blank
Tempat ngetem (bongkar muat penumpang) BRT Trans Jateng di Wonogiri yang dilengkapi fasilitas sheltee, kini beralih fungsi menjadi tempat berjualan darurat para bakul korban pasar kobong.(SB/Bambang Pur)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Para bakul korban pasar kobong, beramai-ramai berebut tempat darurat untuk dapat tetap melakukan aktivitas berjualan. Mereka menyerbu lokasi yang sekiranya dapat dipakai untuk meneruskan kegiatan niaga, tidak peduli itu harus menyalahi aturan peruntukannya.

Kalangan bakul korban kebakaran Pasar Kota Wonogiri, menyatakan, terpaksa secara swadaya membangun sendiri tempat darurat guna melangsungkan berjualan. Tidak menunggu rencana pasar darurat yang kini tengah dirancang oleh Pemkab Wonogiri, tapi belum nampak tanda-tanda segera direalisasikan, meski kejadian pasar kobong telah berlangsung sejak Senin (6/10/25) lalu.

”Kami membangun sendiri tempat berjualan darurat ini,” tutur Ny Hj Pardi. Bakul yang berjualan aneka hasil laut, seperti bandeng dan beragam ikan asin serta bawang merah dan bawang putih ini, membangun tempat jualan darurat di lokasi parkir sisi depan pasar.

Ny Gianti, bakul yang biasa berjualan buah-buahan di lantai satu, nekat menggelar lembaran plastik di tepi jalan protokol (Jalan Jenderal Sudirman) sisi depan tenggara dari gerbang utama pasar. ”Pripun malih Mas, menawi mboten obah mboten mamah (Bagiamana lagi Mas, bila tidak berjualan tidak makan, maksudnya),” tuturnya.

Sebagian tempat parkir mobil Angkudes (angkutan pedesaan) dan Angkot (angkutan kota), serta tempat ngetem (meet up) BRT (Bus Rapid Transit) Trans Jateng Wonogiri-Sukoharjo-Solo, juga diperebutkan para bakul korban pasar kobong. Tempat ngetem BRT Trans Jateng ini, berada di sisi barat Terminal Angkot menyatu dengan Terminal Angkudes.

Sebagian bakul nekad menggelar dagangannya secara oprokan (tanpa meja, tanpa gerai almari pajang), tapi langsung di pelataran aspal yang dialasi lembaran plastik. Bagi yang tidak mendapatkan atap berteduh, memasang payung lebar, sekadar untuk bernaung dari sengatan sinar matahari.

Police Line

Tepian jalan di sisi selatan emplasemen Stasiun KA Wonogiri, juga diperebutkan untuk didirikan tempat darurat berjualan para bakul. Masing-masing membangun secara swadaya memakai kerangka kayu ukuran usuk (5×7) atau kayu ukuran 4X6, sebagai tiang penyangga di empat sudut, yang kemudian diberi atap seng.

blank
Tak sabar menunggu pembangunan pasar darurat yang rencananya akan dilaksanakan Pemkab, para bakul korban pasar kobong masing-masing berinisiatif membangun tempat jualan darurat dengan beaya swadaya.(SB/Bambang Pur)

Pita kuning bertuliskan Police Line dilarang melintas, dipasang mengelilingi bangunan Pasar Kota Wonogiri yang terbakar. Pintu gerbang pasar ditutup dan diberikan tulisan larangan untuk masuk ke dalam pasar. Polres Wonogiri Pimpinan Kapolres AKBP Wahyu Sulistyo, mendirikan tenda pos pengamanan di depan gerbang pasar, yang dijaga petugas sepanjang 24 jam nonstop.

Langkah ini untuk tujuan pengamanan demi menghindarkan gangguan negatif yang tidak diinginkan. Sebab bila tidak dilarang, lokasi pasar kobong akan dibanjiri pengunjung yang datang sekadar ingin melihat-lihat. Yang bila tidak diantisipasi, ini dapat berpotensi mengundang oknum tidak bertanggung jawab, yang bisa saja berbuat negatif melakukan pengambilan barang yang dianggapnya rongsokan, atau malah menjurus pada tindak penjarahan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Wonogiri Waluyo dan Kabid Lalu Lintas Dishub Joko Pramono, bersikap bijaksana dengan merelakan sebagian pelataran parkir digunakan untuk berniaga secara darurat oleh para bakul korban pasar kobong. Baik itu tempat parkir mobil Angkot dan Angkudes serta tempat ngetem BRT Trans Jateng.

Sebagai alternatifnya, tempat ngetem BRT Trans Jateng dipindah di tepi ruas Jalan Protokol (Jalan Jenderal Sudirman) depan Kantor Mall Pelayanan Publik (MPP). Yang lokasinya berseberangan dengan Makodim 0728 Wonogiri. Kepada masyarakat pengguna transportasi umum Wonogiri-Sukoharjo-Solo, diminta untuk mengawali pemberangkatannya start dari depan Kantor MPP.(Bambang Pur)