Bangunan Masalikil Huda sekarang beserta foto Kiai Ahmad Zawawi generasi kedua setelah Kiai Abu Syuja'.

JEPARA (SUARABARU.ID)- Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Masalikil Huda yang terletak di Desa Tahunan, Kecamatan Tahunan, merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Jepara. Di usianya yang menginjak 92 tahun (harlah 15 Mei 2023) ini, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Kiai Abu Syuja’ pada 15 Mei 1931 banyak melahirkan kiai, ulama, serta tokoh masyarakat. Saat ini YPI Masalikil Huda menaungi beberapa lembaga pendidikan antara lain TPQ, PAUD, MI, MTs, hingga MA.

Nama Masalikil Huda sendiri diambil dari perjalanan panjang sang pendiri, Kiai Abu Syuja’, yang dimulai dari menuntut ilmu di beberapa pesantren, merintis tempat ngaji di langgar, hingga mendapatkan petunjuk dari gurunya untuk mendirikan lembaga pendidikan.

Mengapa Kiai Abu Syuja’ memberi nama lembaga pendidikannya dengan nama Masalikil Huda. “Masalikil”mempunyai arti “Beberapa Jalan”, sedangkan “Huda” mempunyai arti “Petunjuk”. Jika dimaknai, Masalikil Huda mengandung arti Beberapa Jalan PetunjukSalah satunya adalah petunjuk dari sang Guru untuk mendirikan lembaga pendidikan.

Rentang waktu 92 tahun (1931-2023) merupakan waktu yang cukup panjang bagi Madrasah Masalikil Huda dapat bertahan, dan tetap berdiri hingga sekarang. Berdiri sejak zaman kolonial Pemerintah Hindia Belanda, Penjajahan Jepang, Madrasah Masalikil Huda mampu melewati dinamika perubahan zaman hingga menjadi salah satu lembaga pendidikan tertua di Jepara.

Selama 25 tahun (1898-1923) Abu Syuja’ muda telah menjelajah, mengembara serta menimba ilmu kepada para kiai-kiai sepuh di tanah Jawa. 25 tahun merupakan waktu yang cukup panjang bagi seorang santri muda asal Desa Tahunan, Kabupaten Jepara ini, sebelum memutuskan untuk mendirikan Madrasah Masalikil Huda. Tercatat, tiga pondok pesantren yang mempunyai tradisi keilmuan agama Islam yang sangat tinggi pernah disinggahi Abu Syuja’ muda.

Pada tahun 1898, Saat usia remaja, tepatnya usia 15 tahun, Abu Syuja’ dikirim oleh ayahnya, Mbah Sarjono ke Pondok Pesantren Bulu Manis, Tayu Wetan. Salah satu pondok yang diasuh oleh kiai sepuh, KH. Sholeh Amin. Kiai Sholeh Amin adalah menantu KHR Asnawi, dan ayah dari KH. Mujib Sholeh dan KH. M. Amin Sholeh pendiri Madrasah Aliyah Hasyim Asy’ari Bangsri, Jepara.

Tidak cukup dengan satu pondok pesantren, Setelah menyelesaikan pendidikan sebagai santri di Bulu Manis Tayu Wetan, Abu Syuja’  muda melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut  ilmu agama. Pilihan selanjutnya adalah Pondok Pesantren Darul Ulum, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur yang saat itu diasuh oleh Kiai Romly Tamim dan Kiai Dahlan Kholil

Sekembalinya dari Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, Abu Syuja’ melanjutkan ke pondok pesantren di wilayah Jepara. Salah satu pondok pesantren tertua, yakni Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadi’in Balekambang, Nalumsari, Mayong, yang diasuh oleh Kiai Hasbullah Hazdiq.

Madrasah Masalikil Huda pada awal didirikan menerapkan sistem pendidikan dengan masuk pagi. Kurikulum yang diterapkan mengadopsi dari pesantren, dengan sistem bandongan dan sorogan. Serta pengajaran kitab-kitab klasik seperti Kitab Sulam Taufiq dan Aqidatul Awwam. Sehingga bisa dikatakan saat itu Madrasah Masalikil Huda mengalahkan Sekolah Rakyat (SR).

Hingga pada suatu ketika Pemerintah Hindia Belanda melarang Madrasah Masalikil Huda sebagai “sekolah arab” untuk masuk pagi. Sempat dicekal dan dilaporkan hingga tingkat pengadilan, namun putusan Pengadilan pada masa itu sangat tidak diduga. Pemerintah Hinda Belanda tetap memperbolehkan Madrasah Masalikil Huda untuk beroperasi dengan masuk pagi. Dengan syarat sore harinya harus masuk Sekolah Rakyat. (Sumber: Sejarah singkat Madrasah Masalikil Huda 2001).

“Pada saat itu belum ada lembaga pendidikan sebaik Masalikil Huda. Muridnya banyak yang berasal dari luar Desa Tahunan. KH. Mahmudi Rais Syuriyah MWC NU Pakis Aji salah satu teman angkatan saya yang berjalan dari desa Bulungan untuk menuntut ilmu di Madrasah Masalikil Huda. Bahkan ada teman saya yang sekolah naik kuda dari Desa Lebak bernama Tasno”, ujar Kiai Mukari Rais Syuriyah Ranting NU Ngabul, alumni Masalikil Huda tahun 1964 kepada suarabaru.id

“Saya tiap hari jalan kaki dari Kosari, Ngabul untuk sekolah di Madrasah Masalikil Huda. Pada saat itu masih di sekolah Mualimin, cikal bakal Madrasah Tsanawiyah Masalikil Huda. Setelah menuntut ilmu di Masalikil Huda saya diberi amanah oleh guru saya Kiai Ahmad Zawawi (menantu Kiai Abu Syuja’ yang meneruskan tongkat estafet Masalikil Huda) untuk mengajar”, pungkas Kiai Mukari.

ua