blank
Ilustrasi. Reka: SB.ID

Corak perekonomian gresek-gresek memang sedang banyak terjadi,  dan salah satu indikasi yang memrihatinkan ialah karena corak seperti itu  cenderung berkaitan dengan benda-benda yang tergolong ora mbejaji. Lagi-lagi maaf seribu maaf, minta ampun seribu ampunan.

Ora mbejaji, bacalah  mbejaji seperti Anda mengatakan berjanji; akar katanya aji, yang berarti (i) duwe keluwihan, memiliki kelebihan (lihat aji-aji); (ii) ana regane, berharga, bermakna.

Nah………. karena ora bermakna negasi atau berlawanan, juga kosok-bali; maka ora mbejaji berarti segala sesuatu yang tidak berharga.

Barang-barang disebut ora mbejaji jika sebenarnya barang itu tidak berharga, atau kalau pun berharga pasti amat rendah. Seperti menjual gedang kepepet tadi, pasti harganya murahhhhh atau rendahhhhh banget; meski  begitu dilakoninya karena serba terdesak berhubung tidak memiliki barang lain yang saat itu dapat dijual sementara kebutuhan hidup untuk makan mendesak sekali.

Baca juga Taktik Pansos: Legawa

Namun, ora mbejaji  bukan hanya terbatas untuk barang karena  harganya sangat rendah. Ora mbejaji dapat diberlakukan  juga untuk orang atau institusi  dengan segala sikap maupun keputusannya.

Seseorang dapat disebut ora mbejaji manakala perilaku, sikap atau pun kebijakan/keputusannya jebul ora mutu, misalnya. Mau contoh? Lihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya hanya karena mementingkan kepentingan diri atau keluarganya. seseorang banjur ngrebut darbeke liyan, merebut peluang/harta  yang sebetulnya milik orang lain. Adakah orang bersikap ora mbejaji seperti itu? Akehhhhhh, likkkkkkk.

Pesan moralnya jelas. Apabila kondisinya serba kepepet. Lebih-lebih orang miskin pasti gresek-gresek nan ora mbejaji. Oleh karena itu, segala kebijakan pemerintah hendaklah jangan sampai menyiptakan kondisi kehidupan yang serba kepepet.

Ambillah kebijakan yang benar-benar menjadikan rakyat sebagai indikator pengukur utama dalam berkeputusan. Jika di sana-sini masih saja ada kondisi kehidupan serba gresek-gresek, yang artinya mencari-cari serba tidak pasti, nah……. tinjaulah segera: Jangan-jangan keputusan Anda tergolong keputusan sing ora mbejaji di mata masyarakat.

Seorang bupati suatu hari bertemu dengan seorang ibu di sebuah rumah sakit. Ibu itu membawa anaknya yang sedang sakit. Bupati menyapa: “Bu, berapa jumlah semua anak ibu kecuali yang sakit ini?”

Ibu itu menjawab: “Empat, Pak.” Pak Bupati segera menimpali: “Wahhhhh, betapa mahalnya biaya kehidupan ibu untuk anak-anak itu. Coba ibu dulu ikut KB.”

Ibu itu menjawab segera: “Pak, saya tidak pernah menghitung, karena yang terpenting adalah kami memelihara dan membesarkan anak-anak.”

Kata-kata siapa sangat ora mbejaji dalam percakapan singkat ini?

JC Tukiman Tarunasayoga, pengajar Pengembangan Masyarakat di Pascasarjana UNS Surakarta dan SCU Semarang.