebut bukan sekadar hadiah, melainkan bentuk kepercayaan agar ide mereka benar-benar dapat diwujudkan menjadi karya nyata.

“Bantuan produksi ini adalah kepercayaan. Agar ide kalian benar-benar hidup di layar, bukan hanya di naskah,” katanya.

Pihaknya juga menyoroti pentingnya membangun ekosistem film lokal di Kota Semarang sebagai ruang bagi anak muda untuk belajar, berjejaring, dan berani bercerita.

Ia mencontohkan bagaimana festival-festival besar dunia seperti Sundance Film Festival di Amerika Serikat dan Busan Short Film Festival di Korea Selatan bermula dari ruang belajar serupa.

“Saya percaya, Kota Semarang bukan tidak mungkin menuju ke sana. Kita tidak kekurangan talenta, yang kita perlukan adalah ruang dan keberanian untuk terus mencoba,” katanya optimistis.

Kepada seluruh peserta, dirinya juga berpesan agar terus berkarya meski dengan keterbatasan fasilitas. Menurutnya, film tidak lahir dari peralatan mahal, melainkan dari empati dan pandangan hidup yang tulus.

“Setiap sudut kota, setiap kisah kecil di sekitar kita bisa menjadi cerita besar bila diceritakan dengan hati,” pesannya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan ini, mulai dari panitia LSSFF, Disbudpar, para mentor, hingga peserta.

“Semoga apa yang dimulai hari ini menjadi pijakan menuju ekosistem film yang lebih matang. Di mana Kota Semarang bukan hanya tempat syuting, tetapi rumah bagi para pencerita,” tutupnya.

Adapun pemenang Lomba Ide Cerita pada Workshop dan Mini Lab LSSFF 2025 adalah Iwan Resdiyanto dengan judul The Last Swing, yang bercerita tentang Arum (11), mengumpulkan dan menjual 38 bola golf bekas untuk membayar kegiatan PLS (Pelajaran Luar Sekolah), namun bola golf ke-38 para borjuis yang melayang, menghancurkan mimpinya secara tragis dan penuh ironi.

Hery Priyono