blank
Susanto petani asal Grobogan yang malang melintang sebagai dokter gadungan. Foto: RBG. Id

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – seorang lelaki bernama Susanto yang mengaku sebagai dokter ini akhirnya harus mengakhiri petualangannya.

Kedoknya terbongkar saat masa kontraknya di RS PHC Surabaya habis dan hendak melakukan perpanjangan.

Susanto yang mengaku dokter ini ternyata pernah meniti karier di Kabupaten Grobogan sebagai dokter gadungan di beberapa instansi di Kabupaten Grobogan.

Susanto pernah mendapat jabatan mentereng di Palang Merah Indonesia (PMI) Grobogan sebagai Kepala Unit Transfusi Darah, dokter wiyata di Puskesmas Gabus dan Direktur RS Habibullah Gabus.

Ternyata, Susanto yang mengaku sebagai dokter ini, namanya tidak terdaftar di Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Aksinya ini terbongkar, namun Susanto buru-buru kabur ke Kalimantan Selatan.

Berulang

Rupanya, di Kalimantan Selatan, aksi Susanto kembali dilakukannya. Ia mendaftar sebagai dokter di RS Pahlawan Medical Center, Kandangan.

Namun, baru lima hari bertugas, Susanto sudah terendus merupakan dokter gadungan. Pasalnya, Susanto terlihat grogi dan hampir salah penanganan saat operasi caesar.

Direktur RS tersebut akhirnya melaporkan Susanto ke pihak kepolisian dan dijatuhi vonis oleh PN Kandangan selama 20 bulan.

Susanto kembali berpetualang melakukan aksinya menjadi dokter gadungan dengan identitas lain untuk meneruskan kontrak di RS PHC di Surabaya.

Di kota Pahlawan inilah, aksi tipu muslihat Susanto akhirnya terkuak.

Sepak Terjang di Grobogan

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Grobogan, dr Djatmiko MAP menjelaskan, Susanto pernah bertugas sebagai Kepala UTD PMI Grobogan selama tiga tahun mulai 2006-2008.

Kemudian, Susanto pernah merangkap sebagai dokter di Puskesmas Gabus di Grobogan dan Direktur RS Habibullah.

“Jangka antara tahun tersebut, saya masih bertugas di Puskesmas dan ketemu dengan beliau hanya pada saat pertemuan saja. Orangnya memang cenderung tertutup,” ujar Djatmiko.

Djatmiko juga menjelaskan, setelah selesai berurusan hukum di Kalimantan Selatan, Susanto kembali mengajukan perpanjangan STR ke IDI Grobogan.

“Waktu itu, Susanto meminta perpanjangan STR ke admin. Namun, admin tidak berani, akhirnya berkoordinasi dengan saya dan pikiran saya tertuju pada Susanto yang dulu pernah di sini. Akhirnya, saya minta yang bersangkutan untuk melengkapi dokumen, seperti ijazah dan bukti keanggotaan sebagai anggota IDI,” ujar dr Djatmiko.

“Sampai sekarang dokumen yang dimaksud tidak kunjung datang ke meja IDI Grobogan,” ujar Djatmiko.

Tamatan SMA

Susanto ternyata hanya menempuh  pendidikan akhir sampai SMA saja dan tidak pernah melanjutkan pendidikan kedokteran.

Lelaki ini beralamat di Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan dan mempunyai pekerjaan sebagai petani palawija di desanya.

Kedok Susanto sebagai dokter gadungan ini terungkap saat hendak memperpanjang kontrak di RS PHC Surabaya sebagai Tenaga Layanan Clinic untuk dokter First Aid.

Diketahui, Susanto mencatut identitas milik dr Anggi Yurikno agar lolos kriteria yang dipersyaratkan pihak RS. Susanto mengirim lamaran dengan mengganti foto korbannya menggunakan potret foto dirinya.

Saat melakukan pengecekan berkas, pegawai RS tersebut melihat tidak sesyainya antara Sertifikat Tanda Registrasi (STR) dengan dr Anggi Yurikno.

Pihak RS PHC melakukan cross check keaslian sertifikat di website hingga ditemukan bahwa Susanto bukan dr Anggi Yurikno.

Sementara dr Anggi Yurikno yang asli bekerja di RSU Karya Pengalengan Bhakti Sehat, Bandung, Jawa Barat.

Tya wiedya

blank
Susanto petani asal Grobogan yang malang melintang sebagai dokter gadungan. Foto: RBG. Id