blank
Suji Pamungkas menunjukkan salah satu hasil kreasi kain lurik produksinya kepada Ganjar Pranowo. Foto: dok/ist

Cara Suji merupakan bagian dari pengembangan ekonomi kreatif anak muda, yang harus terus didukung. Mengangkat potensi lokal, kemudian nilainya ditingkatkan dengan inovasi.

”Sekarang lurik Klaten berkembang bagus, tidak seperti dulu yang tebal dan panas dan digunakan sebagai baju adat. Sekarang bisa dipakai umum, dan designnya anak muda banget,” imbuhnya.

Ganjar menyatakan, akan terus mendorong inovasi dan kreasi anak-anak muda di Jateng. Selain pendampingan, pihaknya juga telah membuat ruang khusus menampung kreasi anak-anak muda bernama Hetero Space.

BACA JUGA: Peringatan Harsiarnas ke 88 digelar di Solo

”Kalau mau bicara design, bisa masuk Hetero Space. Kalau kesulitan akses modal, maka kami dekatkan. Ada KUR dan ada Bank Jateng yang siap memasilitasi. Kalau cara pemasarannya sulit, kami bantu agar bisa masuk ke marketplace-marketplace raksasa Nasional. Pasti itu bisa nendang, tinggal disiapkan kualitas dan design yang bagus saja,” pungkasnya.

Sementara itu, Suji mengungkapkan, akan terus berinovasi dalam mengembangkan batik lurik miliknya. Saat ini saja, tak kurang dari 100 produk mampu dijual selama sebulan.

”Itu di luar pesanan. Jadi minatnya cukup tinggi. Selain dari Nasional, pernah ada warga Belanda yang membeli produk kami,” imbuh Suji.

BACA JUGA: Bupati Magelang Bacakan LKPj Tahun 2020; Realisasi Pendapatan Realisasi 96,28 Persen

Dia menyebutkan, tertarik mengangkat lurik karena memiliki nilai historis yang tinggi.

Selain itu, potensi lurik menurutnya bisa dikembangkan lebih jauh, dibanding hanya sebagai jarik gendong atau pakaian adat semata.

”Saya ingin anak-anak muda ke mall itu pakai lurik berani. Dengan design yang cocok, mereka merasa lebih trendi. Tentu saya akan terus kembangkan dengan design dan ciri khas yang lebih banyak,” ucapnya.

Riyan-Sol