Istilah phubbing mulai muncul dari fenomena banyak orang yang mengabaikan rekan, keluarga yang berhadapan langsung karena lebih asyik dengan ponselnya.
Memaknai phubbing akan dekat dengan cara berkomunikasi secara interpersonal di era digital ini. Dalam artikel Determinantas Of Phubbing, Which Is The Sum Of Many Virtual Addictions: A Structural Equatin Model, Engine Karadag, et. al (2015) menjelaskan jika phubbing adalah konsep yang membuat seseorang tidak menghormati orang lain karena lebih mementingkan telepon genggam dan lingkungan virtualnya dari pada orang-orang dikehidupan nyata.
Terdapat beberapa ciri phubbing yang terbagi menjadi 4 yakni Menatap Smartphone pada saat berkomunikasi dengan orang lain di dunia nyata, mengabaikan komunikasi yang berlangsung, ketergantungan pada smartphone, dan sedikit tatap muka saat interaksi dengan orang lain di dunia nyata.
Hasil penelitian dari Karadag, E., Tosuntas, S. B., Erzen, E. & dkk tahun 2015 dengan judul Determinants of phubbing, which is the sum of many virtual addictions: A structural equation model dalam Journal of Behavioral Addictions menemukan beberapa faktor yang mempengaruhi phubbing yaitu adiksi pada smartphone,internet, media sosial, game online dan pengaruh lingkungan.
Dalam etika berkomunikasi yang dilakukan secara langsung terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak “menyakiti” lawan bicara, pertama ialah fokus pada lawan bicara, kedua tidak menimpali pembicaraan dan ketiga adalah fokus pada permasalahan yang dibicarakan.
Namun demikian jika seseorang “melakukan” phubbing dapat dikatakan tidak memenuhi etika berkomunikasi tersebut, karena pada kenyataanya saat berkomunkasi orang tersebut hanya hadir secara fisik namun perhatiannya sepenuhnya teralihkan ke Smartphone.
Mengatasi phubbing dengan Virtue Ethics
Manusia sebagai zoon politicon yang tidak dapat berdiri sendiri tentu memerlukan kehadiran orang lain dalam kehidupan sosialnya. Menjadi manusia modern dengan memiliki hak istimewa perkembangan teknologi yang pesat tidak jarang menimbulkan dilematis tersendiri.
Dalam fenomena phubbing jelas jika melakukan chatting saat proses komunikasi tatap muka berlangsung mejadikan interaksi yang terjadi kurang mengesankan dan terasa kurang nyaman.
Lalu apa yang dapat dilakukan? Salah satu refleksi yang dapat dilakukan mengenai fenomena phubbing adalah dengan virtue ethics. Tentu dalam tulisan ini, penulis tidak akan menelisik dengan dalam mengenai virtue ethic.
Namun marilah kita ambil dari bagaimana virtue ethics dengan kita sasarkan dengan kebijaksanaan praktis dalam berkomunikasi tatap muka.
Virtue ethics yang dikembangkan oleh Aristoteles memandang jika etika kebajikan berfokus pada karakter baik seorang individu manusia. Dalam pandangan Aristotles nilai etika tumbuh melalui praktik kebiasaan yang baik sehari-hari.
Jika Virtue ethics ini kita hadapkan dengan fenomena phubbing akan di dapati beberapa paraktik berkomunikasi yang baik agar tidak “menyakiti” lawan bicara.
Terdapat memberikan cara dalam mengatasi phubbing baik untuk diri sendiri maupun “membantu” orang lain untuk dapat menghentikan phubbing. Pertama usaha dalam mengatasi phubbing untuk diri sendiri agar menjadi role model yaitu melakukan pembataan interaksi dengan smartphone hal ini penting dilakukan terutama saat berbicara secara langsung di dunia nyata.
Selanjutnya ialah tidak memainkan/pengecekan Smartphone saat melakukan kegiatan lainnya misalnya saat makan dan berkomunikasi dengan orang lain secara langsung, Ini bukan soal multitasking tetapi menodai suasana berkomunikasi.
Selanjutnya ialah belajar meninggalkan Smartphone sebentar pada saat melakukan aktivitas ringan di rumah misal saat mencuci atau sekedar santai rebahan. Kedua, ialah “membantu” orang lain untuk dapat menghentikan phubbing yaitu dengan dengan menegur secara langsung pada saat terjadi percakapan namun orang tersebut “sibuk” dengan smartphone –nya. Selanjutnya ialah berempati pada orang yang “melakukan” phubbing
Virtue ethics dalam phubbing perlu ditegakan demi kenyamanan saat berkomunikasi. Kebijaksaan dalam berkomunikasi dapat menjadi pondasi dalam harmonisasi antara manusia dan teknologi tersebut, manusia sebagai “penguasa” teknologi tentu dapat menerapkan keterampilan yang disertai dengan kebijaksanaa dalam praktis komunikasi.
Tentu ini bukan hal yang mudah, namun jika saat berkomunikasi tatap muka kita melakukan phubbing kita sadar bahwa tindakan tersbeut ialah “menyakiti” orang lain. Sebagai manusia modern yang hidup dengan fasilitas teknologi yang maju, Mari berpikir lebih rasional dengan menerapkan Virtue ethics agar saat berkomunikasi secara langsung di dunia nyata dengan orang lain menjadi menjadi lebih efektif.
Yayuk Hidayah, Dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.











