BANYUWANGI (SUARABARU.ID) – Nasi Tempong atau Sego Tempong, merupakan salah satu makanan tradisional Banyuwangi, Jawa Timur. Yakni nasi (sego) yang disajikan dengan berbagai lauk pauk, lalapan dan sambal khas tempong (tampar). Yang dalam Bahasa Osing artinya sangat pedas, terasa seperti “menampar” lidah dan rongga mulut.
Osing, adalah suku aseli Banyuwangi, Jawa Timur, Disebut pula Suku Jawa Osing atau Wong Blambangan. Mereka adalah keturunan Kerajaan Blambangan, yang dulu kerajaannya berpusat di wilayah Banyuwangi.
Raja Blambangan yang terkenal adalah Prabu Tawangalun II atau Kangjeng Susuhunan Prabu Agung Tawangalun II. Ia adalah raja Blambangan yang pernah memerintah dua kali, yaitu antara Tahun 1649-1652 dan 1655-1691. Prabu Tawangalun II dikenal karena perannya dalam Perang Trunajaya, di mana ia membantu Pangeran Trunajaya melawan Kesultanan Mataram.
Selain Prabu Tawangalun II, tokoh lain yang terkait dengan Kerajaan Blambangan adalah Menak Pentor (Patu Pentor) yakni putra Bima Koncar yang memerintah Blambangan pada abad Ke-16, Yang di bawah pemerintahannya, Blambangan menjadi kerajaan yang kuat dan makmur. Kemudian Wong Agung Wilis (Pangeran Putra II), yaitu Raja Blambangan terakhir yang pernah berkuasa pada periode 1763-1764 dan 1767-1768, dan memimpin perlawanan terhadap VOC. Kecuali itu, Menak Sembuyu, Raja yang mengadakan sayembara untuk menyembuhkan Dewi Sekardadu.
Banyuwangi, kabupaten yang memiliki 127 event wisata, dijuluki The Sunrise of Java, karena lokasinya yang berada di ujung timur Pulau Jawa, dan menjadi wilayah pertama yang terkena sinar matahari terbit di pagi hari.
Kepala Dinas Kebudayaan Pariwista Kabupaten Banyuwangi, Taufik Raochman, menyebut, Nasi Tempong, menjadi salah satu produk kuliner unggulan jenis makanan tradisional khas Banyuwangi. ”Rasanya tidak lengkap, bila berkunjung ke Banyuwangi tidak menikmati Nasi Tempong,” jelas Taufik Rochman saat menerima kunjungan kerja (Kunker) para Pimpinan DPRD Kabupaten Wonogiri.
Mbak Har
Tim DPRD Kabupaten Wonogiri terdiri atas Supriyanto, Titik Sugiyarti, Sutoyo, Ari Sumantri, Suyoto, Dani Mursito, Astarno, Mariji, Heru Sukoco dan Nyamik Saptati. Mereka didampingi Kabag Umum Sunardi dan Kabag Persidangan Wasis Pambudi beserta sejumlah staf Sekretariat Dewan. Juga melibatkan Wakil Bupati Wonogiri Imron Rizkyarno.
Ikut serta dalam kegiatan tersebut, para wartawan mitra DPRD Kabupaten Wonogiri. Terdiri atas Bambang Pur (suarabaru.id), Joko Santosa (KR), Wibatsu Ari Sudewo (Jawa Pos), Tulus PE (Jatengpress.com), Erlangga Bima Sakti (Tribune), Aris Yulianto (Joglosemar), Aris Munandar (Kabar Wonogiri), Noto (TA TV) dan Fendy (Radio Giri Swara).
Taufik Rochman memberikan nama-nama warung makan Nasi Tempong yang direkomendasikan. Salah satu diantaranya adalah Warung Makan Nasi Tempong Mbak Har. Lokasinya di depan bagian timur laut Objek Wana Wisata (Forest Trourism) De Djawatan. Yakni hutan wisata yang berlokasi di Benculuk, Cluring, Kabupaten Banyuwangi.
Sebagai Warung Nasi Tempong yang recommended, pada dinding warung dipasang sejumlah foto pejabat dan selebretis. Juga ditempel sertifikat ‘Layak Konsumsi’ yang dikeluarkan oleh Kepala Unit Pelaksana Dinas Teknis (UPTD) Puskemas Benculuk Hj Tatiek Setyoningsih MM, MKes.
Benar, sambal Osing pada Nasi Tempong memang terasa menampar semua saraf perasa di lidah dan awet tertinggal di rongga mulut. Menjadi jenis sambel petir yang terasa hooo haaah. Yang dampaknya, cepat meludeskan nasi di piring, bersama lauk ayam bumbu rujak berikut semua lalapan, plus tempe dan tahu gorengnya.
Kecuali Nasi Tempong, banyak pilihan masakan khas Banyuwangi. Seperti Soto Rujak, Sego Cawuk, Sego Kalak dan Ayam Kesrut. Juga ada hidangan Pecel Pitik, Botok Tawon, Nasi Tempong, dan Pindang Koyong dan Tahu Walik. Untuk jajanan Khas, ada Kue Kering Bagiak, Kue Manis Petulo dan Jongkong, Kue Basah Tambang dan Kue Bungkuk. Jangan lupa, nimkmati pula kuliner khas Ladrang Sabrang, Kopi Osing dan Savana Cake.(Bambang Pur)













