SEMARANG (SUARABARU.ID) — Dalam momentum peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2025, Balai Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Hukum Jawa Tengah meneguhkan diri sebagai Kampus Pancasila. Tak sekadar slogan, komitmen ini diwujudkan melalui inovasi terstruktur yang menjadikan lingkungan kelembagaan sebagai ruang hidup nilai-nilai dasar bangsa. Dari lanskap kawasan hingga aktivitas pelatihan, seluruhnya diarahkan untuk menanamkan karakter Pancasila secara konkret dan berkelanjutan.
Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi menyongsong predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). “Untuk mewujudkan birokrasi yang bersih dan melayani, karakter menjadi kunci. Maka, Pancasila harus menjadi napas kerja kita sehari-hari,” ujar Kepala Badiklat Hukum Jawa Tengah, Rinto Gunawan, dalam peringatan Hari Lahir Pancasila di Semarang, Senin (2/6/2025).
Langkah inovatif yang dilakukan adalah penetapan zonasi sila Pancasila di lingkungan Badiklat. Kawasan institusi kini dibagi menjadi lima zona, masing-masing merepresentasikan sila Pancasila dan difungsikan sebagai episentrum pembelajaran nilai. “Kami ingin seluruh pegawai, peserta pelatihan, dan tamu merasakan bahwa Pancasila hadir, bukan sebagai wacana, melainkan sebagai praktik ruang,” lanjut Rinto.

Zona Ketuhanan ditempatkan di area lapangan apel dan Gedung A, sebagai tempat pembinaan spiritual dan apel integritas. Zona Kemanusiaan terdapat di lapangan outdoor dan Gedung B, difokuskan untuk pelatihan yang menumbuhkan empati, hak asasi, dan keadaban. Zona Persatuan menempati lapangan hijau, dilingkupi dua pohon beringin yang simbolik, menjadi ruang refleksi akan pentingnya kebhinekaan dan sinergi.
Sementara itu, Zona Kerakyatan dirancang di area bakal masjid dan rumah dinas. Tempat ini disiapkan sebagai ruang musyawarah dan pertemuan informal yang memfasilitasi dialog kebijakan berbasis aspirasi. Zona terakhir, Zona Keadilan, berada di Sport Center, menjadi ruang pembelajaran pentingnya sportivitas, kejujuran, dan distribusi kesempatan yang adil dalam kerja birokrasi..
Pendekatan zonasi ini merupakan bagian dari transformasi Badiklat sebagai organisasi pembelajar, di mana pembelajaran tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi meresap ke dalam ekosistem kerja. Dalam konteks ini, Badiklat juga mengembangkan modul pelatihan dengan paradigma experiential learning, yang menyatu dengan atmosfer zonasi tersebut.
Sebagai wujud tindak lanjut, Widyaiswara Badiklat, Muh Khamdan, tampil sebagai narasumber dalam materi Kepemimpinan Pancasila pada Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan 75 di lingkungan Kementerian Hukum. Dalam sesi yang digelar Selasa (3/6/2025), ia menekankan pentingnya integrasi antara wawasan kebangsaan, etika pelayanan publik, dan semangat nusantara sebagai fondasi kepemimpinan birokrasi yang bersih melayani.
Khamdan menjelaskan bahwa pemimpin birokrasi hari ini tidak cukup hanya adaptif dan strategis, tetapi juga harus ideologis dan berakar pada nilai-nilai bangsa. “Kalau pemimpin hanya mengejar target tanpa integritas Pancasila, maka akan rapuh. Kita perlu kepemimpinan bernurani, yang menjunjung kemanusiaan, keadilan, dan musyawarah,” ujarnya dalam sesi yang diikuti oleh peserta dari berbagai unit utama Kementerian Hukum dan provinsi.
Inisiatif ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya cita pertama, yaitu memperkokoh ideologi Pancasila dan hak asasi manusia. Di tengah tantangan globalisasi dan pergeseran nilai, Badiklat Hukum Jawa Tengah berupaya membumikan Pancasila sebagai ekosistem yang hidup dan bergerak. Sebuah langkah pembelajaran kelembagaan yang tak hanya membentuk pegawai, tetapi membangun karakter bangsa.
Dengan pendekatan holistik ini, Badiklat bukan hanya tempat pelatihan teknokratik, melainkan menjadi laboratorium nilai, sebuah proving ground untuk menyiapkan aparatur sipil negara yang tak hanya kompeten, tetapi juga pancasilais. Di sinilah Kampus Pancasila menjelma, tidak hanya di spanduk peringatan, melainkan di denyut etika kerja dan keseharian seluruh insan birokrasi.
Hadepe – MKN













