
“Ketika mahasiswa diminta menanggapi persoalan sosial, muncul karya-karya advokatif seperti poster, film pendek, hingga pertunjukan seni. Ini cara kami membangun kesadaran sosial dan nasionalisme melalui pendidikan,” tambahnya.
Rektor UKSW juga menyoroti pentingnya riset yang berdampak dan UKSW terpanggil menjadi kampus yang berdampak. Disampaikan Rektor Intiyas, jejaring kerja sama UKSW dengan berbagai lembaga dilakukan untuk mendukung terwujudnya Sustainable Development Goals (SGDs), mulai dari penanganan stunting di Kota Salatiga yang melibatkan mahasiswa dan dosen secara aktif, live laboratory di Tomohon yang melibatkan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan untuk memberdayakan masyarakat di sana. Tidak hanya itu, UKSW juga hadir di Ende dalam pendampingan BUMDes dari awal riset sampai akhirnya masuk menjadi Desa Wisata.
“Dalam menjaga green ecosystem tiap tahun UKSW juga melakukan dengan penanaman pohon setiap tahunnya bekerja sama dengan pihak eksternal. Ketahanan pangan juga menjadi salah satu concern kami di mana UKSW menjadi pusat pembibitan gandum tropis dan UKSW punya kerja sama dengan UNHAN (Universitas Pertahanan Indonesia-red). Ini cara kami merawat nasionalisme,” papar Rektor Intiyas.
Profesor Intiyas menegaskan, nasionalisme adalah bagian dari identitas kampus Indonesia mini seperti UKSW. “Kami merawat Keindonesiaan dengan aksi nyata—dari stunting, lingkungan, hingga ketahanan pangan. Ini cara kami menyumbang bagi Indonesia Emas 2045,” tandasnya.
Keterlibatan UKSW dalam webinar nasional DPP PIKI menunjukkan peran aktifnya dalam mewujudkan SDGs nomor 4 pendidikan berkualitas, dan nomor 17 kemitraan mencapai tujuan.
Ning S













