blank
Rombongan Santri Pondok Pesantren Al-Insaniyyah Salatiga berfoto di halaman Novisiat Girisonta yang luas dan sejuk. Foto: Dok penulis

Oleh Rabi’atul Adawiyah, Lc., M.S.I.blank

ROMBONGAN akademisi Muslim dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang bersama Santri Pondok Pesantren Al-Insaniyyah Salatiga berkunjung ke Novisiat Girisonta, tempat pendidikan awal para frater Jesui. Minggu, 3 Agustus 2025.

Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian silaturahmi lintas iman untuk lebih mengenal Serikat Jesus yang tak luput dari peran Frater Wahyu Mega, S.J. Sebelumnya, kunjungan bersama tokoh lintas agama dilaksanakan ke Provinsialat Serikat Jesus, serta napak tilas Misi Katolik Pertama di Jawa pada Februari dan April 2024.

Pengalaman kali ini terasa berbeda. Tidak sekadar forum diskusi akademik, melainkan juga ziarah spiritual, tempat di mana iman diuji lewat keterbukaan hati dan praktik hospitalitas.

Romo Niko memperkenalkan setiap sudut Girisonta yang sarat makna. Rombongan juga dapat melihat kegiatan Para Romo dan Frater yang saling bahu-membahu untuk menghidupkan karakter Katolik. Berkah semakin terasa ketika rombongan beruntung dapat bertemu dengan Romo Kardinal Julius Rijadi Darmaatmadja, S.J., yang mengajak untuk mengenang masa-masa perjumpaan beliau dengan K.H. Abdurrahman Wahid, Bapak Humanisme Indonesia.

Kehangatan sambutan, kesederhanaan suasana, dan ketulusan dialog yang terjadi menjadikan pengalaman ini lebih dari sekadar kunjungan persaudaraan. Ia menjadi ruang perjumpaan batiniah yang menghadirkan refleksi: Apa makna menjadi manusia beriman di tengah keberagaman?

Hospitalitas: Dari Konsep Relasi ke Spiritualitas

Secara etimologis, hospitalitas berasal dari bahasa Latin hospes, yang memiliki akar kata sama dengan hostis (tamu sekaligus orang asing). Dalam teologi Kristen, hospitalitas sering kali dilihat sebagai bentuk konkrit dari kasih—sebuah virtue yang menyambut orang lain dengan niat mengasihi, bukan menaklukkan.

Dalam Islam, prinsip ini paralel dengan konsep ikram al-dhayf (memuliakan tamu), sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada paparan materi mengenai Dialog, Koeksistensi dan Hospitalitas: Perjumpaan Antar Iman Perspektif Islam dan Katolik, Luthfi Rahman, S.Th.I., M.S.I., M.A. menekankan bahwa Hospitalitas bukan semata bentuk adab, tapi juga laku spiritual. Dosen FUHUM UIN Walisongo Semarang tersebut mengandaikan keterbukaan untuk membiarkan “yang lain” hadir tanpa rasa curiga berlebihan, menghindari Xenophobia, dan membuka kemungkinan bahwa Tuhan juga sedang menyapa lewat kehadiran orang asing itu.

Dalam konteks Indonesia yang plural, hospitalitas adalah jantung dari dialog antariman yang otentik dan setara. Dialog antariman bukan menjadi pilihan namun kebutuhan. Menurutnya, Kita tidak bisa mencintai orang yang tidak kita kenal, dan kita tidak bisa mengenal tanpa bersedia untuk mendengar.”

Firman Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 meniscayakan manusia tidak diciptakan dalam suatu keseragaman, namun berbangsa-bangsa dan berbeda agar saling mengenal, tentunya melalui dialog. Nabi Muhammad SAW memberikan teladan dengan menjalin Piagam Madinah sebagai model hidup bersama antara Muslim, Yahudi, dan lainnya secara adil dan damai.

Di Girisonta, sambutan para Romo dan Frater kepada kami bukan hanya dengan senyum dan tangan terbuka, tapi juga dengan kehangatan hati yang sulit digambarkan dengan kata. Di forum dialog dan meja makan melingkar tempat kami duduk bersama, tak ada superioritas, tak ada upaya meyakinkan siapa yang lebih benar.

Yang ada justru ruang—ruang untuk mendengar, memahami, dan menyentuh kemanusiaan satu sama lain.

Kami berdialog tentang titik temu antara Islam dan Katolik. Tentang sejarah yang kadang luka, kadang penuh mukjizat. Tentang bagaimana generasi muda dihadapkan pada tantangan polarisasi, budaya populer dan politik identitas. Namun lebih dari itu, kami berdialog tentang hospitalitas yang perlu kembali dikuatkan.

Belajar Menjadi Manusia yang Terbuka

Frater Halford berbagi sebuah pengalaman berkesan. “Ketika melaksanakan tugas kerasulan di daerah Tegalmelik, saya menyaksikan seorang anak muslim yang ikut bergabung dengan kami untuk membersihkan lingkungan. Ketika dalam perjalanan kami bertemu dengan teman-temannya sesama muslim yang lain, saya tidak menyangka mereka juga dengan riang gembira bergabung dengan kami,” ujarnya.

Kisah ini menunjukkan bahwa meski tidak seagama, tapi masyarakat Indonesia bisa sehati dalam kemanusiaan dan pelestarian alam. Anak-anak itu tidak bertanya soal afiliasi teologis, tidak meminta kejelasan batas antara Kristen dan Islam, tapi langsung ikut serta ketika melihat bahwa yang dilakukan adalah perbuatan baik: menjaga lingkungan, membersihkan kampung, dan merawat ciptaan.

Pengalaman tersebut mencerminkan bahwa keterbukaan bukanlah sesuatu yang hanya bisa diajarkan lewat ceramah atau kitab, tapi lebih sering ditularkan lewat keteladanan dan aksi nyata. Dalam momen-momen kecil seperti itu, nilai-nilai universal yang diajarkan semua agama—tentang kasih, kepedulian, dan kebersamaan—menampakkan dirinya tanpa perlu slogan.

Ironisnya, sebagian agamawan justru terlalu mengkhawatirkan batas identitas, sehingga lupa bahwa akar dari semua tradisi keimanan adalah pengakuan terhadap martabat kemanusiaan. Dalam hal ini, anak-anak justru menjadi guru kita: mereka tidak mempersoalkan perbedaan, sebelum kita – orang dewasa – mengajarkannya.

Di sisi lain, tugas kerasulan yang diimplementasikan Serikat Jesus mencerminkan pendekatan formasi Jesuit yang tak hanya berpusat pada kognisi, tapi juga pada transformasi personal dan relasional.

Dalam tradisi Jesuit, pembelajaran tidak terpisah dari praktik konkret: bagaimana menyapa, mendengarkan, dan menerima perbedaan sebagai bagian dari karya penyelamatan. Karena sejatinya, bukankah inti dari spiritualitas adalah keterbukaan hati—pada Tuhan, pada sesama, dan pada perjalanan yang tidak selalu kita pahami?

Keterbukaan Lintas Iman

Hal ini mengingatkan kami pada maqashid (tujuan) dari pendidikan Islam, terutama dalam pesantren, yaitu tahdzib al-nafs (pembersihan jiwa) dan ta’dib (penanaman adab). Namun realitas di banyak pesantren saat ini menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut belum selalu diterjemahkan menjadi keterbukaan lintas iman.