blank
Lionel Messi bersama timnas Argentina, saat merayakan gol ketiganya ke gawang Prancis. Foto: fifa.com

Oleh: Amir Machmud NS

blankPARTAI puncak Piala Dunia tahun berapakah yang menurut Anda “paling gila” dan “menegangkan”?

Pastilah kita punya subjektivitas masing-masing untuk “merasakan” atmosfer sebuah partai final Coppa del Mundo. Dan, justru pada titik itulah kita menemukan haru-biru rasa “keterlibatan”.

Tak akan menegangkan kalau kita tidak “terlibat”. Akan terasa biasa-biasa saja dan berjalan penuh logika manakala kita tidak punya jago, salah satu di antara dua tim yang berduel. Apalagi kalau punya pemain idola, bertambah pula relativitas untuk menghayati detik demi detik laga, dinamika permainan yang tersuguhkan, aneka manuver indah, pelanggaran-pelanggaran, dan semua elemen yang mewarnai pertandingan.

Tanggal 18 Desember, Stadion Lusail Iconic, Doha, Qatar mencatatkan prasasti ketegangan objektif partai final. Mengapa ketegangan objektif?

Kedua tim yang berlaga, Argentina dan Prancis menyuguhkan dinamika pertandingan dengan titik ketegangan ke ketegangan yang bagai tak berjeda. Argentina unggul 1-0 lewat penalti Lionel Messi, lalu menambah gol 2-0 lewat Angel Di Maria. Skor bertahan sampai babak pertama usai.

Saya berpikir, bakal bertambahkah gol Tim Tango? Akankah juara bertahan Prancis demikian mudah ditekuk Lionel Messi dkk? Bagaimana Prancis membalas gol? Bahkan dalam beberapa segi saya memperkirakan, Argentina akan bermain defensif untuk memertahankan skor sampai akhir.

Nyatanya, Prancis perlahan-lahan bangkit, dan akhirnya Les Bleus membalas lewat penalti Kylian Mbappe. Tak berselang lama, Mbappe pula yang menyamakan skor 2-2!

Prancis tersengat bangkit, sementara Argentina harus mengonsolidasi diri untuk keluar dari tekanan. Skor 2-2 bertahan hingga waktu reguler 90 menit tuntas, dan laga diperpanjang 2×15 menit.

Lagi-lagi Argentina memimpin 3-2, dan skor inilah yang tampaknya bakal menutup pertandingan. Tetapi hands ball Gonzalo Montiel membuat wasit Szymon Marciniak menunjuk titik putih. Mbappe pun mengemas hattrick-nya dalam final tersebut.

Skor 3-3 tuntas, dan adu penalti tak terhindarkan. Dalam atmosfer yang sangat menegangkan, Argentina akhirnya memenangi penalti 4-2.

Elemen Ketegangan
“Bunga ketegangan” mewarnai partai pamungkas ini. Pertama, tentu penantian begitu lama, 36 tahun untuk mengangkat Piala Dunia, setelah Diego Maradona dkk meraihnya di Meksiko 1986. Kini Argentina tercatat sebagai negara yang tiga kali juara, masih di bawah Brazil, Italia, dan Jerman yang masing-masing meraih lima kali, empat kali, dan empat kali.

Magnet kedua final Qatar 2022 adalah membaca “takdir” Lionel Messi. Akankah La Pulga pecah telur Piala Dunia dalam turnamen terakhirnya ketika dia sudah berusia 35 tahun? Semua gelar, termasuk tujuh kali Ballon d’Or sudah dia kantungi. Yang belum didapat tinggal Piala Dunia.

Atau dia kembali gagal menyamai seniornya, Sang Dewa Diego Maradona yang mengangkat trofi 1986?

Dan, nyatanya, Messi meraih sukses setelah kegagalan 2006, 2010, 2014, dan 2018. Dia juga melengkapi gelar sebagai Pemain Terbaik, sama seperti yang dia raih pada 2014, meskipun saat itu Argentina digagalkan Jerman 0-1.

Ketiga, Prancis sedang mengejar rekor setelah Brazil sebagai juara yang mampu mempertahankan gelar. Pada 1962, setelah sukses 1958, Tim Samba mempertahankan gelar, dan itulah satu-satunya kisah sang juara bertahan yang sukses dalam empat tahun kemudian.

Kelima, ambisi Kylian Mbappe yang digadang-gadang sebagai calon pemain terbaik dunia menggantikan Messi. Duel Mbappe dan Messi mewarnai “perang pemain satu klub Paris St Germain”. Walaupun Mbappe tak kalah menonjol dengan mencetak tiga gol, dan Messi dua gol, akhirnya sang senior-lah yang keluar sebagai pemenang.

Final “Paling Gila”
Lalu, final Piala Dunia paling “gila”, pada edisi keberapakah?

Dari segi keindahannya, duel Brazil vs Italia di Meksiko 1970 yang berakhir 4-1 disebut-sebut tak tersamai oleh seluruh final sejak 1930. Tim Samba hadir dengan para seniman sepak bola lengkap. Pele dkk bahkan disebut-sebut sebagai “tim terbaik sepanjang masa”.

Final 1974 antara tuan rumah Jerman Barat melawan Belanda juga melegenda. Dengan para pemain berkarakter seperti Franz Beckenbauer, Wolfgang Overath, Rainier Bonhof, Berti Vogts, Guenter Netzer, Gerd Mueller, dan Paul Breitner, mereka menghadapi Belanda yang tengah berkibar sebagai “tim total football” asuhan Rinus Michels. Belanda, dengan kilau Johan Cruyff, Ruud Kroll, Johan Neeskens, serta Wiem van Hanegem, menyuguhkan laga seru dan menegangkan. Jerman menang 2-1.

Sukses Argentina empat tahun kemudian di depan publik sendiri melahirkan catatan final menegangkan. Daniel Passarella dkk menundukkan Belanda 3-1 melalui perpanjangan waktu. Duel keras, sarat manuver, dan pertunjukan momen-momen berkelas menciptakan ketegangan tersendiri.

Partai puncak 1990 dikenang sebagai laga Piala Dunia yang medioker. Jerman memenangi final melawan Argentina dengan 1-0 melalui penalti Andreas Brehme. Final itu di bawah kualitas 1982 Italia-Jerman, dan 1986 Argentina-Jerman.

Pertemuan Brazil-Italia di Amerika Serikat 1994 dan Prancis-Brazil 1998 meninggalkan banyak memori, namun dari aspek keindahan final 2002 di Jepang antara Brazil vs Jerman akan dikenang sebagai parade seniman Samba. Oleh pelatihnya, Luis Felipe Scolari, Selecao sebenarnya tidak di-setting memainkan sepak bola indah, karena dia adalah orang yang pragmatis dan fungsional. Nyatanya, Ronaldo, Ronaldinho, Kaka, Rivaldo, Kleberson, Ricardo Carlos, dan Cafu tak kehilangan naluri sebagai artis-artis Samba. Brazil menang 2-0.

Final Italia vs Prancis 2006 menjadi memori tak terlupakan karena insiden “tandukan” Zinedine Zidane ke dada Marco Materrazzi. Empat tahun kemudian di Afrika Selatan, hadir tim tiki-taka Spanyol yang juara dengan penuh keelokan. Laga final melawan Belanda yang dimenangi 1-0 layak dicatat dari aspek ketegangannya.

Empat tahun kemudian, kegagalan Lionel Messi untuk pecah telur trofi Piala Dunia mewarnai haru-biru final melawan Jerman. Messi yang dari babak grup hingga semifinal tampil mengesankan, gagal menjadi pembeda di partai final.

Di Rusia 2018, Albiceleste malah lebih awal dipulangkan oleh Prancis. Laga final Prancis-Kroasia menyajikan pertarungan yang layak dikenang, meskipun tidak mengapungkan atmosfer ketegangan seperti Argentina-Prancis. Namun, bagi fans Prancis dan Kroasia, ceritanya tentu berbeda.

Final tahun ini, agaknya bakal menjadi topik yang tak habis dipercaturkan ketika kita mengenang “final-final gila” Piala Dunia.

Amir Machmud NS; wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah