blank
Disamping laris menerima order pentas mendalang semalam suntuk, Dalang Ki Lukito sering diminta mendalang dengan Lakon Murwakala, untuk ritual ruwatan.(Dok.Ist)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Jagad pakeliran wayang kulit berduka. Dalang Ki Jlitheng Lukito, Selasa dinihari tadi (15/4/25) berpulang. Ki Lukito yang pernah ikut memecahkan rekor dunia pentas wayang paling spektakuler ini, meninggal dalam usia 62 tahun.

Rekor dunia pagelaran spektakuler wayang kulit yang dicatat oleh MURI tersebut, dilakukan saat mendalang di acara Dies Natalis Ke-41 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, SabtTanggal 18 Maret 2017. Saat itu, menampilkan 11 orang dalang, 111 orang waranggana, dengan kelir sepanjang 62,5 Meter (M).

Pentasnya berlangsung di halaman Gedung Dr Prakosa komplek Kampus UNS di Kentingan, Solo. Sebanyak 11 dalang yang tampil, terdiri atas 10 dalang pria dan 1 dalang wanita. Terdiri atas Ki Kanjeng Gusti Arya Adipati (KGPAA) Sura Agul-agul Begug Poernomosidi, Ki Widodo Wilis Prabowo, Ki Eko Sunarsono, Ki Jlitheng Lukito.

Berikut Dalang Ki Pujono Gumelar, Ki Jedor Sularno, Ki Sigit Warsito, Ki Wahyu Thoyyib Pambayun, Ki Maryono Brahim, Ki Narto Guna Wiyono dan Nyi Wulan Panjang Mas. Mereka mementaskan Lakon Mbangun Candi Sapta Arga.

Selasa (15/4/25), Seniman Pengrawit Mujoko yang juga Guru Kesenian SMP Negeri 4 Pracimantoro, menyatakan, Ki Jlitheng Lukito meninggal karena menderita sakit sementara waktu. Almarhum meninggalkan seorang istri, 3 orang anak dan 4 orang cucu.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Wonogiri, Panggah Tri Asmara SSn, MM, menyatakan, jenazahnya dimakamkan Selasa Pukul 11.00 (15/4/25) setelah mendapatkan tindakan pangrukti loyo (perawatan jenazah) layaknya sebagai Umat Muslim. Untuk kemudian, dimakamkan di pemakaman Jambangan, Desa Sambirejo, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri.

Ki Jlitheng Lukito, dikenal sebagai dalang yang memiliki bakat mendalang sejak usia bocah. Dia merupakan keturunan keluarga dalang. Mulai dari ayahnya, kakeknya, kakek buyutnya, kakek canggah dan ke atas-atas lagi, semuanya berprofesi sebagai seniman dalang wayang kulit.

Mengundang Hujan

Karena lahir dari garis keturunan empu para dalang-dalang, Ki Lukito sering diminta untuk tampil mendalang dalam ritual ruwatan. Baik ruwatan untuk menghilangkan sukerta (aura negatif) yang melilit anak di lingkup keluarga, ruwatan dusun, sampai pada ritual untuk ruwatan bersih desa. Bersamaan itu, Lukito laris menerima order pentas semalam wayangan semalam suntuk.

Saat usia remaja, Lukito, telah berprestasi meraih gelar juara mendalang di tingkat kabupaten. Oleh Bupati Wonogiri Drs H Oemarsono, kemudian dikirim sebagai duta Kabupaten Wonogiri, untuk maju ke lomba mendalang di tingkat Provinsi jateng, dan Lukito berprestasi meraih gelar juara pertama.

Sejak itu, nama Lukito makin berkibar di jagad pakeliran wayang kulit. Masih di era kepemimpinan Bupati Oemarsono (menjabat Bupati Wonogiri dua periode dari Tahun 1985-1995), Lukito setiap kali diminta mendalang di Pendapa Kabupaten Wonogiri.

Suatu saat, Ki Lukito diminta mendalang untuk ritual mengundang hujan. Budayawan Jawa peraih Anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, yang juga Abdi Dalem Keraton Surakarta, menyatakan, saat itu Wonogiri dilanda musim kemarau panjang. Ki Lukito diminta mendalang Lakon Prabu Watu Gunung, sebagai ritual mengundang hujan.

Dalam ritual itu, disertakan pula Gong Pusaka Kiai Mendung Eka Daya Wilaga milik Pemkab Wonogiri, lengkap dengan sesaji dawet cendol sebagai sarana ritual Udan Agung. Usai pentas, Gong (besar) Pusaka Kiai Mendung Eka Daya Wilaga kemudian dipukul, disertai menyebarkan air dawet cendol ke arah atas, dengan senantiasa memohon turunnya hujan kepada Tuhan. Tidak berselang lama, hujan pun turun membasahi bumi.

Sebagai dalang lokal, dia termasuk kondang. Tidak saja pentas di wilayah Kabupaten Wonogiri, tapi juga menjelajah di berbagai kabupaten/kota se Solo Raya dan Jateng. Juga sering ditanggap untuk mendalang ke Jakarta serta kota-kota besar di Jawa, seperti Bandung, Semarang, Surabaya, Malang dan Madiun.(Bambang Pur)