blank
Para penari sufi Darwis Nusantara PP ailun Najah As-Salafy Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamtan Kabupaten Jepara menggelar acara “ Tari Sufi Kolosal 2024 Sambut Ramadhan Dengan Cinta ” di halaman Masjid Al Makmur Kriyan Kalinyamatan Jepara. Jum’at (08/03/2024).

JEPARA (SUARABARU.ID)- Sambut Ramadhan Komunitas Penari Sufi Darwis Nusatara PP. Nailun Najah As-Salafy Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamtan Kabupaten Jepara menggelar acara Tari Sufi Kolosal 2024 dengan tema “Sambut Ramadhan Dengan Cinta” di halama

blank
Tarian sufi atau whirling darwis atau darwis yang berputar diciptakan Maulana Jalaluddin Rumi pada abad ke 12 di Konya Turki sebagai jalan thoriqoh Mawlawiyah,

n Masjid Al Makmur Kriyan Kalinyamatan Jepara. Jum’at (08/03/2024).

Sejumlah penari sufi, yang tergabung dalam Komunitas Darwis Nusantara PP. Nailun Najah Assalafy Kriyan Kalinyamatan, melakukan tarian sufi sebagai wujud kegembiraan menyambut datangnya bulan suci ramadhan 1445 H di halaman Masjid Al–Makmur Kriyan Kalinyamatan Jepara.

Kegiatan para penari sufi tersebut rutin dilakukan pada hari Jum’at terakhir bulan Sya’ban setiap tahunnya sebagai penanda datangnya bulan Suci Ramadhan  dan diikuti sekitar 20 lebih santri, pentas tari sufi ini sudah rutin diadakan selama lima tahun di setiap Jumat akhir bulan Sya’ban.

Santri yang mengikuti pentas tari sufi ini dari berbagai umur, mulai dari umur 9 tahun hingga orang dewasa. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengespresikan cinta ilahiyah dalam bentuk gerakan darwis berputar tarian sufi sebagai tontonan juga tuntunan, masyarakat antusias menonton acara tersebut.

Gus Muhammad yang akrab dipanggil Gus Mad selaku pengasuh PP. Nailun Najah Assalafy menguraikan sanad  tarian sufi yang dianut oleh para santri PP Nailun Najah Assalafy.

“Tarian sufi ini sudah ada sejak 2010 yang diajarkan dari KH. Amin Maulana Budi Harjono ( Semarang ) bersanad dari Kang Aat (Cafe Rumi Jakarta) dari Syeikh Hisyam Kabbani Mursyid Thariqah Naqsyabandi Haqqani ( USA ) dari Syeikh Nazim Adil Haqqani ( Cyprus ), dan Syeikh Nazim adalah keturunan Maulana Jalaluddin Rumi juga keturunan Sayyidina Abu Bakar”, terang Gus Mad

“Setiap yang ikut belajar tarian sufi diwajibkan ikut mengaji di PP. Nailun Najah Assalafy”, imbuh Gus Mad

Berputar-putarnya para penari sufi bukan sekadar berputar tetapi ada dzikir yang harus dibaca sampai khatam setiap putaran. Tarian Sufi ini terinspirasi dari Abu Bakar Ash Shiddiq, suatu hari ada seorang lelaki menemui Nabi sebagaimana hadits berikut:

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?

Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Abu Bakar Ash Shiddiq yang mendengar hadits itu lalu menemui Nabi untuk konfirmasi tentang hal itu kemudian Rasulullah membenarkannya.

Mendengar itu Abu Bakar Ash Shiddiq sangat gembira hingga menari-nari berputar-putar seperti Tarian Sufi saat ini.

Bagaimana tidak gembira, karena bermodal cinta kepada Rasulullah kita bisa bersama beliau masuk surga.

Sementara itu, Abdul Rohman adik Gus Mad juga seorang penari sufi mengatakan, tarian sufi atau whirling darwis atau darwis yang berputar diciptakan Maulana Jalaluddin Rumi pada abad ke 12 di Konya Turki sebagai jalan thoriqoh Mawlawiyah.

“Jalaludin Rumi mengekspresikan jalan dzikir cintanya dengan cara berputar menari yang diiringi musik genderang, seruling ” Ney ” dan syair-syair sufi untuk mendekatkan diri mabuk cinta kedalam cinta Allah”, ujar Rohman.

Whirling darwis mempunyai gerakan yang bermakna filosofis yaitu : Kedua tangan menyilang di depan dada melambangkan kerinduan sebagai hamba Tuhan, membungkuk adalah salam yang melambangkan kepasrahan, kaki kanan menginjak jempol kaki kiri melambangkan bahwa nafsu haruslah di tekan, berputar berlawanan jarum jam, seperti putaran thawaf, begitu pula putaran partikel elektron di semesta raya, kedua telapak tangan diturunkan sejajar dengan pusar membentuk simbol cinta ” love”, kedua tangan diangkat ke atas seperti bunga sedang mekar berarti seorang darwis harus menebar cinta dimanapun berada, telapak tangan kanan menengadah keatas merupakan bentuk permohonan kepada Tuhan, sedangan telapak tangan kiri menghadap kebawah berarti setelah permohonan kita terijabah maka haruslah ditebarkan kepada sesama makhluk, sepanjang putarannya para Darwis haruslah berdzikir kepada Tuhan ” tegasnya.

Komunitas Darwis Nusantara ini sudah malang melintang ikut mengisi acara dimana-mana di dalam maupun luar kota juga luar jawa, bahkan sudah berkali-kali ikut dalam acara TV Nasional.

ua/muhajir