blank
Seorang ibu sedang mengolah gula kelapa menjadi gula semut. Foto: Dok Affan

“Salah satunya seperti anak-anak muda yang tidak bisa memanjat pohon yang mencapai ketinggian sekitar 30 meter,” kata Affan.

Hingga akhirnya, mereka lebih suka mengandalkan tenaga para orang-orang tua untuk memanjat pohon. Selain itu, ada juga pohon yang masih dalam tahap peremajaan yang dalam waktu dekat belum bisa diproduksi karena masih dalam perawatan.

Dari sisi harga, gula semut atau kristal dihargai lebih tinggi dikisaran Rp 18 ribuan. Sedangkan gula bathok harga jualnya sedikit lebih murah di angka Rp 15 ribuan.

Masa panen gula semut akan terjadi sesuai dari proses penyadapan nira. Ada yang melakukan penyadapan nira secara sendiri, namun ada juga yang disadapkan oleh orang lain.

Untuk yang disadapkan orang lain, akan membutuhkan waktu lebih lama karena lima hari untuk yang punya pohon dan lima hari yang menyadap.

Untuk upahnya tidak dibayarkan dengan uang, melainkan dengan nira. “Jumlah pohon di kebun saya ada 30 batang dikalikan saja 2 ons, itu bisa sampai 6 kg per satu hari. Dalam satu hari ada dua kali panjatan pagi dan sore. Pagi biasanya 3,5kg lebih, dan yang sore 2.5kg, beberapa waktunya seperti manjat di jam 7 sampai 8 pagi atau jam 4 sore,” terang Affan.

Yang menarik adalah selisih waktu memanjat pohon dapat menentukan volume nira. Berkenaan dengan itu, nira tidak ditimbang, melainkan dijual per liter sekitar Rp2 ribu dan jika sudah melalui proses harganya mencapai Rp18 ribu.

Affan menerangkan bahwa ongkos itu belum termasuk dengan pendukung operasional seperti kayu bakar. “Untuk 30 pohon kelapa, ya satu ikat sekitar Rp25 ribu atau bibitan Rp110 ribuan sampai Rp120 ribuan. Untuk satu ikat kayu bakar bisa memasak nira dalam satu hari dan itu baru kayu bakar, belum termasuk tenaga,” jelasnya.

Tya Wiedya