Oleh: Amir Machmud NS
// setiap bintang punya waktu/ apakah setiap waktu punya bintang?/ cahaya yang memancar/ sebagai penerang//
(Sajak “Bintang dan Eranya”, 2025)
SETIAP bintang punya masa. Dan, setiap era punya sinar yang mencahaya.
Ya, bisa dipahami, Lionel Scolani kesal setiap kali ditanya wartawan: apakah Lionel Messi bakal tetap tampil di Piala Dunia 2026?
Dalam usia 39 pada 2026, kapten tim Argentina itu diperkirakan masih mampu menjaga kebugaran, memimpin tim berjuang mempertahankan trofi yang diraih di Qatar, empat tahun lalu.
Scolani tidak menjawab dengan kata-kata. Pelatih tim nasional Albiceleste itu memberi bukti dengan kemenangan telak 4-1 atas rival abadinya, Brazil dalam laga prestisius di Buenos Aires, 26 Maret lalu. Messi tidak masuk tim karena kendala kebugaran.
Artinya, Scolani tidak memasalahkan, skuadnya diperkuat oleh Messi atau tidak. Kebergantungan kepada La Pulga, sejauh ini, hingga Piala Dunia 2022 membuat Scolani meracik skema dengan Messi sebagai sentral. Peran sang kapten sangat menentukan: sebagai pengatur serangan, penggerak, inspirator, dan pencetak gol-gol penting.
Dengan semua kelebihan yang dimiliki sebagai The Greatest of All Times (GOAT), Messi menjadi tempat bergantung tim di level klub — kini di Inter Miami di MLS –, maupun timnas.
Pusaran kondisi skuad yang diperkuat Messi sama dengan tim yang terkait dengan Cristiano Ronaldo. Usianya sudah 40, namun CR7 masih dibutuhkan timnas Portugal dan diandalkan sebagai sumber gol oleh klubnya sekarang, Al Nasr di Liga Pro Saudi.
Sejauh ini, kebergantungan kepada dua pemain besar itu — termasuk respons dunia sepak bola — masih sangat besar; tetapi dari hasil laga Argentina vs Brazil tempo hari, tampaknya isyarat alam mulai bicara: Argentina harus mandiri “disapih” oleh Messi, dan perlahan-lahan Portugal pun harus berani mengetengahkan skema bermain yang tanpa Ronaldo.
Karisma
Yang mula-mula terasa, pastilah tim yang tanpa mereka bakal kehilangan cahaya, karisma yang memancar dari sang figur sentral.
Bayangkan, sekian persen keseganan para pemain di dalam tim Argentina akan terpengaruh apabila Leo Messi absen. Bakal dirasakan hilangnya kepemimpinan yang menginspirasi, umpan-umpan yang “mengatur”, dan tiadanya “nyawa tim”.
Kepercayaan diri para pemain lawan juga bisa terpicu, karena tidak menghadapi sosok disegani yang memberi “perbedaan”.
Skema tanpa Messi yang memorakporandakan Brazil, boleh jadi juga karena Vinicius Junior cs diliputi sikap over-confident bisa mudah menjinakkan Argentina.
Padahal bukankah sang waktu punya cahayanya sendiri?
Dalam skuad Lionel Scolani saat ini, sejumlah pemain muda sedang berproses menuju kematangan. Dari Julian Alvarez, Enzo Fernandez, Alejandro Garnacho, Gary McAllister, Giuliano Simeone, hingga Claudio Echeverri. Argentina tidak kering bakat, walaupun tidak mudah menemukan talenta sedahsyat Diego Maradona dan Lionel Messi.
Peralihan generasi adalah “sunnatullah”, kondisi yang harus terjadi. Waktu akan bergeser, ditandai antara lain oleh kealamiahan faktor usia yang dihadapi Ronaldo dan Messi.
Persoalannya, apakah ekosistem sepak bola akan memberi ruang yang kondusif untuk proses peralihan itu, seperti yang bersubstansi sama dengan proses-proses di bidang kehidupan lainnya?
Menjadi Batasan
Sehebat apa pun seorang pemain, faktor kebugaran sebagai bawaan kondisi fisik akan menjadi titik batasan.
Messi dan Ronaldo sudah termasuk pemain yang “melawan alam”, sebagai penerus nama-nama yang selama ini dikenal sebagai pengecualian, mampu bertahan hingga menjelang usia 40: Wielfred van Moer, Dino Zoff, Paolo Maldini, Fransesco Totti, juga Robert Lewandowski.
Suatu saat, sepak bola harus menerima kenyataan Ronaldo dan Messi pensiun, berhenti “menyihir” dunia dengan eksepsionalitasnya.
Dunia menunggu generasi baru yang akan menggantikan. Kita mulai menggadang-gadang Lamine Yamal, Jude Bellingham, Kobbie Mainoo, Cole Palmer, Arda Guler, Ibrahim Rabbaj, Jamal Musiala, juga masih banyak permata lain yang belum muncul ke permukaan.
Hasil 4-1 Argentina-Brazil menjadi isyarat bahwa timnas Argentina telah menyiapkan diri bermain tanpa kebergantungan kepada megabintangnya.
Seiring dengan itu, kita menunggu siapa yang segera mengambil alih singgasana Messi dan Ronaldo. Membangun era baru. Tidak harus dari Argentina dan Portugal, tetapi bisa dari belahan dunia lainnya…
— Amir Machmud NS; wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah ===