blank
Peserta Dialog Budaya bertajuk“Menyongsong Hari Lahir Pancasila, Menguatkan Akar Kebangsaan Indonesia”, di Ruang Pertemuan Sultan Hadirin Kantor OPD Bersama Lantai 3 Jepara, Kamis, 29 Mei 2025. Foto: Amaliyatul HR

JEPARA (SUARABARU.ID) – Dalam rangka  peringatan  Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni, Yayasan Kartini menggelar Dialog Budaya bertajuk “Menyongsong Hari Lahir Pancasila, Menguatkan Akar Kebangsaan Indonesia”, di Ruang Pertemuan Sultan Hadirin Kantor OPD Bersama Lantai 3 Jepara, Kamis, 29 Mei 2025.

Hadir juga Bupati Jepara Witiarso Utomo yang diwakili Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Jepara  Arif Darmawan dan anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Andang Wahyu Triyanto.  Ada yang menarik dalam acara ini, saat menyanyikan lagu Mars Jepara yang dipimpin oleh Mahmuda diiringi langsung oleh Kris Boediyanto, pencipta aransemen lagu tersebut.

blank
Narasumber Prof Dr Alamsyah, S.S, M.Hum (Dekan Fakultas Ilmu Budaya Undip Semarang), Udik Agus DW ( pendidik), Fakrudin Brodin (budayawan) dan Hadi Priyanto (penulis). Dialog dipandu oleh Didin Ardiyansah (seniman). Foto: Amaliyatul HR

Dialog yang  diikuti oleh 100 orang  pelajar, mahasiswa, guru, akademisi, dan tokoh budaya dan masyarakat dari berbagai latar belakang ini menghadirkan narasumber  Prof Dr Alamsyah, S.S, M.Hum (Dekan Fakultas Ilmu Budaya Undip Semarang), Udik Agus DW ( pendidik), Fakrudin Brodin (budayawan) dan Hadi Priyanto (penulis). Dialog dipandu oleh Didin Ardiyansah (seniman)

blank
Kadis Kominfo Arif Darmawan saat memberikan sambutan mewakili Bupati Jepara. Foto: Hadepe

Sekretaris Umum Yayasan Kartini, Indria Mustika dalam pengantarnya mengungkapkan, tujuan dialog budaya ini adalah memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara sekaligus panduan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Kita ingin kembali membangun minat, spirit dan tekad untuk terus menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan jiwa bangsa,” ujarnya.

blank
Andang Wahyu Triyanto, anggota DPRD Jawa Tengah saat menyampaikan sambutan. Foto: Hadepe

Sementara Bupati Jepara dalam sambutannya yang disampaikan oleh Kepala Dinas  Kominfo Arif Darmawan menyampaikan apresiasi setinggi-tinggginya kepada  penyelenggara dan semua yang hadir. Karena dengan forum ini, kita makin menguatkan kesadaran betapa pentingnya Pancasila.

“Pancasila, sebagai dasar negara, adalah warisan ideologis yang lahir dari perenungan mendalam para pendiri bangsa, dan hingga hari ini, tetap menjadi penjaga keutuhan dan keberagaman bangsa kita,” ungkapnya.

blank
Narasumber dialog, Udik Agus DW saat membawakan puisi berjudul “Dimanakah Pancasilaku”. Foto: Hadepe

Menurut Witiarso Utomo, dialog ini sangat sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Jepara, yakni: “Bersama Membangun Kabupaten Jepara yang Makmur, Unggul, Lestari, dan Religius.” Di dalamnya 2 termuat komitmen kita bersama untuk membangun manusia Jepara yang unggul secara karakter, kuat secara budaya, dan tangguh secara moral.

“Ini adalah nilai-nilai yang juga menjadi inti dari Pancasila. Pancasila bukan hanya filosofi negara, tapi harus menjadi nilai yang menghidupkan tata kelola pemerintahan, kehidupan sosial, hingga wajah kebudayaan lokal,” tegasnya

Sementara Andang Wahyu Triyanto, anggota DPRD  Jawa Tengah mengajak semua fihak untuk terus menjaga  nilai dan spirit Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.  “Melalui dialog budaya ini kita ingin menegaskan  pentingnya komitmen menjaga Pancasila dan   merawat semangat persatuan dalam bingkai kebhinekaan,” ungkap Andang Wahyu Triyanto

blank
Sastrawan Jepara Nur Komar saat membawakan puisi “Dibawah Bendera yg Sama”. Foto: Hadepe

Dalam dialog ini para pembicara membahas relevansi Pancasila dalam menghadapi tantangan globalisasi, intoleransi, dan polarisasi sosial yang semakin menguat di tengah-tengah masyarakat. Juga spirit dan nilai Pancasila yang semakin di tinggalkan.

Prof. Dr. Alamsyah  dalam paparannya mengingatkan pentingnya komitmen semua fihak untuk   merawat dan menjaga  Pancasila. Namun ia juga mengungkapkan kegelisahan terhadap internalisasi Pancasila  yang sering kali kita rasakan sangat lemah. “Sebenarnya kita memerlukan role model yang bergerak dari   atas hingga bawah. Namun yang nampak justru ketidak pastian,” ujarnya.

blank
Budayawan Jepara Haru Ananto saat menyampaikan pemikirannya. Foto: Hadepe

“Karena itu dalam dalam konteks individual, kita  tidak perlu menunggu dan mencari role model.  Tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, sebagai proses penanaman dan pemahaman nilai-nilai dasar Pancasila dalam kehidupan  se hari-hari, baik secara individu maupun sosial,” ungkap Alamsyah.  Kita  bergerak dari lingkup kita sendiri,  untuk diri kita sendiri  dan kita laksanakan sendiri.

Peserta dialog tampak antusias berdiskusi, terutama dalam sesi tanya jawab yang membahas isu-isu kekinian seperti peran guru dan pelajar dalam demokrasi, dan pendidikan karakter berbasis Pancasila.

Dalam dialog budaya ini juga ditampilkan Musikalisasi Puisi Oleh Septiana Wibowo dengan judul “Surat Untuk Ayundya Kartini,” karya Arif Khilwa. Disamping itu juga  puisi “Dibawah Bendera yg Sama” oleh Nur Komar dan puisi “Dimana Kutemukan Pancasilaku?” oleh Udik Agus DW, M.Pd.

Hadepe – Septiana Wibowo