blank
Rektor UKSW, Profesor Intiyas Utami jadi pembicara dalam webinar Harkitnas DPP PIKI. Foto: UKSW

SALATIGA (SUARABARU.ID) – Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Profesor Intiyas Utami menjadi salah satu pembicara dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP PIKI), belum lama ini.

Webinar yang mengangkat tema “Strategi Meningkatkan Nasionalisme dalam Memaknai 117 Tahun Kebangkitan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045” ini diikuti oleh anggota DPP PIKI dari seluruh Indonesia dan diselenggarakan secara daring melalui platform zoom.

Webinar dibuka oleh Ketua Umum DPP PIKI Dr. Badikenita Sitepu, SE, SH, M.Si., dan dihadiri pengurus dan anggota dari seluruh Indonesia. Apresiasi positif disampaikan Dr. Badikenita atas keterlibatan para pembicara. Disampaikan Dr. Badikenita Sitepu, webinar ini diselenggarakan untuk memaknai 117 tahun kebangkitan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam sambutannya, Dr. Badikenita mencontohkan beberapa kasus yang hangat diperbincangkan masyarakat termasuk di media sosial, antara lain meninggalnya seorang istri yang akhirnya diketahui dibunuh suaminya di Cirebon, kejadian di Kendari seorang anak mengalami bullying dan meninggal dunia, serta kasus Raja Ampat yang sedang hangat diperbincangkan di media sosial. Beberapa isu nasional terkait konflik sosial dan keluarga ini juga berkaitan dengan bagaimana saat ini kita memaknai nasionalisme.

“Kenapa orang bisa tanpa rasa bersalah mem-bully dan mengakibatkan anak meninggal dunia, bagaimana dengan Raja Ampat. Media sosial ternyata lebih ampuh daripada penegakan hukum itu sendiri. Apa yang terjadi di daerah dan nasional membuat kita harus bisa mempertimbangkan intelegensia kita, apa yang kita pikirkan, kita ucapkan, dan apa yang kita lakukan. Saat ini yang menjadi tantangan kita adalah bagaimana kita mempertahankan dan meningkakan rasa nasionalime. Kiranya diskusi bisa memberi manfaat dan rekomendasi,” kata Dr. Badikenita Sitepu.

Selain Rektor UKSW, hadir juga sebagai pembicara adalah Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Widuri Profesor Dr. Robert M.Z. Lawang, dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Kristen Indonesia Assoc. Profesor Dr. rer. Pol. Ied Veda R. Sitepu.

Keikutsertaan Rektor UKSW dalam forum strategis nasional ini mempertegas posisi UKSW sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif merespons isu kebangsaan, sekaligus menunjukkan kontribusi nyata kampus dalam merawat dan menumbuhkan nilai nasionalisme melalui pendidikan.

Dalam paparannya, Profesor Intiyas menyampaikan, bahwa strategi peningkatan nasionalisme harus dimulai dari dunia pendidikan. Ia memaparkan tiga pendekatan utama yang diterapkan di UKSW, yaitu menghasilkan lulusan dengan profil Creative Minority, pembelajaran yang terintegrasi dengan pengabdian masyarakat dan penelitian, serta peningkatan sarana prasarana yang ramah lingkungan, humanis, dan manis.

“Profil lulusan creative minority adalah minoritas yang berdaya cipta. Minoritas yang kami maksud bukan sekadar kelompok agama, melainkan mereka yang mampu menjadi pelopor perubahan. UKSW terpanggil untuk mencetak pemimpin yang menjadi agen perubahan, yang mampu membimbing masyarakat dengan nilai-nilai kebangsaan,” tegasnya.

Ia juga mencontohkan bagaimana semangat nasionalisme diterapkan melalui berbagai program kampus antara lain dengan mengenakan ornamen etnis pada Ibadah Senin, program kepemimpinan mahasiswa yang dikonversi ke SKS, hingga aksi sosial nyata seperti membersihkan sungai bersama warga. Di sisi kurikulum, UKSW mengembangkan Kurikulum Talenta Merdeka yang mendorong mahasiswa untuk menghasilkan inovasi, bukan hanya karya ilmiah atau skripsi biasa.