blank
Ilustrasi. Reka: wied-SB.Id

Dalam bungkus lila yang bermakna seperti itulah legawa menjadi sangat sarat makna,  yaitu loma, dhemen weweh, tetulung kanthi lila terusing ati; sikap dan sifat murah hati, suka memberi, suka menolong sepenuh hati, tulus. Luar biasa sikap dan sifat orang legawa ini. Pertanyaannya memang,  orang-orang (pejabat??) yang sering dan suka mengucapkan kata-kata legawa, benarkah bersikap dan bersifat seperti itu, ataukah hanya “seolah-olah legawa?”

Pansos, alat ukur

Medsos sangat membantu kita dan memudahkan kita untuk menengarai seseorang betul-betul bersikap dan bersifat legawa ataukah sekedar pansos.Tidak bisa dipungkiri, betapa dewasa ini setiap pejabat pasti memiliki tim jeprat-jepret yang  dalam detik yang hampir bersamaan hasil jepretan itu telah di-medsos-kan ke mana-mana dan di mana-mana.

Jika yang terjadi seperti itu, yakni tanpa pengolahan atau pun pengeditan secara cermat, lalu segera di-medsos-kan, itu sudah dapat dipakai sebagai penilaian awal, jangan-jangan pejabat itu sedang menempuh pansos. Jika betul hanya ingin pansos, pastilah ia bukan tergolong orang yang bersikap dan bersifat legawa.

Baca juga Taktik Apus-Apus: mBangun Tandha

Pengukur lain apakah benar seseorang itu legawa ataukah sekedar pansos, catatlah berapa kali orang itu mengucapkannya. Jika orang setiap kali mengatakan: “Jadilah orang yang legawa,” atau di berbagai kesempatan mengatakan: “Saya legawa mewakafkan sisa hidup saya, ………..” Kita sepantasnya justru harus hati-hati menyikapi kata-kata semacam itu. Ingat, legawa itu bukan soal ucapan bibir atau gestur tubuh belaka. Legawa adalah sikap dan sifat hati, ………kanthi terusing manah.

JC Tukiman Tarunasayoga, pengajar Pengembangan Masyarakat di Pascasarjana UNS Surakarta dan SCU Semarang.