blank
Ilustrasi: tangkapan layar konten Youtube KDM. Insert: Buku “9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing”. Foto: Reka: SB.ID

Kata-kata yang serupa yang dulu sering dipakai misalnya “sosial media” yang diambil langsung dari Bahasa Inggris social media yang kemudian disingkat “sosmed”. Padahal mestinya adalah “media sosial” yang disingkat “medsos”. Untunglah sekarang sudah banyak yang menggunakan istilah “media sosial/medsos”.

Istilah “konten kreator” yang dalam kaidah Bahasa Indonesia sudah tidak tepat, kemudian muncul lagi istilah “ngonten”. Membuat konten disebut ngonten, sehingga ada pejabat yang disebut “gubernur konten”.

Istilah ngonten dalam konteks bahasa Indonesia jelas bukan kata baku. Memang content kemudian diserap menjadi konten (kata benda). Ketika menjadi kata kerja membuat konten seharusnya “mengonten” bukan “ngonten”. Tetapi kita merasa tidak enak menyebut kata “mengonten”, ya maka disebutlah ngonten.

Badan Bahasa apakah sudah menyiapkan kata baru untuk mengganti “ngonten” atau merasa tidak perlu dan kemudian memasukkannya ke dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi berikutnya?

Dari Daring hingga Rubanah

Coba lihat, Badan Bahasa dengan mudahnya membuat kata pengganti online menjadi “daring” offline menjadi luring. Kemudian mengganti kata basement rubanah, pencurian kendaraan bermotor langsung menjadi dari Bahasa yang sering dipakai polisi “curanmor”. Kata “kloter” semua saya menduga itu berasal dari bahasa Inggris “cloter”. Ternyata singkatan kelompok terbang.

Tahun 2045, ketika cita-cita Indonesia Emas itu (mudah-mudahan) tercapai, anak-anak tidak kenal lagi asal-usul kata daring yang singkatan dalam jaringan, luring untuk luar jaringan, apalagi rubanah untuk ruang bawah tanah. Juga ketika anak-anak itu menjadi dewasa dan hendak naik haji, masuk di kloter mana. Tidak paham bahwa kloter itu singkatan. Nah!

Bahasa Indonesia itu ibarat samudera. Bersedia menerima kata dari mana pun untuk kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia. Dan kita sudah tidak pernah merasakan atau bahkan tidak tahu bahwa kata-kata yang kita gunakan itu kebanyakan bukan kata dalam bahasa Indonesia.

Dari Bahasa Arab jelas banyak sekali, dari yang dulu sudah tidak terasa sebagai Bahasa Arab misalnya kata “lalim” dalam ungkapan “raja alim raja disembah raja lalim raja disanggah”. Tetapi belakangan kata itu tidak popular lagi dan kembali menjadi “dzalim, dzolim, zalim” ya, suka-suka yang menulis atau mengucapkan.

Dari Bahasa Sanskerta tidak terhitung seperti kata sementara (samanantara), mungkin (mumkin), darma, bineka, dan sebagainya. Juga bahasa Belanda untuk nama-nama tempat seperti Sekip/Sekipan yang semula tempat tersebut merupakan lapangan tembak, Bojong di Semarang dari kata boot jongen (anak/pemuda yang bekerja di kapal/anak perahu). Kemudia kata dasi yang mulanya dasje, telat (telaat) yang artinya terlambat, viets menjadi “pit” (sepeda dalam Bahasa Jawa), gordijn yang menjadi korden/gorden yang dalam Bahasa Sunda disebut “hording”. Harap diingat huruf /g /dalam Bahasa Belanda dilafalkan mirip /h/ atau /kh/, gulden diucapkan “khulden”, Magelang jadi “Makhelang”.

Dari bahasa Inggris juga tak terhitung, termasuk kata konten itu. Bahasa Cina apalagi, kata bakpia, bakpao, tauco, anglo, loteng. Belum lagi kita sering menyebut cepek (serratus) no(m)ban dua ribu. Bahkan mobil produksi Mitsubishi kita sebut L-sapek (L-300).

Maka Alif Danya Munsyi atau Remy Sylado atau Yapie Tambayong menulis buku 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing. Lihat saja orang pidato mengawali dengan Bahasa Arab lalu Ibrani, di dalamnya ada bahasa Inggris, bahasa slang, bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan diakhiri Bahasa Arab lagi.

Sekali lagi, bahasa Indonesia itu samudera, menerima kata dari Bahasa apa saja. Tetapi semestinya, kita jangan menelan langsung tanpa memasaknya atau mengunyahnya. Pengindonesiaan dan penyerapan kata-kata asing itu ada aturannya.

Ingat ungkapan “Bahasa Menunjukkan Bangsa”. Bila Bahasa yang digunakan Masyarakat di suatu bangs aitu baik, maka negeri itu baik. Kalau bahasanya berantakan, maka negeri itu sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya seperti saat ini.

R. Widiyartono, wartawan suarabaru.id, pemerhati masalah bahasa