JEPARA (SUARABARU.ID)- Tidak berlebihan jika makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin yang terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara menjadi salah satu destinasi wisata religi bagi para peziarah.

Selain menyimpan cerita sejarah peradaban Islam, keberadaan Masjid Mantingan yang dibangun oleh Ratu Kalinyamat sepuluh tahun pasca wafatnya Sultan Hadlirin menjadi bukti wilayah Mantingan merupakan salah satu wilayah yang sering disebut dalam panggung sejarah Nusantara.
Bahkan penobatan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2023 semakin menasbihkan Kota Jepara khususnya Mantingan sebagai tempat yang wajib dikunjungi saat melakukan perjalanan wisata religi.
Namun bagi para peziarah, baik lokal, maupun yang melakukan perjalanan jauh dari luar kota, harus siap-siap gigit jari jika datang di atas pukul 23.00 WIB. Pintu gerbang masuk ke dalam makam akan terkunci rapat karena ada pembatasan jam ziarah, tidak seperti lazimnya makam-makam para wali di tempat lain.
BACA JUGA: Masjid Mantingan Tertua di Jawa Setelah Demak, Persembahan Ratu Kalinyamat untuk Suaminya
Komentar masyarakat pun beragam terkait kebijakan pengurus makam yang berada di bawah naungan Yayasan Sultan Hadlirin Jepara. Mereka rata-rata mengeluhkan pembatasan jam ziarah di Makam Ratu Kalinyamat.
“Saya malah baru tau kalau ada batasan jam ziarah di Makam Mantingan. Padahal saya kalau sedang ingin ziarah, ya ziarah saja. Seringnya di atas jam 23.00 WIB”, kata Hajar Sucipto, salah satu warga Jepara.
Pria yang akrab disapa Cipto ini mengaku punya pengalaman tdak mengenakan terkait adanya pembatasan jam ziarah di Makam Ratu Kalinyamat.
“Saya bersama beberapa jamaah punya kebiasaan setelah usai kegiatan ngaji kadangkala menyempatkan ziarah ke Mantingan. Kami tidak menyadari kalau ada batasan waktunya. Usai melakukan ritual zdikir kami berjalan keluar, ternyata pintu gerbang sudah tergembok. Terpaksa kami keluar dengan memanjat melalui tembok masjid”, ujarnya sambil tertawa.
Senada dengan Sucipto, Suhartono, warga Tendoksari, Tahunan, juga punya pengalaman mengecewakan saat harus kecele ketika sudah sampai makam, namun pintu gerbang sudah terkunci. “Saya bersama kawan dari Bandung, sampai Mantingan pukul 12 malam, ya sudah tidak jadi ziarah”, kenang Suhartono dengan nada kecewa.
BACA JUGA: Keindahan Masjid Tua Mantingan, Dibangun Atas Nama Cinta
Suarabaru.id mencoba menghubungi nomor yang tertera di papan pengumuman yang tertulis: Pelayanan Peziarah, Jam Operasional, Buka: Jam 05.00 WIB – Tutup: Jam 23.00 WIB. Hubungi Petugas Syaikhul Aminin 082322908908 (siang), Sudarso 085225514477 (malam), Saiful Asy’ari 0823148958930 (Malam).
Menurut Syaikhul Aminin, batasan jam ziarah di makam Mantingan merupakan kewenangan Pengurus Yayasan Sultan Hadlirin. “Mohon maaf itu sudah aturan dari pengurus”, ujarnya singkat melalui WhatsApp.
Senada dengan Aminin, salah satu Pengurus Yayasan Sultan Hadlirin yang berhasil dihubungi suarabaru.id juga membenarkan peraturan tersebut.
“Ya, itu memang aturan dari pengurus yayasan. Namun perlu dimengerti bahwa aturan itu kami buat bukannya tanpa alasan. Salah satu alasan pengurus membatasi jam ziarah karena makam Mantingan adalah cagar budaya yang harus dilindungi”, ujar pengurus yayasan bernama Malik, Rabu (16/4/2025).
Menurut Malik banyak kasus pencurian terjadi di kompleks makam. “Pernah ada peziarah malam-malam hendak mengambil salah satu kijing, ada juga yang mengambil kotak amal makam. Pencurinya lari lewat makam Mbah Abdul Jalil (sebelah barat makam Ratu Kalinyamat)”, terangnya.
Lebih jauh ia menambahkan kalau untuk ziarah malam silahkan menghubungi nomor juru kunci yang tertera di papan pengumuman. “Untuk sementara ini memang peraturannya seperti itu, bagi para peziarah pribadi di atas jam 23.00 WIB memang tidak bisa, tapi untuk rombongan dari jauh silahkan menghubungi petugas”, tandasnya.
Kendati demikian, beberapa masyarakat Jepara berharap peraturan pembatasan jam ziarah di makam Mantingan untuk ditinjau kembali. “Kalau pintu makam utama ditutup dan dikunci saya bisa memaklumi karena langsung ke pusat makam. Kalau alasannya keamanan ya ditingkatkan dong penjaganya, biar suasana makam tampak lebih hidup, tidak sepi”, pungkas Cipto.
ua













