blank
Bupati Afif Nurhidayat akan memperluas lapangan Garung Butuh Kalikajar Wonosobo agar bisa menampung lebih banyak jamaah. Foto : SB/dok Diskominfo

 

WONOSOBO(SUARA BARU.ID)-Bupati Wonosobo Jawa Tengah Afif Nurhidayat berniat akan memperluas lapangan Garung di Desa Butuh Kecamatan Kalikajar Wonosobo

Sebab, lapangan di kaki Gunung Sumbing itu, sejak beberapa waktu terakhir ini, jadi primadona warga setempat, wisatawan dari luar kota maupun turis mancanegara untuk melakukan sholat jemaah Idul Adh.

Pada moment sholat Idul Adha 1446 H kemarin lapangan sepakbola itu penuh-seluruh dengan jemaah. Bahkan jamaah sampai meluber ke luar lapangan dan membuat shof sholat jamaah di lahan warga karena lapangan tidak mampu menampung seluruh jamaah yang ada.

blank
Shalat Idul Adha 1446 H dengan latar belakang Gunung Sumbing di lapangan Garung Butuh Kalikajar Wonosobo. Foto : SB/dok Diskominfo

Kenapa lapangan Garung jadi primadona untuk sholat Idul Adha? Ya, karena tempat shalat ini berada di lokasi yang indah dengan panorama alam Gunung Sindoro di depannya dan Gunung Sumbing di atasnya.

Foto dan video lapangan Garung yang viral di media sosial belakang ini, membuat banyak orang ingin merasakan sensasi shalat Idul Adha di tempat tersebut. Maka dari itu, lapangan Garung pun sampai overcapacity.

Afif Nurhidayat menyebut jumlah pengunjung mencapai 15.000 orang. Sementara, kapasitas lapangan hanya 5.000 orang. Banyak pengunjung yang tidak kebagian tempat shalat Idul Adha. Beberapa orang shalat di tempat ala kadarnya, seperti di lahan warga.

“Lapangan Garung akan kami perluas. Kapasitas ini sangt terbatas. Pas shalat IdulAdha dimulai, banyak warga yang sampai shalat di lahan dan rela menggelar sajadah di sana. Agar bisa menampung lebih banyak jamaah ke depan lapangan Garung perlu diperluas,” perintahnya.

 

Sebagai Kepala Daerah, dia mengaku akan bertanggung jawab. Nanti akan dicari skema bagimana agar bisa memperpanjang dan memperluas lapangan ini sehingga bisa menampung lebih banyak jemaah.

 

Selain itu, shalat Idul Adha di lapangan Garung, menurut dia, seolah sudah menjadi event wisata tahunan. Karena itu, ke depan diupayakan untuk ditambahkan atraksi wisata religinya.

 

“Kita punya ikon balon udara. Ke depan kita bisa upayakan untuk diselenggarakan di sini sebelum shalat Idul Adha. Bahkan mungkin ditempat lain, seperti di kaki Gunung Sindoro, ada lapangan yang punya view lebih indah untuk sholat Idul Adha” ujar Afif.

 

Bupati Wonosobo yang hadir bersama keluarga dan Camat Kalikajar menyampaikan rasa syukur dan bangga bisa melaksanakan shalat Idul Adha bersama warga di lapangan Garung.

 

Dia menyatakan momentum tahun ini sangat spesial karena sejak dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB, lapangan Garung sudah mulai dipadati jamaah yang mengikuti salat subuh berjamaah.

 

“Jarang kita temui shalat subuh dilaksanakan di lapangan terbuka seperti ini. Tapi kali ini luar biasa. Jalanan sudah padat merayap.

Lapangan penuh bahkan sampai ke kebun tembakau. Ini membuktikan antusiasme tinggi dan keindahan lokasi yang jadi daya tarik,” ujar Bupati.

 

Wisata Religi

 

Afif menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Desa Butuh seluruh warga yang telah bergotong-royong menyukseskan acara tersebut. Ke depan kegiatan ini bisa ditata lebih baik lagi sebagai pengembangan destinasi wisata religi unggulan Wonosobo.

 

Camat Kalikajar, Aldhiana Kusumawati menambahkan pihaknya mengapresiasi perayaan yang luar biasa ini. Pengunjung yang datang benar-benar di luar dugaan. Apalagi ternyata banyak juga wisatawan yang datang dari luar daerah bahkan dari luar negeri.

 

Pihaknya menyampaikan permohonan maaf apabila ada pengunjung yang tidak mendapatkan tempat shalat sesuai yang diharapkan. Esensi perayaan ini adalah kebersamaan, empati, dan semangat berbagi dalam suasana Idul Adha 1446 H.

 

“Barangkali ini menjadi cermin bagaimana Allah mengajak kita merasakan empati yang sama dengan saudara-saudara kita yang sedang berdesakan di Tanah Suci. Tapi yang paling membanggakan adalah gotong royong luar biasa dari warga Garung Butuh Kalikajar,” sebutnya.

 

Mereka, katanya, bukan hanya menyambut tamu dengan hangat, tapi juga menunjukkan kohesi sosial yang patut dijaga. Perlu pengembangan teknis pelaksanaan ke depan. Salat Id Adha maupun Idul Fitri bisa dijadwal secara bergelombang. Ada sistem reservasi dan penataan kawasan agar lebih tertib serta nyaman.

 

Sementara itu, Ketua PHBI Idul Adha 1446 H, Agus Wangidul Ma’ruf, menyampaikan bahwa rangkaian acara tahun ini tidak sekadar difokuskan pada pelaksanaan Salat Idha.

 

“Tetapi shalat Idul Adha yang dikemas lebih luas dalam bentuk Islamic Culture Festival (ICF). Salah satu kegiatan yang paling menarik adalah Sedekah Jajanan Warga (Sejawat) untuk tamu yang hadir,” katanya.

 

Selain itu, menurutnya, warga setempat juga mengadakan pasar oleh-oleh, kegiatan Hari Sarjana atau Hari Sarungan Jalan-Jalan, dan pembagian makanan khas Wonosobo. Seperti 1.446 tusuk sate saat buka puasa Arafah, 1.446 porsi nasi megono dan 1.446 cup carica yang dibagikan kepada pengunjung saat perayaan Idul Adha.

 

“Ini adalah cara kami mengemas budaya dan religiusitas dalam satu semangat. Meski jumlah jemaah mencapai tiga kali lipat dari tahun sebelumnya dan banyak yang tidak bisa tertampung di dalam lapangan, kami tetap berusaha memberikan pengalaman terbaik,” ujar Agus.

 

Dia juga menyebut bahwa agenda ini ke depannya akan terus dikembangkan dengan penambahan kegiatan baru, serta penertiban yang lebih baik untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung.

 

Sebagai bentuk dukungan konkret, Bupati Wonosobo turut memberikan hibah kurban berupa satu ekor sapi. Sapi qurban selanjutnya dipotong oleh warga dan tiga masjid di sekitar Desa Butuh secara mandiri.

 

Pemkab Wonosobo berkomitmen menjadikan kawasan lapangan Garung sebagai salah satu ikon wisata religi nasional. Tempat ini perlu dikembangkan secara kolaboratif tanpa mengubah tradisi dan kearifan lokal yang telah terjaga secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

 

Perayaan Idul Adha 1446 H di Lapangan Garung bukan hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga representasi dari kekuatan sosial, budaya dan gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat pedesaan.

 

Muharno Zarka