blank
Kapten Timnas U23, Kadek Arel kecewa atas kekalahan timnya dari Vietnam di partai final. Foto: instagram

blankOleh: Amir Machmud NS

// takdirkah ini/ atau nasib/ yang memberi dan menuntun/ ke arah mana dia bergerak/ mencapai puncak/ atau berhenti di sebelumnya…//
(Sajak “Dalam Jejak Takdir”, 2025)

SEPAK bola meletakkan “takdir” dalam samar kesembunyian, dan lebih mengetengahkan “nasib” atau “intervensi” Dewi Fortuna di balik ikhtiar perencanaan yang matematis: dari taktik, teknik, fisik, atmosfer suporter, hingga peran pengadil.

Takdir boleh jadi beraksentuasi seperti nasib, bahwa sebuah tim mencapai kemenangan, seri, atau mengalami kekalahan ditentukan oleh aura spiritualitas “langit”; ada sesuatu yang tak verbal terbaca tapi dirasakan; ada nuansa tak terlihat tapi berperan.

Dan, hasilnya: siapa sang pemenang, atau siapa yang kalah, sudah seperti ditakdirkan, sesuai suratan, atau kita biasa menyebutnya “sudah menjadi garis tangan”.

Dan, garis tangan itukah yang memberi realitas: Indonesia gagal meraih juara Piala AFF U23, lewat kekalahan 0-1 dari Vietnam di Stadion GBK Jakarta, Selasa malam lalu?

Seperti sudah tergariskan, dalam dua final berturut-turut Garuda Muda dikalahkan oleh Vietnam. Dalam pertemuan sebelumnya pada edisi 2023, Young Golden Dragon menang 5-4 lewat adu penalti.

Final Ketiga
Bagi Indonesia dan Vietnam, final Selasa lalu merupakan yang ketiga. Pada 2019, di bawah pelatih Indra Sjafri, Indonesia mengalahkan Thailand 2-1 dalam final di Kamboja.
Berikutnya, pada 2023 di Rayong, Thailand, tim arahan Shin Tae-yong dikalahkan Vietnam lewat adu penalti.

Sedangkan Vietnam meraih final ketiga secara beruntun, sejak 2022, 2023, dan tahun ini, dengan menjadi juara.

Dalam tim Vietnam saat ini, tercatat enam pemain eks juara 2023. Mereka adalah Tran Trung Kien, Nguyen Van Truong, Khuat Van Kang yang menjadi kapten tim, Nguyen Quoc Viet, Nguyen Phin Hoang, dan Tran Trung Kien.

Indonesia juga membawa enam pemain dari edisi 2023, yakni Frengky Missa, Robi Darwis, Arkhan Fikri, Kadek Arel, Muhammad Ferarri, dan Daffa Fasya.

Dukungan luar biasa di Stadion GBK tak mampu memberi akhir manis bagi skuad Gerald Vanenburg. Kalah dalam penguasaan bola, Vietnam tampil dengan pertahanan solid dan disiplin di sepanjang laga, mampu meredam impresivitas ancaman Jens Raven dan Rayhan Hannan.

Duel keras itu memberi proyeksi tentang anak-anak muda yang bakal bersaing untuk menjadi “raja” Asia Tenggara, ditambah Thailand yang juga punya sederet calon bintang. Dari ketiga tim inilah tergambar seperti apa rivalitas di SEA Games nanti, dan konstelasi kekuatan di Piala ASEAN untuk level senior.

Catatan lain, Vanenburg mulai membangun tim untuk persiapan kualikasi Piala Asia U23, yang pada 2024 menjadi ajang monumental Marselino Ferdinand dkk. Waktu itu, dalam racikan Shin Tae-yong, Garuda Muda melaju hingga semifinal, antara lain mengalahkan Korea Selatan di perempat final.

Melawan Takdir
Membangun tim U23 sejatinya adalah memberi kontribusi proyeksi ke timnas senior. Bicara “takdir”, bukankah ini bagian peta jalan dari grand design untuk membina secara sistematis pemain di semua kelompok usia?

Ujungnya adalah tim senior yang terbentuk dari elemen-elemen produk terbaik tim kelompok umur.

Dari tim akademi inilah, apabila ditopang kompetisi teratur kelompok umur, ibaratnya kita “membangun takdir” dengan langkah-langkah sistematis. Bagaimana meningkatkan kualitas sumberdaya pemain, pelatih, dan seluruh elemen penopang kompetisi, infrastruktur, dan semua potensi eksplorasi teknis.

Langkah-langkah ini akan dirasakan hasilnya apabila dilakukan dengan konsisten dan disiplin kuat. Bukankah ini adalah hal-hal verbal yang bisa dilihat dan dirasakan?

Kita berikhtiar mengarahkan “takdir” itu sebagai kekuatan yang mewujud menjadi kepercayaan diri, memancarkannya sebagai energi modal bersaing. Merencanakan, melaksanakan, dan mengkreasinya.

Pelatih Timnas U23, Gerald Vanenburg, dari perspektif ini, mempunyai tanggung jawab sebagai penyuplai modal SDM untuk timnas senior racikan Patrick Kluivert yang diperkuat oleh banyak pemain diaspora.

Kekalahan di final Piala AFF U23 itu memberi pelajaran berharga bukan hanya bagi perjalanan kepelatihan Vanenburg, tetapi juga bagi sepak bola Indonesia secara luas.
Pasti akan terevaluasi apa saja kekurangannya. Pasti akan teranalisis apa saja perbaikan yang dibutuhkan. Konstelasi persaingan akan bergerak secara dinamis.

Dari lima pertandingan, Kadek Arel dkk dua kali memenangi laga pada waktu normal, sekali lewat adu penalti, sekali imbang, dan sekali kalah di partai puncak. Garuda Muda membukukan 10 gol dan kebobolan dua kali.

Tim Merah-Putih mencetak lebih dari satu gol ketika mengalahkan Brunei Darussalam, kemudian menang 1-0 lewat gol bunuh diri pemain Filipina, dan mencetak satu gol melawan Thailand. Saat menghadapi Malaysia dan Vietnam, tidak mencetak gol.

Vanenburg menilai, Indonesia bermain dengan baik, bahkan mendominasi. Yang tidak terjadi adalah bagaimana bisa mencetak lebih banyak gol. Mereka mendapat banyak peluang, tetapi sulit mengonversi menjadi gol. Dari game plan dan penampilan, tidak ada masalah. Tetapi bukankah target bermain sepak bola adalah mencetak gol?

Pelatih asal Belanda itu harus membenahi faktor itu. Pada 3-9 September nanti, Indonesia bertemu dengan Korea Selatan, Laos, dan Makau di Grup J babak kualifikasi Piala Asia U23 2026 di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo.

Ya, dari Piala AFF U23, tersodorkan realitas: rupanya kita belum sampai ke titik takdir menjadi “Pangeran ASEAN”, apalagi “Raja Asia Tenggara”. Sedangkan Vietnam, dengan desain pembinaan sepak bolanya, agaknya telah sampai ke sana…

Amir Machmud NS; wartawan suarabaru.id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah