SEMARANG (SUARABARU.ID) – Event tahunan Central Java Renewable Energy Investment Forum bertema “Unlokcing Renewable Energy and Green Industry Investment Potential in Central Java” digelar di Gumaya Hotel Kota Semarang, Kamis (26/6/2025).
Event ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah melalui DPMPTSP dan Institute for Essential Services Reform (IESR).
Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa menyebut, dunia sedang mengalami revolusi energi yang tidak dapat dihindari. Transisi ini didorong oleh tiga faktor utama, yakni komitmen iklim global melalui Paris Agreement, volatilitas harga energi fosil, dan kemajuan teknologi yang membuat energi terbarukan semakin kompetitif.
“Data International Energy Agency menunjukkan bahwa investasi global dalam energi bersih telah mencapai rekor tertinggi sebersar $2,1 triliun pada tahun 2024, yang naik 11% dari 2023 dan dua kali lipat dari 2022,” kata Fabby dalam sambutannya.
IEA memperkirakan investasi energi tahun ini akan mencapai $3,5 triliun, dimana investasi energi bersih akan mencapai $2,2 triliun, sedikit naik dari tahun lalu, dan mencapai 2 kali lipat dari dari investasi energi fossil. Ini berarti pemilik uang mencari proyek-proyek energi bersih di seluruh dunia untuk diinvestasikan.
Lanskap investasi hijau juga mengalami perubahan fundamental. Untuk dapat menangkap “investasi” hijau global, perlu memahami dinamika-dinamika,
Pertama, clean energy investment kini tumbuh dua, tiga kali lebih cepat dibanding investasi energi fosil. Investor global sebagian besar memfokuskan pendanaan pada aset-aset hijau atau yang berdimensi ESG dan meninggalkan proyek-proyek energi fossil yang kotor.
Kedua, trend investasi menunjukkan pergeseran geografis. Jika sebelumnya investasi energi terbarukan terkonsentrasi di Eropa dan Amerika Utara, kini emerging economies di Asia-Pacific mulai dilirik sebagai destinasi investasi. Walaupun demikian masih terdapat kesenjangan investasi di negara maju + China dengan negara-negara besar yang ekonominya bertumbuh (EMDE), seperti Indonesia.
Ketiga, pembiayaan inovatif seperti surat utang hijau (green bonds/sukuk), sustainability-linked loans (pinjaman yang terikat dengan keberlanjutan), voluntary carbon credits, dan platform pendanaan terdesentralisasi semakin menumbuhkan akses pada modal di negara berkembang.
Keempat, nature positive finance dan strategi transisi yang berkeadilan mulai muncul sebagai tema yang penting dimana integrasi keragaman hayati dan keadilan sosial menjadi pertimbangan dalam keputusan investasi.
Kelima, kolaborasi antar pihak public & private finance institution semakin marak. Saat ini lebh dari 500 bank pembangunan meningkatkan kerja sama dan kolaborasi dengan lembaga filantropi, non-profit, sektor swasta untuk memobilisasi pendanaan hijau.













