JEPARA (SUARABARU.ID)- Secangkir kopi panas disuguhkan tuan rumah seraya membawa beberapa buku-buku karyanya. Buku berjudul Puisi Jubah Nabi, Ratu Kalinyamat dan Tiga Guru Sufi Tanah Jawa merupakan tiga karya di antara puluhan buku yang telah dihasilkan Murtadho Hadi.

Di sebuah ruangan untuk mengaji sore anak-anak kampung, pria yang akrab disapa Kang Tadho ini menceritakan perjalanan intelektualnya hingga mampu menghasilkan karya-karya monumental. Meskipun di kampung halamannya sendiri, Jepara. Alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang UIN Sunan Kalijaga) ini tidak banyak dikenal, pun dengan karya-karyanya.
Pria kelahiran Jepara, 12 Mei 1973 tepatnya di Desa Menganti, mengawali karir kepenulisannya sejak masuk kuliah. Besar dari keluarga Nahdliyin, Murtadho menempuh jurusan Fakultas Tarbiyah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kang Tadho juga nyantri di Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede.
Selain nyantri di Pesantren Nurul Ummah, pengembaraan keilmuan dalam dunia pesantren dilakukan Kang Tadho dalam kurun waktu tujuh tahun 1999-2005. Kang Tadho menghabiskan waktu di pesantren Lirboyo, Papar, Kwagean, Pethuk dan Tretek di daerah Kediri serta Cidahu Pandeglang Banten yang diasuh Abuya Dimyati Bin Muhammad Amin Al-Bantany.
“Kebetulan lingkungan saya pada saat kuliah berada di tengah-tengah para penulis hebat, beberapa di antaranya adalah Edi Mulyono pemilik penerbitan Diva Press Yogya, Hamzah Sahal (Founder Alif.id), M. Faizi serta Kuswaidi Syafi’i”, Sastrawan perempuan Ulfatin CH, Abidal El-Khalieqy (Penulis “Perempuan Berkalung Surban”, Syafiq Ali, Hamdy Salad, dii, ujar Kang Tadho memulai obrolan dengan suarabaru.id, Sabtu (23/2/2025).
“Selain bergaul dengan para penulis hebat banyak teman-teman saya yang menjadi pengelola penerbitan buku Lkis Yogyakarta”, tambahnya.
Disitulah gairah menulis Kang Tadho muncul di tengah-tengah para novelis, sastrawan, hingga para pemain teater UIN Suka (sebutan untuk UIN Sunan Kalijaga). Tulisan pertama Kang Tadho dimuat di koran lokal Yogyakarta Kedaulatan Rakyat, Yogya Post dan Minggu Pagi.
Selanjutnya, tulisan-tulisan Kang Tadho mulai menghiasi media koran nasional di antaranya koran Harian Pelita, Suara Pembaharuan, Solo Pos, Republika, Yogya Pos, hingga Media Indonesia. Buku-buku karya Kang Tadho diresensi banyak orang, bahkan Buku Tiga Guru Sufi Tanah Jawa ada beberapa dosen di Universitas Keislaman yang menjadikan sebagai bahan kurikulum tentang “kebudayaan Jawa” dan muatan “kearifan lokal”.
“Kira-kira mulai di tahun 1992 semangat menulis saya tiba-tiba muncul begitu saja. Semua jenis tulisan saya lahap, mulai novel, puisi, biografi hingga esai”, terang Kang Tadho.
Ngenger kepada WS. Rendra dan Keajaiban Menulis
Setelah tulisan-tulisannya dimuat di media nasional, nama Kang Tadho mulai diperhitungkan sebagai salah satu penulis serta sastrawan Yogya. Kang Tadho Bahkan pernah diundang untuk membaca puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, di mana ketika itu ada semacam barometer: keabsahan sebagai sastrawan kalau sudah diundang baca puisi di TIM Jakarta.
Pengalaman lain juga diceritakan Kang Tadho saat mengambil honor dari koran Harian Pelita, “Saya pernah mengambil honor dari koran Harian Pelita langsung ke kantornya di Jakarta. Saya mendapatkan honor 80 ribu di kala itu, Setelah dikurangi untuk beli tiket kereta Yogya-Jakarta saya masih menyimpan uang yang cukup untuk sebulan”, kenang Kang Tadho sambil tertawa.
Kenangan lain juga muncul saat tanpa sengaja dia mengunjungi kantor redaksi majalah Horison di Jakarta. “Saat itu saya bersama sastrawan Mathori A Elwa, ada keperluan dengan pimred Horison. Saat sedang menunggu tiba-tiba kang Mathori ditelpun oleh seseorang. Yang ternyata adalah WS Rendra. Saat itu Rendra adalah sosok yang sedang “ingin berislam secara kaaffah” dan ingin lebih mendalami Islam”, terangnya.
“Spontan teman saya nyeletuk, kalo Rendra sedang mencarii santri ini teman saya siap jadi cantriknya”, tambah Kang Tadho. Alhasil, Kang Tadho diterima di rumah WS. Rendra sebagai cantrik. Tugas Kang Tadho setiap hari menjadi imam sholat berjamaah bersama Rendra. Selama beberapa minggu Kang Tadho nyantrik di rumahnya Rendra.
Sebuah pengalaman spiritual yang luar biasa juga pernah dialami Kang Tadho saat menerjemahkan kitab Burdah karya Syaikh Abi Sa’id atau Imam Al Busiri, dari Mesir. Kitab Burdah adalah kumpulan syair qasidah serta sholawat yang biasa dibaca oleh santri, terutama kalangan Nahdliyin.
“Puncak dari karir kepenulisan saya ketika menerjemahkan Kitab Burdah karya Imam Al Busiri dan Kitab Manaqib Syeh Abdul Qodir Al jailani. Saat itu saya diminta oleh ayah untuk pulang ke Jepara karena beliau bersama ibu hendak menunaikan ibadah haji”, kenang Kang Tadho.
“Saat di rumah itulah saya merasa bosan, karena tidak ada pekerjaan seperti saat saya di Yogya. Saya benar-benar shock culture dengan kampung halaman sendiri”, ungkapnya.
Mulailah Kang Tadho mencari kesibukan dengan mencari buku di kawasan Walsongo Pecangaan, Jepara. Buku yang dia beli adalah kitab Manakib Syeh Abdul qodir Aljailani dan Kitab Burdah karya Imam Al Busri. Dari situlah Kang Tadho mengisi hari-harinya di Jepara dengan menerjemahkkan dua kitab yang biasa dibaca warga NU.
Saat menyelesaikan terjemahan kitab Burdah, Kang Tadho tiba-tiba merasakan kerinduannya kepada Nabi Muhmmad SAW. “Kerinduan kepada Kanjeng Nabi tiba-tiba saya rasakan saat menyelesaikan terjemahan Kitab Burdah. Saya sempat menangis saat menulis syair terakhir dalam kitab Burdah. Keinginan untuk pergi haji saat itu begitu kuat”, ungkap Kang Tadho.
Keajaiban datang setelah orang tua Kang Tadho pulang dari menunaikan ibadah haji. Kang Tadho di tahun berikutnya diberangkatkan ke tanah suci.
“Saat itu di tahun 90 an, ongkos naik haji kisaran 7 juta an. Alhamdulillah terjemahan kitab Burdah dan Manakib yang saya tulis dibeli oleh sebuah penerbit dan dicetak, keinginan saya untuk ke tanah suci juga terkabulkan”, tandasnya.
Karya-karya Murtadho Hadi
Tiga Guru Sufi Tanah Jawa.
Jejak Spiritual Kiai Jampes.
Risalah Badai (Bigraf, 1995).
Taman Sari (1998).
Jazdab :Si Gila di sebuah Pabrik Peraturan (Sebuah Kumpulan Puisi).
Anekdot Sufi Syaikh Abdul Qadir Aljailani (2006).
Burdah: Puisi Jubah Nabi (Terjemahan syair-syair Syaikh Busiri).
Ratu Kalinyamat (Novel Sejarah).
Tirakat Raja (tarjamah Serat Wulang Reh, karya Pakubuwono)
Sastra Hizib (Pustaka Pesantren 2006).
Manisnya Madu Iman (Terjemahan Qamiuth-Thughyan Syaikh Nawawi Tanara al-Bantani).
ua