blank
Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa bersama Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko dalam Forum Investasi Energi Terbarukan Jateng 2025. Foto: Ning S (SUARABARU.ID)

Faktor-Faktor Daya Saing Investasi Transisi Energi

Sementara itu pengalaman global menunjukkan bahwa daya saing suatu negara atau region dalam menarik investasi hijau ditentukan oleh enam faktor kritis, yakni:

Pertama, policy certainty dan regulatory framework. Investor membutuhkan kepastian jangka panjang. Negara-negara dengan feed-in tariff yang stabil, carbon pricing mechanism yang jelas, dan roadmap energi nasional yang konsisten berhasil menarik investasi lebih besar.

Kedua, infrastructure readiness. Grid stability, transmission capacity, dan smart port infrastructure menjadi prasyarat investasi.

Ketiga, natural resource endowment. Ketersediaan sumber daya alam seperti solar irradiation, wind speed, geothermal potential, dan biomass availability menjadi competitive advantage fundamental. Indonesia memiliki keunggulan di hampir semua aspek ini.

Keempat, human capital dan innovation ecosystem. Ketersediaan skilled workforce, research institutions, dan startup ecosystem dalam clean technology menentukan sustainability investasi. Singapore berhasil menjadi regional hub untuk clean technology innovation melalui investasi dalam education dan R&D.

Kelima, financial ecosystem maturity. Akses terhadap green financing, development banks, blended finance mechanisms, dan local capital markets yang mendukung long-term investment menjadi enabler penting.

Keenam, government commitment dan institutional capacity. Political will yang kuat, institutional coordination yang efektif, dan implementation capacity pemerintah menjadi game changer dalam menarik investor jangka panjang.

Disampaikan, dalam konteks global tersebut, penting untuk memahami posisi Indonesia di mata investor dan pelaku bisnis. Energy Transition Index (ETI) dari World Economic Forum yang merupakan salah satu index untuk mengukur kemajuan dan kesiapan 120 negara dalam transisi energi dapat menjadi acuan kita.

Menurut ETI 2025, yang baru terbit minggu lalu, Indonesia berada di peringkat 58 dari 120 negara yang disurvei, turun dari posisi 54 tahun sebelumnya.

“Jika kita bandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, posisi Indonesia berada di peringkat ke lima di bawah Malaysia, Vietnam, Thailand dan Singapore. Ini menunjukan masih ada ruang untuk perbaikan. Dalam konteks ASEAN, Thailand, Singapura, dan Malaysia umumnya memiliki performa lebih baik dalam ETI, sementara Indonesia, Vietnam, dan Filipina masih menghadapi tantangan serupa terkait diversifikasi energi dan transisi dari ketergantungan bahan bakar fosil,” ungkapnya.