
Posisi dan Potensi Jawa Tengah
Jawa Tengah memiliki posisi unik dalam konteks transisi energi Indonesia. Sebagai jantung manufaktur daerah yang menyumbang 35% total PDRB Jateng dan menyumbang 3% dari total PDB Indonesia tahun 2023, provinsi ini menghadapi dual opportunity: mentransformasi existing industrial base menjadi lebih hijau, sekaligus mengembangkan new green industries.
Dari sisi natural resources, Jawa Tengah memiliki potensi solar energi yang sangat baik dengan rerata solar irradiation 5 kWh/m2/day. Potensi angin di wilayah pesisir utara dan selatan cukup menjanjikan dan juga potensi biomasa dari sektor pertanian dan kehutanan sangat melimpah, sementara potensi geothermal masih belum dimanfaatkan secara optimal.
“Keunggulan lokasi yang strategis tidak dapat diabaikan. Posisi Jawa Tengah di jalur ekonomi utama Indonesia, dengan akses ke pelabuhan utama seperti Tj Emas, Tj Perak Dan Tj Priok, yang didukung jaringan jalan tol memberikan competitive advantage dalam supply chain green industry,” terang Fabby.
Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah Provinsi
Berdasarkan best practices global dan analisis situational, IESR merekomendasikan lima action items prioritas untuk Pemerintah Provinsi Jawa Tengah:
Pertama, develop a comprehensive Green Investment Roadmap 2025-2035 yang mengintegrasikan renewable energy target, industrial transformation strategy, dan infrastructure development plan. Roadmap ini harus dilengkapi dengan clear milestones, investment incentives structure, dan monitoring mechanisms.
Kedua, membentuk unit khusus investasi hijau, sebagai one-stop service untuk investor hijau. Perlunya prosedur khusus dan insentif untuk investasi hijau.
Ketiga, launch the Green Industrial Park initiative di lokasi-lokasi kawasan industri di Jawa Tengah. Industrial parks ini harus dilengkapi dengan renewable energy infrastructure, circular economy design, dan smart manufacturing capabilities, yang tersertifikasi “hijau”. Ini termasuk sentra-sentra UMKM dan IKM.
Keempat, memperkuat kemitraan dengan institusi keuangan untuk memperkuat mekanisme pendanaan hijau. Ini termasuk green bonds issuance, blended finance facility dengan Bank Pembangunan Daerah sebagai anchor, serta BPR untuk mendanai proyek energi terbarukan skala mikro dan kecil, dan risk-sharing mechanisms untuk early-stage projects.
Kelima, investasi besar-besaran dalam human capital development melalui green skills training programs, kemitraan dengan perguruan tinggi untuk penelitian dan program untuk menarik talenta-talenta dalam bidang energi terbarukan dan industri hijau.
Ning S













