blank
Saat Malaysia mengklaim reyog sebagai kesenian Negeri Jiran, PA-KGPAA Sura Agul-agul Begug Poernomosidi Candra Kusuma Andana Warih (tengah berbusana putih-putih lengkap berkeris di dada), memimpin aksi demo para warok bersama para seniman reyog yang dikemas dalam nuansa budaya.(SB/Bambang Pur)

PONOROGO (SUARABARU.ID) – Warok adalah sebutan populer sosok tokoh seniman Reyog. Yakni pria gagah berani, berwibawa, berperan sebagai pendekar sakti (ampuh) di bidang kanuragan, dan pinunjul (memiliki kelebihan) dalam spiritual. Agar tetap sakti, Warok suka menjalani laku tirakat, rela menempuh jalan hidup pantang beristri dan menjauhi wanita.

Budayawan Jawa peraih Anugerah Bintang Budaya Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto MM, menyatakan, deskripsi tentang sosok Warok, ditulis dalam Ensiklopedi Kejawen pada Buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa, karya Drs Raden Harmanto Bratasiswara (Yayasan Suryasumirat, Jakarta 2000). ”Dituliskan pada halaman 864-865,” jelas Pranoto yang juga Abdi Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat.

Warok, senantiasa tampil dalam setiap pementasan kesenian Reyog. Di Nusantara, setidak-tidaknya ada tiga jenis reyog. Yakni Reyog Ponorogo, Reyog Kendang Kediri dan Barongan Reyog Blora. Yang keberadaanya memiliki akar historis yang panjang, diprediksikan telah ada sebelum masuknya agama (Hindu, Buddha, Islam maupun Kristen) ke Tanah Jawa.

Dari ketiga jenis reyog tersebut, yang paling populer adalah Reyog Ponorogo, Jawa Timur. Popularitasnya, tidak saja menyebar di seluruh pelosok Nusantara, tapi juga eksis di luar negeri. Komunitas seniman dari Sadupi (Sarana Duta Perdamaian Indonesia) Pimpinan Panembahan Agung Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati (PA-KGPAA) Sura Agul-agul Candra Kusuma Andana Warih Begug Poernomosidi, berulang kali mementaskan kesenian Reyog Ponorogo ke sejumlah negara manca.

Melalui Sadupi, Begug Poernomosidi, Bupati Wonogiri dua periode (2000-2010), berulang kali mementaskan Reyog Ponorogo ke Amerika saat digelar event tahunan Parade Bunga tingkat dunia di Pasadena. Sebagai Pemimpin Warok se Indonesia, Begug, yang memiliki daya sakti tahan menjilati batangan besi yang merah membara setelah dibakar api ini, juga pernah menggelar pementasan Reyog Ponorogo ke Singapura, Belgia dan Perancis.

Ketika Reyog diklaim sebagai kesenian aseli Malaysia, Begug langsung tampil terdepan memimpin aksi demo massa para warok dan para seniman reyog. Demo digelar dua kali, yakni di Alun-alun Kabupaten Wonogiri, dan ke Keduataan Besar (Kedubes) Malaysia di Jakarta.

UNESCO

Buntut dari aksi demo massa para warok, Reyog Ponorogo akhirnya diakui secara resmi sebagai Intangible Cultural Heritage warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini, telah mengukuhkan Reyog Indonesia menjadi warisan dunia. Ini dilakukan pada Sidang Ke-19 Komite Antarpemerintah Pelestarian Warisan Budaya Takbenda di Paraguay Tanggal 3 Desember 2024.

blank
Prabu Klana Sewandana diusung para Warok Reyog, saat berlangsungnya Festival Reyog Agustusan di Alun-alun Giri Krida Bakti Kabupaten Wonogiri.(Dok.Prokopim Wonogiri)

Warisan Budaya Takbenda adalah praktik, ekspresi, pengetahuan dan ketrampilan yang diakui oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya. Yang keberadaannya, diwariskan dari generasi ke generasi, dan seringkali beradaptasi seiring perjalanan waktu.

Pengakuan dunia ini, menjadi kebanggaan bagi Indonesia dan sekaligus menegaskan komitmen untuk melestarikan kesenian Reyog Ponorogo sebagai warisan dunia. Yakni seni pertunjukan yang kaya akan harmoni tari, musik dan mitologi, bagi generasi mendatang

Wonogiri memang bukan Ponorogo. Tapi masyarakat Wonogiri merasa cinta terhadap kesenian Reyog. Kecintaan Wonogiri terhadap Reyog Ponorogo, diwujudkan oleh banyaknya group reyog yang eksis, dan senantiasa bertumbuhkembang secara lestari dari generasi ke generasi.

Kualitasnya pun tidak kaleng-kaleng. Group Reyog Singa Muda dari SMK Negeri 2 Wonogiri, setidak-tidaknya pernah 5 kali meraih gelar Festival Reyog Nasional (FRN) di Alun-alun Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. FRN adalah event wisata budaya paling bergengsi yang digelar setiap datang Grebeg Sura. FRN di Ponorogo, Jawa Timur ini, memperebutkan piala bergilir Presiden RI Ke-6 Susilo Bambang Yudoyono.

Di bawah kepemimpinan Sesepuh Warok Ir Joko Purnomo MM, Kabupaten Wonogiri juga mengagendakan Festival Reyog pada Bulan Agustus untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), dan menggelar event Grebeg Syawal untuk mempertontonkan kiprah akbar pementasan reyog di Alun-alun Giri Krida Bakti Wonogiri.(Bambang Pur)