
“Buku ini mengajak kita untuk merenungkan makna pendidikan yang membebaskan, bukan sekadar mengajar, tetapi juga membangun kesadaran, kebersamaan, dan kemandirian,” ujarnya.
Sementara itu, Susilo Adinegoro mengatakan, demi mencapai pendidikan yang memanusiakan manusia, ia berkomitmen untuk terus mendampingi dan bertumbuh bersama anak-anak pinggiran. Di sisi lain, Kaminah, sebagai alumni Sanggar Anak Akar, mengungkapkan kebanggaannya menjadi bagian dari komunitas ini.
“Buku ini mengisahkan perjalanan anak-anak pinggiran yang tidak hanya didampingi dalam belajar akademik, tetapi juga diajarkan untuk peduli dan membantu orang lain. Kami diajak untuk memiliki jiwa sosial dan solidaritas,” imbuhnya.
Memantik Motivasi
Kisah penuh makna dalam buku ini mampu memantik motivasi dan semangat bagi setiap pembacanya. Dalam sesi tanggapan, Arya Raihan dan Reo Bima mengungkapkan bahwa mereka mendapatkan perspektif baru tentang dunia pendidikan. Keduanya sepakat bahwa buku ini sangat bermanfaat bagi semua kalangan sebagai pengingat bahwa pendidikan sejati harus memanusiakan manusia serta menciptakan ruang belajar bersama tanpa ada yang terpinggirkan.
Selain Arya Raihan dan Reo Bima, tanggapan positif juga diberikan oleh peserta lainnya. Salah satunya, Lintang Payagatri Anantoro, mahasiswa Prodi Sastra Inggris FBS, menuturkan bahwa acara ini memberikan banyak pengetahuan dan nilai-nilai hidup. “Acara ini sangat menarik. Saya mendapatkan banyak wawasan dan pelajaran dari pengalaman yang dibagikan oleh para pembicara, khususnya dalam hal menghargai orang lain,” pungkasnya.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang telah terakreditasi Unggul, UKSW terus berkomitmen dalam mewujudkan pendidikan berkualitas. Berdiri sejak tahun 1956, UKSW memiliki 15 fakultas dengan 63 program studi jenjang D3, D4, S1, S2, dan S3.
Terletak di Salatiga, kampus ini dikenal sebagai Kampus Indonesia Mini karena keberagaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, UKSW juga dikenal dengan julukan Creative Minority atau minoritas berdaya cipta, yaitu sekelompok kecil individu yang memiliki kemampuan untuk menciptakan perubahan, menjadi agen transformasi, dan menginspirasi masyarakat.
Acara ini menjadi salah satu bentuk komitmen UKSW dalam berkontribusi mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yaitu pendidikan berkualitas.
Ning S