Acara sebar ketupat di event Syawalan Bakda Kupat Tahun 2023 di objek wisata tirta Waduk Gajahmungkur Wonogiri. Di dalam selongsong ketupat diberi kupon berhadiah aneka barang menarik.(SB/Bambang Pur)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Bakda Kupat atau Lebaran Ketupat, dikenal sebagai event wisata perayaan Syawalan. Event ini, digelar selang sepekan setelah Hari-H Lebaran Idul Fitri. Ada yang menyebutkan, Bakda Kupat dicipta oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali yang hidup di Zaman Kerajaan Demak Bintara.

Tapi sejarah mencatat, keberadaan ketupat di Nusantara telah ada sejak Abad Ke-4 di zaman Kerajaan Hindu-Budha. Berdasarkan buku Makna Ketupat dalam Upacara Telung Bulan di Denpasar (Karya Ni Made Yuliani dan I Ketut Wardana Yasa, 2020), ketupat telah diperkenalkan sejak zaman Hindu-Budha.

Penyebutan kupat, akupat, dan khupat-kupatan tercantum dalam Kakawin Kresnayana, Kakawin Subadra Wiwaha dan Kidung Sri Tanjung. Sebagai masyarakat yang hidup di negeri agraris, saat itu ketupat merupakan bagian dari bentuk pemujaan terhadap Dewi Sri. Dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris di Nusantara.

Di Zaman Raja Raden Fatah yang berkuasa di Kesultanan Demak Bintara, kupat memiliki definisi arti ngaKU lePAT atau mengakui kesalahan. Direpresentasikan sebagai laKU paPAT, yakni lebaran (sebagai pintu maaf atas dosa), luberan (berharap berlimpah rezekinya), leburan (menghanguskan segala kesalahan), dan laburan (menjadi putih bersih atau kembali fitri).

Kupat kemudian menjadi simbol perayaan Hari Raya Islam pada masa pemerintahan Raja Raden Fatah di awal Abad Ke-15. Kupat terbuat bahan beras yang dimasukkan ke dalam anyaman janur (daun muda pohon kelapa) kemudian dimasak layaknya menanak nasi. Bentuk kupat persegi empat bermakna Kiblat papat lima pancer, sebagai cerminan keseimbangan alam dan menjadi kiblat 4 (catur) arah mata angin.

Spektakuler

Oleh Sunan Kalijaga, kupat dijadikan bagian dari budaya yang memiliki makna filosofi Jawa ngaKU lePAT (mengaku salah), untuk selanjutnya saling bermaaf-maafan di Hari Lebaran. Dalam perkembangannya, kupat menyebar ke seluruh pelosok Nusantara, sebagai hidangan baku saat merayakan Lebaran di Tanah Air. Dilengkapi lauk sambel goreng dan opor ayam serta krupuk udang. Tradisi ini, ada yang dibawa murid Sunan Kalijaga ke Semenanjung Melayu.

Manusia sebagai makhluk homo festivus atau makhluk yang senang mengkreasi untuk aktualisasi diri, pintar mencipta berbagai festival atau perayaan yang bernuansa keagamaan. Contohnya, seperti perayaan tradisi Syawalan Bakda Kupat misalnya.

Di Taman Rekreasi Jurug Solo, ada tradisi Bakda Kupat yang dimeriahkan dengan pelayaran Rakit Joko Tingkir yang menghilir di Sungai Bengawan Solo. Di Kabupaten Jepara, ditradisikan dengan Lomban Perahu di Laut Utara. Di Objek Wisata Tirta Waduk Gajahmungkur Wonogiri, Minggu (6/4/25) besok, akan diadakan tradisi ritual Sebar (berbagi) Kupat Syawalan. Direktur BUMD Giri Aneka Usaha, Harsono, menyatakan, diantara selonsong ketupat yang disebar ke pengunjung, di dalamnya ada kupon dengan beragam hadiah menarik.

Budayawan Jawa peraih Anugerah Bintang Budya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM yang juga Abdi Dalem Keraton Surakarta, menyatakan, Bakda Kupat merupakan tradisi yang bersifat local wisdom. Pranoto yang mantan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga Kabupaten Wonogiri, pernah mengangkat event Bakda Kupat di Objek Wisata Waduk Gajahmungkur secara spektakuler.

Kupat yang akan disebarkan ke pelancong Waduk Gajahmungkur di event Bakda Kupat Syawalan, terlebih dahulu diterbangkan mengangkasa oleh Atlet Gantole yang mengenakan busana Tokoh Wayang Satriya Pringgondani Gatotkaca. Sebagian lainnya, kupat dibawa oleh kawanan wanara (kera) Pimpinan Senapati dari Kendalisada, Anoman (kera putih), yang melakukan pelayaran di perairan Waduk Gajahmungkur Wonogiri.(Bambang Pur)