
Inisiatif ini juga mendorong penguatan pembiayaan hijau melalui Platform Investasi Hijau ASEAN dan pengembangan taksonomi hijau. Selain itu, AETI menekankan pentingnya harmonisasi kebijakan energi antar negara anggota, pengembangan tenaga kerja berkeahlian hijau, serta pembentukan pusat riset dan inovasi untuk menjadikan ASEAN sebagai blok ekonomi rendah karbon yang tangguh dan kompetitif secara global.
Arief Rosadi, Manajer Program Diplomasi Iklim dan Energi di Institute for Essential Services Reform (IESR), menjelaskan, KTT ASEAN ke-46 belum cukup menyelesaikan tantangan kelembagaan ASEAN dalam merencanakan dan melaksanakan aksi mitigasi isu iklim dan energi secara komprehensif di tingkat regional.
“Salah satu tantangan aksi mitigasi iklim dan akselerasi transisi energi di ASEAN terdapat pada kesenjangan (gap) kelembagaan. Isu iklim dikelola dalam Pilar Sosial Budaya ASEAN, sedangkan isu energi dikelola oleh Pilar Ekonomi ASEAN. Hal tersebut menyebabkan proses perencanaan dan pelaksanaan mitigasi iklim di sektor energi tidak optimal. Oleh karena itu, kedepannya ASEAN perlu menguatkan koordinasi antar pilar kerja sama ASEAN,” jelas Arief.
Ning S













