blank
Mikel Arteta. Foto: arsenal.com

blankOleh: Amir Machmud NS

// arsenal, arsene wenger, dan mikel arteta/ tiga “ar” dalam jejak impian/ akankah ini menjadi obsesi?/ atau mantera/ yang mengusung motivasi/ ke habitat juara?//
(Sajak “Mr Arsenal”, 2025)

MEMASTIKAN satu tempat di semifinal Liga Champions 2025, proyeksi apa yang patut disematkan dalam jejak sejarah Arsenal?

Kamis (17 April) dinihari WIB kemarin, Martin Odegaard dkk menghentikan Real Madrid 2-1 (agregat 5-1) di Santiago Bernabeu untuk memastikan menantang Paris St Germain di empat besar, melengkapi kemenangan 3-0 di Stadion Emirates, pekan sebelumnya.

Sukses Mikael Arteta membawa Meriam London ke semifinal Eropa menjadi catatan tersendiri. Selama ini, Arsenal dikenal sebagai “tim nyaris” dalam bingkai “favorit yang gigit jari” untuk meraih trofi, baik di Liga Primer maupun di Liga Champions.

Arteta menggenapi “Ar” dalam “magika” Arsenal – Arsene Wenger – Mikael Arteta. Ya, secara kebetulan, predikat “Mr Arsenal” melekat pada Arsene Wenger, dan apabila Arteta mampu memberikan trofi dan membuka sejarah Arsenal, bukan tidak mungkin dia akan menjadi “Mr Arsenal” berikutnya.

Identik
Arsene Wenger pernah sangat identik dengan Arsenal, klub London Utara yang punya jejak sejarah elite Liga Inggris. Selama 22 tahun mengarsiteki The Gunners dari 1 Oktober 1996 hingga 2018, tiga kali pria Prancis itu mempersembahkan trofi Liga Primer (1998, 2002, 2004).

Dalam perkembangannya, dari suasana bergelimang gelar di era Wenger, kini Arsenal seperti kesulitan untuk kembali meraih kejayaan. Dari 2018 hingga tahun ini, Arsenal telah tiga kali berganti pelatih, dari Unai Emery, Freddie Ljungberg, dan kini Mikel Arteta.

Arteta, yang secara teknis bisa mengembalikan performa Arsenal ke eksotika permainan ofensif, hingga musim 2024-2025 menghadapi “masalah” yang belum terpecahkan. Bagai lika-liku mencari “maqam”, di mana sebenarnya habitat yang paling pantas bagi mereka.

Dari musim ke musim Arsenal menemui realitas ini: impresif memimpin klasemen, namun gagal menuntaskan dengan klimaks sebagai juara. Dari musim 2022-2023, dan 2023-2024, Gabriel Martinelli dkk meraih posisi runner up di bawah Manchester City. Hanya sebagai penantang, dan Arsenal belum berhasil memuncaki klasemen akhir.

Ada-ada saja “gangguan” bagi Arteta, yang seperti Arsene Wenger juga mengetengahkan filosofi permainan rancak mengalir-indah. Musim ini, dia menghadapi problem cedera pemain sebagai kendala.

Arsenal bagai mengalami “sindrom nyaris” di tengah “rasa” yang mereka ekspresikan sebagai “penantang”. Dari musim 2020-2021, 2021-2022, dan 2022-2023, ketika bersiap-siap merayakan gelar, akhirnya mereka menyuram dengan cara menyakitkan.

Hingga pekan kemarin, setelah ditahan seri 1-1 oleh Brentford, mereka tetap berada di urutan kedua klasemen, namun makin sulit mendekat ke Liverpool yang — walaupun kalah 2-3 dari Fulham — tampaknya bakal sulit tergoyahkan hingga menjelang tujuh laga terakhir. Kemenangan 2-1 atas West Ham United memperkokoh The Reds di puncak.

Sementara itu, pada 9 April dinihari WIB lalu, Arsenal tampil kinclong di Stadion Emirates. Mereka menaklukkan Real Madrid 3-0 di leg pertama perempatfinal Liga Champions, lewat kampanye dua free kick indah Declan Rice, dan gol Mikel Merino. Mereka membuat Real Madrid kesulitan di leg kedua, Kamis kemarin. Madrid kalah 1-2.

Pertanyaan yang selalu menimbulkan penasaran, mengapa jagoan London itu selalu terpeleset di saat-saat menentukan?

Mentalitas?
Belum lama ini, berlangsung perdebatan sengit antara dua pandit, Roy Maurice Keane dan Jamie Redknapp, setelah Arsenal bermain imbang 1-1 dengan Manchester United di Old Trafford, 9 Maret 2025 (bola.net, 10-3-2025).

Keane, dengan gaya sinisnya yang khas, meragukan kemampuan Mikel Arteta untuk membawa Arsenal meraih gelar juara Liga Primer, musim depan. Sebaliknya, Redknapp optimistis Meriam London bisa bersaing jika mendapatkan amunisi striker elite.

Jika periode ini Arsenal akhirnya kembali menduduki runner up, atau untuk kali ketiga berturut-turut, menurut Roy Keane, tanpa perubahan signifikan musim depan akan kesulitan bersaing di level elite.

Keane tidak yakin, Mikel Arteta mampu membawa Arsenal meraih gelar juara. “Tidak ada bukti bahwa Arteta dan skuadnya saat ini memiliki mental juara”.

Keane menyoroti kekuatan Manchester City dan Liverpool yang diperkirakan tetap tangguh musim depan. “Arsenal sudah mendekati gelar dalam beberapa tahun terakhir, tetapi City akan kuat lagi tahun depan, juga Liverpool,” ujarnya.

Menurut dia, Arsenal perlu merekrut striker dan memperbaiki mentalitas tim. “Mana buktinya grup pemain ini bisa meraih gelar? Mereka terlihat gelisah setiap kali kalah,” tuturnya.

Sedangkan Redknapp percaya Arsenal hanya membutuhkan satu striker berkualitas untuk kembali menjadi penantang gelar.

Dia optimistis Arsenal bisa menjadi kandidat juara musim depan. Kuncinya, merekrut striker elite yang bisa mencetak gol secara konsisten, sambil mencontohkan jumlah gol striker Liverpool Mohamed Salah sebagai standar yang harus dicapai.

“Apakah striker mereka bisa mencetak 20 gol per musim? Itu yang harus dicari. Dengan stabilitas defensif yang dimiliki, mereka akan sangat dekat musim depan,” ujarnya.

Musim ini, Arsenal dihantam badai cedera. Sejumlah penyerang kunci seperti Bukayo Saka, Gabriel Martinelli, dan Martin Odegaard absen dalam berbagai momen penting. Bahkan, Arteta terpaksa memainkan Mikel Merino sebagai striker setelah Kai Havertz absen.

Keane lebih menyoroti mentalitas tim. “Saya melihat mentalitas mereka, di mana itu?” katanya.

“Arsenal telah membuat kemajuan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi langkah selanjutnya adalah yang tersulit. Apa gunanya finis kedua jika Anda ingin memenangkan gelar?”

Menunggu dari musim 2003-2004 untuk mahkota Liga Primer sejak terakhir kali meraih trofi Piala FA pada 2014, terasa betapa menjadi “kesuntukan” yang konsisten. Panjang, dan lama…

Lagi-lagi, musim kini, secara realistis tampaknya berat bagi Arsenal dalam tujuh pekan tersisa mengejar Liverpool yang kokoh memuncaki klasemen.

Tentulah fokus kini dialihkan ke Liga Champions. Mampukah mereka menuntaskan langkah di ajang Eropa ini, dengan melewati adangan PSG di semifinal, 29 April dan 6 Mei mendatang? Patut dicatat, dalam perjalanan ke empat besar, Les Parisiens mengalahkan dua klub Inggris, Liverpool dan Aston Villa.

Nah, dengan kenyataan ini, bagaimana mewujudkan harapan, suatu ketika, Mikel Arteta akan menerusi Arsene Wenger sebagai “Mr Arsenal” Jilid II?

Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah