Jadon Sancho (kanan) saat menandatangani kontrak bersama Ole Gunnar Solskjaer di Manchester United. Foto: Instagram @manchesterunited

Oleh: Amir Machmud NS

// hanya ada satu Manchester/ hanya ada satu warna: merah/ adakah yang lain hanya berisik?/ kau tahu hanya ada biru/ warna yang kini mengharu biru…// (Sajak “Dua Warna Manchester”, 2021)

SIAPAKAH representasi Manchester?

Dalam psikologi klub sepak bola, yang bermain adalah warna. Di Kota Manchester, hati warga terpilah dalam merah atau biru.

Sementara itu, Merseyside terbagi dalam dua komunitas: merahnya Liverpool, atau birunya Everton. Sama dengan hati warga Milano yang terbelah, menjadi pendukung Rossoneri atau Nerazzurri. Atau di Kota Roma, warna pun bersitegang: AS Roma yang merah bata, dan Lazio yang biru langit.

Warna adalah hati. Hatimu menunjukkan warnamu. Ekspresimu bisa terbelah ke mana berasosiasi. Dalam sepak bola, warna menyalakan permusuhan yang membara, menciptakan drama-drama manusia.

Demikianlah, dulu Alex Ferguson punya seutas kalimat satiris yang memperparah intensitas perseteruan antara United dan City. Dia bilang, “Manchester City hanya tetangga yang berisik”.

Namun serasa begitu cepat konstelasi itu berubah. Kini City tak hanya berisik, malah telah sukses mengubah warna, dari kota yang merah menjadi kota yang juga membiru.

Yes, Manchester is blue! Begitulah fans Manchester City meneriakkan provokasinya.

Dalam psikografi sepak bola, klaim itu diperkuat oleh capaian yang dari musim ke musim kompetisi menunjukkan progres merebut teritori, yang lantaran hamparan sejarah, tentu tak sejengkal pun direlakan oleh Manchester United.

Paling aktual, pada musim ini, pergerakan rivalitas kedua Manchester di Liga Primer itu menuju ke arah pembangunan tim, yang antara lain menunjukkan sikap dan kekuatan ekonomi pilar-pilar penyangganya.

The Citizens mantapkan stabilitas tim, sedangkan The Red Devils menambal lubang-lubang yang dalam beberapa musim terakhir ini masih menyisakan celah.

*   *   *

APAKAH Pep Guardiola adem ayem saja di bursa transfer? Bahkan kepindahan Sergio Aguero ke Barcelona pun tidak langsung direspons dengan mendatangkan figur setara untuk mengganti?

Tentu tidak sekalem itu. Katakanlah, rumor keinginan menggaet Harry Kane memang belum ter-follow up-i dengan negosiasi-negosiasi. Namun apabila Kane dipertahankan oleh Tottenham Hotspur, City menyiapkan opsi Robert Lewandowski dari Bayern Muenchen, atau Romelu Lukaku dari Internazionale Milan.

City juga dikabarkan meminati gelandang genius Jack Grealish (Aston Villa), dan Declan Rice (West Ham United); namun pergerakan konkret di bursa transfer tentang kedua pemain tersebut belum terkonfirmasi.

Kondisi sebaliknya berlangsung di kubu Manchester Merah. Seolah-olah terjadi pembalikan, Theatre of Dream menjadi pusat keberisikan belanja pemain, sebagai ungkapan perlawanan untuk mendekonstruksi stabilitas Pasukan Etihad.

Edinson Cavani, kekuatan kunci plus pada musim lalu, masih bertahan. Kini Ole Gunnar Solskjaer sukses mendapatkan sayap impiannya, Jadon Sancho.

Dengan penyerang asal Borussia Dortmund itu, MU punya tridente berekspektasi tinggi. Dua lainnya adalah Marcus Rahsford dan Mason Greenwood. Tinggal formasi berapa penyerang yang nanti jadi pilihan dalam skematika Solsjkaer.

Salah satu masalah pada dua musim sebelumnya adalah lini bertahan. Peningkatan performa bek kiri Luke Shaw, antara lain bersama tim nasional Tiga Singa di Euro 2020 tentu menjadi berkah tersendiri.

Selain Aaron Wan Bissaka yang relatif stabil, MU butuh pendamping bagi sang kapten, Harry Maguire. Upaya membeli Raphael Varane dari Real Madrid dan Kieran Tripper dari Atletico Madrid merupakan bagian dari opsi Solskjaer untuk memperkuat bek tengah. Dua andalan lainnya masih Eric Bailey dan Victor Lindelof.

Di lini tengah, Solskjaer punya sejumlah gambaran. MU tak bisa terlalu berharap pada Donny van de Beek yang tak kunjung nyetel. Namun menahan keinginan pergi Paul Pogba merupakan langkah penting. Bagaimanapun, kapasitasnya paling setara untuk mendampingi sang metronom Bruno Fernandes.

Di sektor ini MU juga dikabarkan meminati Eduardo Camavinga (Rennes) walaupun sudah punya Fred, Daniel James, Scott McTominay, dan Juan Mata. Apalagi ditambah Jesse “Lord” Lingard yang menemukan kembali bentuk terbaiknya selepas masa peminjaman di West Ham.

Saya masih meyakini, dua musim sebelum ini MU dan Solskjaer menjalani proses transisi menuju pematangam penampilan. Dan, periode 2021-2022 ini, dengan materi pemain yang makin berkedalaman, merupakan point of no return bagi pelatih asal Norwegia itu. Prestasi juara tahun 2013 pada musim pamungkas Fergie sudah terlalu lama untuk penantian bagi pencapaian puncak berikutnya.

David Moyes, Louis van Gaal, dan Jose Mourinho punya titik-titik raihan masing-masing. Van Gaal dan Mou juga memberi trofi untuk Setan Merah. Bahkan sejauh ini, Solskjaer-lah yang belum mempersembahkan gelar apa pun.

Memerahkan Kota Manchester merupakan jawaban satu-satunya. Itulah ukuran: sejatinya The Baby Face Assassin itu figur yang tepat menggantikan Sir Alex atau tidak.

Dan, bersama Jadon Sancho, mampukah Ole Gunnar Solskjaer?

Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id, kolumnisolahraga, Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here