blank
Pemain Mesir dan Australia saling berangkulan usai kedua tim menyelesaikan laga, dengan penuh persahabatan. Foto: dok/fifa

blankOleh: Amir Machmud NS

// romantisme, itukah nuansa keindahan?/ dari momen-momen tak terduga/ itulah mengapa/ misteri sepak bola menjadi elok/ lewat kejutan-kejutan/ cinta, rasa/ dan, kadang ketidakmungkinan…//
(Sajak “Romantisme Sepak Bola”, 2026)

ROMANTISME seperti apakah yang lahir dari pesta sepak bola sejagat tahun ini?

Pesan cinta membuncah lewat ungkapan perasaan masyarakat Trijuana, Meksiko kepada tim nasional Iran, yang menggambarkan betapa sepak bola adalah permainan universal.

Pun, simaklah, banyak pernik yang muncul dari hasil-hasil fase gugur 32 besar.

Dari fase grup Piala Dunia 2026, lahir rekor-rekor, aneka kejutan, kegigihan, dan kepahlawanan yang berlanjut ke hasil-hasil babak 32 besar.

Skema yang muncul: sebagian tim arus utama melenggang, sejumlah tim unggulan teradang aral, tim-tim besar yang terpuruk lewat drama adu penalti, juga wakil Afrika yang lolos dengan prospek meyakinkan.

Di luar itu, Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini juga menyisakan kisah-kisah memedihkan. Iran, misalnya, merasa diperlakukan tidak adil oleh FIFA dan Amerika, hanya boleh bermain di Amerika namun harus tidur di Meksiko. Waktu tersita oleh kelelahan di perjalanan. Sepak bola pun kalah oleh pancaran energi politik.

Walapun tak terkalahkan dalam tiga penampilannya di Grup G, yakni 2-2 melawan Selandia Baru, 0-0 melawan Belgia, dan 1-1 menghadapi Mesir, namun diskriminasi dirasakan dalam laga terakhir. Gol Iran ke gawang Mesir dianulir oleh VAR karena Shoja Khalilzadeh dianggap dalam posisi offside.

Kegagalan Iran untuk melangkah ke 32 besar diluapkan dengan komplain satiris di ruang ganti Stadion Seattle. Tim Melli menggugat ketidakadilan yang mereka terima selama Piala Dunia.

Di balik itu, warga Trijuana ternyata memberikan dukungan moral kepada Mehdi Taremi dkk. Setiap saat, mereka menyambangi markas Iran, meminta foto bersama dan tanda tangan. Dua poster dibentangkan, “Iran will never walk alone, Mexico stands with you…”. Juga, “Football is universal language of love…”

Menjelang rombongan pulang menuju bandara, pelatih Iran Amir Ghalenoui membalas ungkapan cinta itu dengan pernyataan menyentuh, “Kami akan meninggalkan Meksiko, tapi hati kami berada di sini. Inilah pencapaian terbesar kami. Timnas Iran membawa cinta dan persahabatan dari rakyat Meksiko…”

Tim-tim Asia, selain Jepang dan Australia, mencatat hasil buruk. Langkah Qatar, Arab Saudi, Irak, Korea Selatan, Uzbekistan, dan Yordania terhenti di babak grup. Tim-tim ini — kecuali Korea yang semula menunggu nasib untuk menjadi salah satu yang lolos sebagai urutan ketiga –, gagal menunjukkan performa yang bisa bersaing di level dunia. Sesampai di negaranya, Taeguk Warriors bahkan diamuk oleh pendukung yang kecewa.

Wakil Asia akhirnya habis di 32 besar. Jepang dikalahkan Brazil, sedangkan Australia terhenti oleh Mesir lewat adu penalti.

Tanjung Verde
Kejutan terbesar dicatat Cape Verde. Debutan Piala Dunia yang mewakili Afrika ini melaju ke 32 besar. Termasuk, kelolosan Republik Demokratik Kongo, yang terakhir kali lolos ke Piala Dunia 1974 dengan nama Zaire, walaupun akhirnya dihentikan Inggris 1-2 setelah terlebih dahulu unggul 1-0.

Tanjung Verde yang menahan Spanyol 0-0 di fase grup, 2-2 melawan Uruguay, dan 0-0 dengan Arab Saudi harus menghadapi Argentina di 32 besar.

Vozinha dkk benar-benar menyulitkan Argentina di fase gugur. Mereka memaksakan perpanjangan waktu dalam skor 2-2, sampai gol bunuh diri Diney memastikan kemenangan 3-2 untuk Albiceleste.

Di laga ini, Lionel Messi makin menegaskan sebagai simbol distingsi Piala Dunia 2026. Pemain terbaik dunia ini membuktikan, usia hanya angka. Umur 39 tahun tak menghalanginya untuk mengorkestrasi permainan Argentina.

Tujuh gol yang dia cetak hingga laga melawan Tanjung Verde menjadi penanda rekor demi rekor, baik untuk dia pribadi maupun Piala Dunia. Sejak tampil di Piala Dunia 2006, dia membendaharakan 20 gol.

Jepang Melawan
Kegigihan Jepang melawan Brazil menyuguhkan salah satu duel terbaik di 32 besar. Samurai Biru telah berada di level elite. Jepang unggul terlebih dahulu, namun Tim Samba bisa comeback dan menang 2-1. Hasil ini merupakan revans atas kekalahan 2-3 dari Jepang dalam laga uji coba pada Oktober 2025.

Laga di fase kedua Piala Dunia di Houston ini menyajikan determinasi tinggi dari dua tim yang sangat berkelas. Dan, itulah ending-nya: duka bagi Jepang yang telah menunjukkan levelnya, lega bagi Brazil yang mampu mempertahankan habitatnya.

Romantisme hadir di babak gugur ini. Maroko menundukkan Belanda lewat drama adu penalti, juga Paraguay menjungkalkan Jerman dengan proses serupa. Kemapanan Belanda dan Jerman dipatahkan — bukan hanya diusik — oleh tim bukan unggulan.

Drama Belgia tak kalah menegangkan. Mereka diselamatkan oleh gol penalti Youri Tielemans pada menit 120+5 untuk mengalahkan Senegal 3-2. Sungguh, ini laga yang menguras saraf bagi Romelu Lukaku cs sebelum memperoleh tiket 16 besar.

Sejarah besar ditorehkan Mesir, yang lolos ke 16 besar setelah menundukkan Australia lewat adu penalti. Mohamed Salah dkk untuk kali pertama lolos ke babak gugur, dan sejauh ini berlanjut ke fase berikut.

Supercomputer & Spanyol
Prediksi Supercomputer dari perusahaan statistik olahraga Opta, hingga memasuki fase 16 besar, memosisikan Spanyol di urutan pertama kandidat juara, dengan persentase 16,1 dari simulasi yang digelar, diikuti Prancis (15,4 persen), Inggris ( 14,8 persen), Argentina (8,4 persen ), dan Brazil (8,3 persen). Kelimanya adalah tim arus utama setelah Jerman dan Belanda kandas.

Rekor pencetak gol mencatatkan romantisme tersendiri. Leo Messi berada di peringkat pertama dengan tujuh gol, disusul kapten Prancis Kylian Mbappe di peringkat kedua. Keduanya dibuntuti Erling Haaland (Norwegia) dan Hary Kane (Inggris) dengan 5 gol, Vinicius Junior (Brazil), Oesman Dembele (Prancis), Ismaila Sarr (Senegal) dan Mikel Oyarzabal (Spanyol) yang membukukan 4 gol.

Ya, Piala Dunia kali ini memang mempertontonkan persaingan produktivitas para seniman gol dari berbagai liga dunia.

Kita tunggu, kejutan apa lagi yang bakal lahir dari pesta sepak bola ini. Akan munculkah romantisme lain, seperti kisah penampilan impresif Kamerun pada 1990, Korea Selatan 2002, Jepang 2022, atau Maroko empat tahun silam?

— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id